Terakhir yang Ajaib

Terakhir kali kita bertemu, Sayang,
Aku masih melihat gemintang itu jadi binar matamu.
Mereka berdansa, melodis,
Merebut hatiku kembali dengan magis.
Itulah, Sayang, alasanku menghindarinya.

Saat terakhir kamu tersenyum padaku,
Aku tahu mentari sedang terbenam di cakrawala untuk kemudian menyingsing fajar di lekuk bibirmu.
Indah… Dan menjanjikan harapan untuk hari depan.

Saat terakhir itu, Sayang,
Tak sedetikpun terlewat tanpa aku jatuh cinta kepadamu.
Segelas teh tawar kucecap anggur surgawi.
Di depanmu segala kisah adalah bermakna,
Segala biasa menjelma permata.

Saat terakhir bertemu itu,
Saat pertama bertemu dulu,
Bahkan saat kita tak bertemu ini,
Gemintang tak henti berkedip,
Mentari tak alpa menyingsing,
Jagat raya tak lelah berbisik,
Adalah keajaiban menjelma dirimu.
Dan cintaku jatuh padamu lagi dan lagi.

Advertisements

Menggugat Ragu

Apalah maksud takdir mempertemukan kita lalu menghempaskannya tak bersisa?
Aku bertanya-tanya adakah ia menyadari dalamnya ingatan yang kau torehkan di sekujur ragaku, jiwaku.
Kau adalah kilatan dalam badai,
Mengguncangku lalu meninggalkanku termangu,
Tak pernah lagi sama.

Apakah maksud suratan tangan membuatku merelakanmu lalu mempertemukan kita dalam rindu seenaknya?
Aku meraba-raba bilakah ini ujian atau pertanda.
Bila ujian, sungguh tak mampu aku mengalahkannya,
Karena saat menatapi kedalaman matamu, aku tahu di sanalah kedamaianku bermuara, pertanda.

Apakah maksud jagat raya karena aku memujamu sepenuh hati namun tak diijinkannya aku mengimanimu?
Tak pernah ia tahu betapa perih kemungkaran itu.
Dan aku terpenjara dalam keimanan dan pemujaan
Tidak kulihat ada jalan lain kecuali yang sepi dan dingin itu.

Wahai, takdir, suratan, dan jagat raya!
Aku tak hendak menentang, aku tak hendak bertanya
Tentukanlah pilihanmu atas hidupku: ujian ataukah pertanda.
Bangunkan aku dari keguncanganku dengan deraimu, bebaskan aku dari pemujaanku dan tuntunkanlah cahaya.
Aku percaya firasat, aku percaya pertanda,
Dan yang aku rasa hanyalah keraguan.

Malam

Malam terasa berat
Udara melayang entah ke mana, mampat.
Ada ragu yang menari, lalu sepi.
Menakar perasaan, adakah ia layak diucapkan atau sebaiknya dibiarkan tertidur seperti semesta malam ini.

Berdiri di sini, dengan janji terucap,
Aku takut ingkar, aku takut bebal
Tidak penuhi janji, tidak mendengarkan hati
Adakah janji atau hati yang lebih berarti?

Lalu malam terasa berat
Karena padanya kenyataan terhampar
Keraguan tanda ketaklayakan
Lalu bagaimana aku menghadapi fajar?
Adakah hatiku atau perasaannya yang harus kupilih?
Sesungguhnya tak layak menimpakan bebanmu pada orang lain
Tapi di manakah beban itu sejatinya?
Di pundakku atau di pundaknya?
Sebagaimana cinta itu,
Di hatinyakah yang meruap hingga ke penjuru semesta
Atau justru di hatiku?