Bungkusan Kecil di Atas Lemari

Apa itu bungkusan kecil di atas lemari? Saya yakin kita semua punya bungkusan kecil yang entah diletakkan di atas lemari, di sudut kamar, atau mungkin di bawah ranjang.

Ada beberapa bungkusan kecil di atas lemari di dalam kamar. Isinya perlengkapan bayi. Iya, perlengkapan saat Dema belum sebesar ini. Selain baju, ada juga selimut, popok, celana yang sudah kekecilan, bahkan kasur kecil tempatnya berbaring dulu. Semua dijejalkan ke dalam kantong-kantong plastik dan diikat rapat agar tak berdebu (tapi saya yakin debu masih mampu menjangkaunya).

Mama yang melakukan semua itu dengan dibantu saya. Selain untuk memberi lebih banyak kelegaan pada lemari baju Dema yang sekarang beranjak dewasa, isi bungkusan-bungkusan kecil itu akan dapat digunakan lagi saat Dema memiliki seorang adik. Saya tersenyum mendengar alasan yang terakhir itu. Walaupun hal itu mungkin terjadi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin tidak terjadi sama sekali, tanya saya pada Mama saat itu. Mama mengangguk mantap mengiyakan. Suatu saat pasti akan ada gunanya, ujar Beliau saat itu.

Bagi saya bungkusan kecil di atas lemari tak ada bedanya dengan secarik memori. Iya. Kita suka mengemas memori, entah menyenangkan atau meresahkan, di dalam kotak kaleng bekas biskuit yang lalu kita letakkan di atas lemari, di sudut sepi, atau di bawah ranjang di dalam hati. Entah karena kita merasa berat untuk membuangnya atau tak mampu melupakannya. Kita menyimpannya agar sejenak terlupakan. Kelak pasti akan ada gunanya. Seperti kata Mama.

1 Agustus 2013
#CeritaDariKamar

20130801-052318.jpg

Advertisements

Chairil, Lelaki di Panggung, dan Kau

Puisi ini yang kedua kutulis untukmu
Sebab aku tak bisa lupa suaramu yang meningkahi lelaki di panggung itu.

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.”

Aku menyimakmu.
Ada warna yang kukenali di situ,
Yang biasanya kau temui saat menyelam di palung sepi di bawah matahari yang menari-nari: damai yang sunyi.

“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Lelaki di panggung memerintahnya, kau melagukannya
Di sini di belakang telingaku
Ia langsung menggali tempurung kepalaku dan berdiam diri di sel memori.

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.”

Aku tersenyum.
Aku tahu di balik punggungku kau pun.

Juli 2013

Sambil menggemakan Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar

Bandara

Senja mulai turun. Jakarta perlahan menyalakan pelitanya. Lampu-lampu jalan berpendar sekaligus, membentuk untaian panjang mutiara yang bercahaya. Kotak-kotak jendela satu per satu menyala, menyisakan sosok hitam gedung-gedung yang susah payah mencakar langit. Tanpa gemintang di langitnya, Jakarta adalah gulita yang sempurna di kala malam. Sesekali rembulan singgah mengucap salam. Tapi kali ini tidak ada rembulan, bintang-bintang juga tak muncul seperti biasa. Langit pekat, entah oleh hari yang beranjak malam atau asap kendaraan yang berpesta pora di jalanan.

Aku melempar pandanganku dari jendela. Hotel Pullman berlalu di sebelah kiriku. Aku tak pernah bisa hapal seluruh jalanan di Jakarta. Tapi aku tahu bila hotel ini telah terlewati, bandara akan tertempuh sebentar lagi. Aku menatap jalanan lurus di hadapanku. Sepi. Lalu lintas lancar. Nyaliku ciut membayangkan bandara akan muncul sesaat lagi.

Kuhela napas. Kedua penumpang di kursi belakang tertidur. Radio memutar iklan-iklan yang tak bisa jelas kudengar. Sunyi menggantung. Aku merangkulnya dengan buas. Aku akan terjaga dan menikmatinya. Aku akan merasakan dan mengingat rasa setiap detiknya. Aku tak ingin melewatkan satu pun. Aku tak mau menyesal lagi.

Terdengar ketuk nada yang kukenal bersenandung dari balik radio.

“Ah, Pulang-nya Andien.. Kok bisa pas, ya diputar ketika kamu mau pulang?” Aku menoleh padamu. Kau pulas bibirmu dengan senyum takjub yang tipis, bercampur sepercik tawa yang ditahan. Tapi di antara gelapnya ruang di antara kita, aku bisa melihat matamu berpijar. Hangat.

