Hari Secangkir Kopi

Langit di luar sangat indah, sayang
Tak inginkah kau kemari dan menikmatinya sebentar?
Akan kujerangkan kopi
Kuhidangkan kue keju dengan bluberi
Selanjutnya giliran tawamu kunikmati.

Senja telah turun dan malam naik ke panggung
Sebentar lagi akan ia tunjukkan bintang-bintang
Itu bukan gemintang, katamu, itu pelita yang tertanam di tulang-tulang bangunan.
Tak apa, batinku, toh mereka membiaskan kerlip dari matamu.

Malam melarut dalam cangkir kopimu yang dingin
Diamlah sebentar lagi, sayang
Langit baru hendak memulai kisahnya
Belum pernah kudengar dongeng tentang putri dan kahyangan,
Gemintang dan rembulan
Sebentar lagi, sayang, sebentar saja.

Oh, mentari terbangun sesaat lagi
Akan disibaknya kerai-kerai
Aku harus pergi, katamu, mimpi memudar bersama pagi.
Aku tersenyum.
Akan kutunggu saat kau kembali.
Kupandangi hingga tak terlihat lagi
Cangkir kopimu mengembun di sudut pipi.

Perpisahan

Penaku beku, kataku kaku
Aku mencari namun tak jua bertemu
Ada kekosongan yang menjadi hantu
Melayang-layang membunuh waktu

Tertegun menyadari malam
Rintihan hujan tanpa ampun menghunjam
Aku sudah kehilangan
Aku sudah terpisahkan
Bintangku sudah dimakan awan

Bisa apa aku tanpanya?
Penaku beku, kataku kaku
Hanya dengannya sajakku berima
Penaku berdansa
Kehilangannya menyisakan kekosongan yang menjadi hantu
Yang melayang-layang membunuh aku