Penjelasan, Menerima, Kebenaran

Saya mengutip kalimat pertama dari tulisan di bawah ini dari novel Manjali dan Cakrabirawa karya Ayu Utami.

Ada beberapa hal yang tabu, yaitu yang ketika diucapkan dia akan kehilangan maknanya. Ada beberapa hal yang ketika diucapkan akan menghancurkan segalanya. Ada pula beberapa penjelasan yang tak perlu dijelaskan karena ia hanya akan mengaburkan, bukan menjernihkan.

Saya menyadari tidak segala hal dapat dan perlu dijelaskan. Terkadang penjelasan hanya akan terasa sebagai pembenaran. Tidak adil untuk lawan bicara kita. Terkadang menerima begitu saja apa yang dikatakan lawan bicara dapat lebih menjernihkan. Kalau pun bukan masalahnya yang menjadi jernih, setidaknya hati dan pikiran kita yang jernih.

Belajar untuk tidak terlalu banyak menjelaskan juga mengajarkan kita tentang penerimaan, kerelaan, pengertian atas apa yang dirasakan orang lain. Orang yang terluka karena apa yang kita lakukan tidak perlu dan tidak ingin mendengarkan penjelasan. Mereka hanya ingin kita ikut memahami apa yang mereka rasakan. Bagi saya semua itu masuk akal. Tidak memberikan penjelasan dan bantahan apapun terasa lebih menenangkan. Saya belajar memahami perasaannya, saya belajar mengerti kekecewaannya, saya mencoba melihat dari kacamatanya. Saya salah dan saya harus mengaku. Saya meminta maafnya dan saya merelakannya.

Menerima tanpa melontarkan beribu penjelasan menjauhkan kita dari congkak, perasaan bahwa kitalah kebenaran sekalipun benar kita yang benar. Menerima membuat kita memahami bahwa pemahaman kita tak pernah sama, penafsiran kita tak pernah serupa. Menerima mengajarkan bahwa tidak semua perasaan dapat kita jaga, tidak semua hati dapat kita pikat, tidak semua diri dapat menerima.

Bila itu untuk suatu kebenaran kecil yang kalau pun tiada tak apa-apa, lupakanlah sejenak penjelasan. Terimalah segala kata-katanya dengan rela, berdamailah dengan hatimu lalu hatinya kemudian berjalanlah kembali. Entah dengan tetap bergandengan tangan atau justru berpisah jalan. Terimalah dengan kesadaran bahwa kebenaran itu ada, hanya belum waktunya.