Catatan dalam Sepi

Malam

Senja turun, malam bangkit dari tidur
Derik jangkrik
Derai sungai
Helai angin
Memikat, mengikat
Raga terduduk terkesima
Sementara jiwa melayang ke mana-mana
Terapung-apung, memasrahkan diri pada keheningan.

Langit

Ada malam yang membentang
Tak bertepi
Tak terjangkau
Namun tak jua berjarak
Ia memeluk sembari membeku di tempatnya
Ialah angkasa, pekat, hitam
Namun disimpannya damai yang tak terhingga
Seumpama menghayati rasa dalam dekapan bunda
Kecil, tak berdaya
Namun kita selalu tahu kita tak akan terluka.

Bintang

“Apakah hadiah untuk anak yang baik?”
Tanyaku pada langit yang membeku

Ia tersenyum dengan ketenangan yang menumbuhkan kagum
“Tunggu, tunggulah sebentar. Tunggu hingga mendung ini sirna.”
Dibiarkannya angin mengelusnya mesra
Dengan sabar dilepaskannya awan
Gumpalan kapas angkasa itu berjatuhan.

“Lihat, lihatlah Anakku! Inilah hadiah untukmu.
Untuk kesabaranmu menanti malam,
Untuk kesediaanmu menepikan ego,
Untuk keheninganmu sepanjang hari,
Untuk kerelaanmu menundukkan kepala di hadapan semesta.
Ini, inilah hamparan gemintang!
Seumpama pasir di lautan
Tenang, tenanglah. Kau tak akan tenggelam.
Karena telah kau kosongkan penatmu,
Kini aku bisa mengisimu kembali dengan butiran kedamaian sebanyak gemintang yang kau lihat.”

Nyepi 12 Maret 2013

Advertisements

Rumah

Bolehkah aku singgah selamanya?
Rumahku jauh
Tak akan pernah terjejak.

Tidak. Sejauhnya rumah ialah layak untuk ditempuh
Hanya dirimu yang kau sakiti
Bila selamanya singgah.

Sudah terlalu jauh aku berjalan
Terlalu banyak yang kutinggalkan
Pada rumah yang tak terjejak
Sesekali akan kukunjungi
Kupandangi dari seberang setapak
Bila rindu datang menyerbu.

Rumah adalah tempatmu pulang
Sarangmu saat lelah bertualang
Ranjangmu merajut cinta tuk hadapi dunia.

Sejauhnya aku berjalan
Segirangnya aku di jalanan
Seleganya aku melayang di udara
Seriangnya bercengkerama
Dengan langit, rembulan, hujan, dan bunga-bunga,
Aku selalu rindu rumahku
Aku hanya menemukan damai di rumahku
Di buram mata jendelanya
Di bibir pintu kata-katanya
Di rengkuhan lengan-lengan sofanya
Menyandarkan lelah di ranjangnya.

Tapi rumahku bukan rumahku
Rumahku tak terjejak
Rumahku telah berpenghuni
Matanya, bibirnya, lengannya, hatinya.
Aku hanya bisa memandanginya dari seberang
Rumahku, rumahku tak terjejak
Damaiku, damaiku tak terhela
Bagai rintik hujan yang berpulang pada samudera
Aku rintik yang jatuh di hamparan pasir dan tenggelam, singgah
Tapi hatiku
Rasaku
Jiwaku
Rinduku
Hidupku
Semua berpulang pada samudera
Semua berpulang pada rumahnya
Rumahku, dirinya, kasihku
Tak peduli ia tak pernah terjejak ragaku
Semua akan pulang saat senja merangkul malam
Setia menyusuri suratan.

Ps. Terima kasih telah memercikkan bunga api hingga jadi nyala bernama puisi.

Lelaki Bunga Api

Lelaki itu mengayunkan langkahnya
Seirama dengan degupku
Detak jantung
Detik mengeja
Jangan menoleh!
Rapalku dalam diam
Atau jantungku akan meledak
Membuncah bunga api ke angkasa.

Lelaki itu menyapu udara dengan lengannya
Acuh
Detak jantung
Detik mengeja
Hingga bisa kulihat helai oksigen tersibak jemarinya
Putera mahkota dalam jubah kebesarannya
Melambai indah dalam gerakan lambat.

Lelaki itu berhenti di sampingku
Oh, tidak!
Detak jantung. Berpacu.
Detik mengeja. Teramat lambat.
Terlalu lambat… Hingga dunia terdiam.
Aku terdiam.
Jubah udara terdiam.
Lalu kau sebut namaku dalam senyum.
Yang kuingat ada bunga api indah sekali berhamburan di angkasa.