Catatan Tentangmu

Bila kau mampu melihat ke dalam hatiku,
Niscaya hanya biru yang dapat kau lihat
Hatiku telah menjelma samudera,
Dari rintik-rintik rasa yang mengalir sejak hari pertama kita bertemu mata.

Bila kau sudi membaca kisahku,
Adalah keajaiban yang kau temukan
Bukan karena kuat, bukan sebab tabah
Ingatan akan dirimulah yang memberi harapan
(Yang kudengar manusia tak bisa bertahan tanpa harapan)

Bila ada yang bertanya:
Bilakah diriku mampu melewati hari demi hari dengan senyuman?
Akan kujawab:
Adalah inginku agar kelak bersinggungan jalan denganmu,
Membuatku tegak berjalan ke depan sembari tak henti mengenang dan mengingat.

Dirimu paradoks:
Tangis tawaku
Keputusasaan dalam harapan
Kemarin sekaligus hari depan yang menguatkan saat ini
Pahit dan manis
Tanya yang entah kapan akan berjodoh dengan jawaban
(Entah adakah jawaban yang berjodoh?)
Racun dan antidot
Seluruh jiwa dan setengah matiku
Rasa yang mematikan rasa
Kegilaan yang menjaga kewarasan
Dirimu… Ah, bagaimana mengatakannya?
Dirimu.. Satu nama yang sejuta kata pun tak mampu menjelaskannya.
Yang satu tatapan akan terbaca seluruhnya.
Dirimu.. Ya. Dirimu.