Suatu Malam

Entah manakah yang lebih buruk:
Perih yang menggigit di perut
Atau hati yang koyak dipagut rindu?

Dengan apa rindu terobati?
Tawa dan kehadiran kah?
Sementara di dekatnya sekalipun
Rindu terus beranak-pinak
Semesta tertawa
Sementara aku setengah bernyawa untuk ada di sana.

Bilang pada malam untuk rehat sejenak
Minta perih untuk berhenti menggigit
Sebentar saja
Biar aku menatap matanya
Mengawetkan garis wajahnya dalam kaleng kepalaku
Aku tahu dengannya hidup tak mudah
Tanpanya tiada yang mudah.
Satu pintu yang tak risau untuk membuka
Walau kuhabiskan hidup dengan mengetuknya
Aku gentar
Aku gemetar
Tak sanggup berbalik dan menantang dunia
Sendirian.

Sisa 11 Mei 2013

Advertisements

Malu

Aku malu memohon pada-Mu, Tuhan,
untuk yang satu ini.
Selain karena sudah terlalu banyak,
yang satu ini tidaklah biasa.
Aku juga tak yakin Kau akan senang mendengarnya.

Aku malu, Tuhan, untuk meminta lagi pada-Mu.
Pemberian-Mu sudah terlalu banyak
untuk ukuran diriku yang lebih banyak alpa
daripada jumpa.

Aku malu, Tuhan, sungguh malu.
Aku tak bisa memohonkan ini pada-Mu.
Tuhan, ia tak menyembahmu
Aku pastilah tak tahu malu bila meminta-Mu
memasangkanku dengannya.
Bagaimana bisa? Bagaimana tega?
Jadi, kutahan lidahku saat berdoa,
kutelan lagi setiap kata-kata
agar yang satu ini tak pernah terpanjat.

19 Mei 2013

Garis

Mari kita tarik sebuah garis
Sebuah garis, Sayang, yang memeram definisi
Kelak ketika ia ranum,
Akan kita sadari dinding yang berdiri.

Dinding, Sayang, banyak yang dibangun saat ini,
Kalau bukan kotak kardus,
Tempat kita bersembunyi
Menghindari takdir,
Menyerah pada saat-saat sulit.
Dinding dan kotak kardus, apalah bedanya kini.

Beda, Sayang, adalah mantra keramat kita
Sihir yang mengandung pastu
Adakah Ibu yang salah mengandung
Ataukah kita yang bersaudara tiri dengan dunia, norma?

Para Tuan konon menuliskan norma
Untuk menarik garis,
Garis yang sedang kita tarik, Sayang,
Agar ras manusia terhormat dan terjaga.
Dan dunia hitam putih ini bukan dunia kita
Kita adalah abu-abu bila tak segera kita tarik garis ini.

Kadang aku merasa kita tak ditakdirkan jadi manusia.

8 Mei 2013
7:45 WIB
Di atas Pulau Jawa

Kedatangan

Akan pulangkah aku saat itu?
Iya, aku akan datang
Tapi hanya padamu
Bukan kota, bukan nama
Hanya kamu, satu rumahku.

Aku akan datang
Tapi tak musti pulang
Hanya bila kau di sana
Mengantarkan fajar
Memeluk dengan senyuman.

Aku rindu..
Iya, aku akan datang
Tapi hanya padamu
Datangku kupanggil pulang.

Kopi Kultur, 27 April 2013
Diiringi Pohon Tua