“Iya..” Lirih sambil kualihkan mataku dari matamu dengan canggung. Jawabanku melayang pelan sebentar di udara lalu lenyap seperti gelembung sabun tipis yang ditiup terlalu lama. Andai saja kamu tahu, aku tidak setuju denganmu. Aku tidak sedang berjalan menuju rumah, kamu tidak sedang mengantarku pulang. Kita sedang menjemput perpisahan.

Aku mendengar senandungmu. Perlahan dan merdu dari balik kemudi. Aku tergerak. Aku tahu ini lagu kesukaanmu, kesukaanku juga. Aku sudah menemukan pulangku dan tahu aku bukan pulangmu. Aku menoleh padamu. Kamu bersenandung dengan sepenuh hati. Tak urung aku tersenyum. Tak lama senyumku jadi tawa. Lalu bernyanyilah kita dalam gelapnya mobil yang sesekali diperciki cahaya lampu jalanan.

“Hari ini, Sayang, aku akan pulang. Berlabuh di dekap pelukmu. Karna pelukmu akan selalu membuat diriku jatuh cinta..” Kita tertawa sambil berpandangan. Aku tak ingin pulang. Di sinilah rumahku, di bawah teduh matamu, di hangat sapa dan tawamu.

Lagu kita berlalu. Gerbang besar bandara terlihat menyongsong kita di kejauhan. Kuhela napasku. Kusiapkan diriku untuk menghadapi perpisahan yang semakin mendekat, nyata di pelupuk mata. Kamu masih bersenandung, mengikuti irama lagu jazz di radio yang tak aku ingat lagi judulnya. Aku cuma ingin mendengar suaramu selagi aku bisa. Telingaku mereguknya dengan rakus, otakku memutar kumparan pita memori menyimpan timbre suaramu, hatiku.. Hatiku hancur sementara itu.

“Kita sudah dekat, Tan,” katanya.

“Iya.” Aku tahu itu, Ferdi.

“Anak-anak ini tidurnya lelap sekali. Hahaha.” Ujarnya. Kedua sahabatku yang tertidur di kursi penumpang memang tak menunjukkan tanda-tanda terlibat dengan lingkungan sekitarnya sepanjang perjalanan ini. Aku ikut tertawa.

“Aku bangunin mereka dulu.” Jawabku sambil menoleh ke belakang. Kubangunkan mereka. Kusampaikan bandara sudah dekat dan sudah saatnya mereka bersiap-siap. Mereka menggeliat dan ketika sudah sepenuhnya sadar, mobil ini mendadak dipenuhi canda dan tawa. Hilang sudah sunyi yang canggung namun mendamaikan, diam yang khusyuk dan dipenuhi pemahaman. Aku tertawa bersama mereka karena kamu juga tertawa menyambutnya.

“Kita parkir di sini saja, ya. Pintu terminalnya sudah terlihat dari sini,” katamu sembari mengambil petak kosong di lapangan parkir. Pintu terminal memang terlihat jelas dari sini. Silau dipenuhi cahaya. Kontras dengan tempat kami memarkir mobil yang mendapat penerangannya hanya dari lampu tua yang menjulang sendirian di ujung petak lainnya. Satu per satu koper kami diturunkan dari dalam bagasi mobil. Dan setelah memastikan tak ada yang tertinggal, kita berjalan menuju terminal keberangkatan yang penuh cahaya itu.

“Sampai di sini saja, ya Ferdi,” ucapku padamu di depan pintu terminal keberangkatan. Kamu menyerahkan koperku padaku lalu tersenyum.

“Terima kasih banyak, ya Ferdi untuk tour de Jakartanya!” Seru Rissa, sahabatku, sambil menjabat tanganmu dengan hangat. Kau membalasnya dengan senyuman yang tak kalah hangat.

“Sama-sama, Ris. Hati-hati, ya,” balasmu, “dan hati-hati juga, ya Yanti,” lanjutmu pada Yanti yang berdiri di sampingku. Kau menjabat tangannya.

“Terima kasih, Fer. Senang sekali bisa berkenalan denganmu,” balas Yanti. Kepalaku tertunduk. Aku hanya memandangi tangan kalian yang berjabatan. Sebentar lagi giliranku. Ada kabut kelabu menggantung di mataku. Sial, batinku, selalu seperti ini. Kamu mengalihkan pandangan kepadaku. Kutatap matamu seperti perpisahan yang terakhir dulu.

“Terima kasih,” bisikku sambil menjabat erat tanganmu. Kamu masih menatapku. Bibirmu menyunggingkan senyuman. Matamu menyingsingkan fajar, sementara kabut kelabu melayang di antara mataku. Kamu anggukkan kepala. Tangan kita masih bertautan. Oh, Tuhan, jadikanlah kiamat pada hari ini, pada detik ini, agar selamanya seperti ini. Agar dunia berakhir saat jemari kami bertautan, tak terpisahkan. Tapi langit tak runtuh, bumi tak jua terbelah, kiamat ternyata tak turun hari ini. Jabat kita pun mengendur. Tangan kita terlepas dengan canggung. Lebih canggung lagi karena aku harus menyeka ujung mataku dengannya. Kabut yang terbit itu telah jadi embun di sudut mataku. Aku tertawa canggung. Kamu tertawa mafhum. Kamu sudah pernah mengalami ini sebelumnya, bukan? Saat kita berpisah di pemberhentian bus waktu itu, saat kamu menatapku dari dalam bus hingga menghilang di ujung jalan, atau saat berikutnya ketika giliranku yang berada di dalam bus, melambai padamu sambil mendengar suaramu dari telepon genggamku. Kamu berusaha menghiburku, aku berusaha tersenyum walau air mataku tak kunjung surut. Kita masih berbicara di telepon walau lambaianku tak lagi bisa kau lihat. Aku menghilang di ujung jalan, suaramu menghilang di nada sambungan telepon yang terputus.

“Jangan menangis, Tania,” ucapmu sambil menepuk lembut kepalaku. Aku tertawa kecil sambil menyeka pipiku. Aku mengangguk. Kutatap matamu untuk yang terakhir kalinya. Tak ada pelukan, tak ada kecupan diam-diam. Kamu tersenyum lalu berbalik pulang. Kamu tinggalkan punggungmu yang menjauh untuk kupandangi. Kamu sudah pergi. Inilah perpisahan itu.

Sedikit gemetar aku berbalik. Kedua temanku sudah menunggu. Kutarik koperku dengan gontai menyusul mereka. Setelah melewati beberapa pos pemeriksaan, duduklah kami di ruang tunggu. Waktu boarding masih tiga puluh menit lagi. Rissa dan Yanti melontarkan beberapa candaan yang tak begitu kuperhatikan. Aku hanya tertawa sekenanya. Sebagian jiwaku tak di sana, melayang entah ke mana. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kuambil tasku dan segera kubuka kancingnya untuk mencari ponselku. Saat itulah mataku beradu tatap dengan sepotong kertas tebal berwarna kuning gading cantik yang sedari tadi terlupa. Di bagian penerima tertulis namaku. Di atasnya tercetak inisial berwarna emas, F dan E, Ferdi dan Ela, mempelai wanitanya.

Juli 2013

Tawa Kita

Kau bilang dunia ini kejam,
aku bilang semesta ini pelawak terbaik.
Bahkan saat ia mencabikku dengan candanya yang satir
Aku masih tertawa,
Aku akan tetap tertawa walau tanpa sadar jemariku menyeka pipi.

Kau bilang duniaku berjalan terlalu lambat,
Aku bilang duniamu yang begitu bersemangat
Memompa darahku hingga kulminasi,
bergerak, untukku, adalah meditasi.
Kau tertawa, kau memuja duniaku (bukan aku) sementara aku ingin tinggal di duniamu, denganmu.

Kau bilang akan mengantarku pulang,
Aku bilang kita sedang menjemput perpisahan
Kau menyanyikan lagu tentang kepulangan dengan senyuman
Karena ini sesuai denganmu, katamu.
Aku tertawa.
Aku tahu aku telah mahir menyekap isak di antara gerak peristaltik kerongkongan.

Kau tidak lagi berkata-kata,
Aku terus bercerita.
Aku mengaku, aku bilang cinta padamu.
Aku bilang kau hidupku, kepingan terakhir yang melengkapi gambar besarku.
Kau diam, gulita menelan kita dalam-dalam.
Kau tinggalkan punggungmu yang menjauh setelah sebelumnya mengecup bibirku diam-diam.
Kamu pergi.
Aku tertawa.
Dan tanpa sadar jemariku menyeka pipi.

30 June 2013

Jika Cinta Adalah Anak Jiwa-Jiwa

Jika cinta adalah anak jiwa-jiwa,
Kau pastilah hidung belang dan bukan orang tua.
Hanya benih yang kau tanam
Untuk kukandung hingga purnama keenam.

Jika cinta adalah anak jiwa-jiwa,
Aku ialah ibu tunggal yang menafkahi anaknya saat ayahnya tak ada.
Kau adalah ayah yang tiada.

Jika cinta adalah anak jiwa-jiwa,
Ia sudah kehilangan nafasnya saat berusia dua,
Saat kau memutuskan berhenti berusaha,
Dan membiarkanku menulisi pusaranya.

Jika cinta adalah anak jiwa-jiwa,
Kau adalah suami yang tega,
Kau semayamkan jasadnya di hatiku saja
Yang juga telah mengandung dan memelihara hidupnya.

Jika cinta adalah anak jiwa-jiwa,
Hatiku sudah lebur bersama tubuhnya,
Nelangsa bertanya-tanya
Tenangkah arwahnya jika tahu ayahnya siapa?

5 Juli 2013