Teh Saja (Bukan Kopi)

Kali ini seduhlah secangkir teh saja
Coklat kemerahannya akan menghangatkan, kurasa.
Seperti pagi yang datang lagi
mengusir buruknya mimpi.

Kali ini seduhlah teh saja
Jadikan ia manis dengan menambahkan gula
Aku lelah dengan luka
pula getirnya hidup dengan asa.

Kali ini tinggalkan kopimu
Biasanya sesudahnya aku akan kehilangan dirimu.
Kali ini aduklah secangkir teh saja
Mungkin setelahnya kita bisa bersama.

30 Agustus 2013

Buku Catatan

20130823-214254.jpg

Buku catatan model seperti ini biasanya kita sebut dengan nama binder. Binder ini memang hanya semacam map yang kemudian kita isi dengan loose leaf atau kertas yang biasanya dijual terpisah. Saya membeli binder ini karena seorang teman kantor membelinya lebih dahulu. Jadi, ceritanya saya tertarik dengan binder miliknya. Binder tersebut tidak seperti kebanyakan binder yang dijual di toko buku. Sampul binder ini terbuat dari kain dan agak empuk dan tebal. Belum lagi desain gambarnya yang lucu-lucu. Ternyata teman saya itu membeli binder lucu itu di kawan kuliahnya yang menjualnya secara online. Saya pun ditunjukkan model-model dan gambar sampul binder yang tersedia.

Setelah memilih-milih, saya pun menjatuhkan pilihan pada sebuah binder bergambar menara Eiffel itu. Sebenarnya saya sudah memiliki sebuah buku catatan hadiah dari toko kosmetik langganan saya. Tapi, saya merasa buku catatan itu terlalu berat dan tidak praktis dibawa. Jika saya membeli binder yang jumlah kertasnya bisa saya atur, pastilah beban di dalam tas saya dapat sedikit berkurang. Saya berencana menggunakan binder ini untuk mencatat dan menulis puisi, catatan, ide cerita, apa pun itu. Rasanya pasti menyenangkan bila memiliki satu buku penuh berisi draft puisi, cerpen, atau sekedar kalimat-kalimat manis yang terlintas di kepala.

Saat ini binder tersebut baru terisi sedikit karena ternyata saya lebih suka menulis (mengetik) di komputer tablet karena saya bisa langsung menyimpan, mengirimkanya melalui email, bahkan mencantumkannya di blog saya. Hahaha. Agak menyedihkan karena menulis hari-hari ini bukanlah benar-benar menulis. Teknologi membuat mengetik menjadi pilihan yang lebih menyenangkan dan memudahkan daripada menulis dengan pena dan kertas. Tapi, saya yakin menulis tetaplah istimewa dan memiliki kenikmatannya sendiri. Ide dan kerangka cerita lebih enak dituliskan langsung dengan pena dan kertas, bukan dengan sentuhan alfabet di layar tablet. Jadi, saya yakin kelak binder ini akan dipenuhi catatan-catatan dan ide-ide yang lahir dari perkawinan pengalaman dan alam pikiran. 🙂

23 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 23

Pembatas Buku Wayang

Saya sedang cinta-cintanya dengan wayang. Rasa cinta itu diikuti dengan rasa penasaran yang besar karena dangkalnya pengetahuan saya soal wayang. Penasaran yang mengusik itu bisa sedikit ditenangkan setelah saya berkunjung ke Museum Wayang di kawasan Kota Tua Jakarta.

Awalnya saya tidak tahu ada Museum Wayang di kawasan Kota Tua tersebut. Saya saat itu memang berencana mengunjungi museum-museum di Jakarta. Seorang teman lalu memberi tahu saya bahwa ada lima museum di kawasan Kota Tua yang seluruhnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Salah satu di antaranya adalah Museum Wayang. Ah! Saya langsung bersemangat. Saya akan mengunjunginya pertama kali sebelum museum-museum lainnya.

Pukul sepuluh pagi esoknya saya sudah berdiri manis di kawasan Kota Tua, berjalan lurus menyeberangi alun-alun luasnya menuju ke Museum Wayang. Museum ini terletak di sebelah kiri Museum Sejarah Jakarta atau biasanya dikenal dengan nama Museum Fatahillah. Pintu masuknya kecil saja dengan tulisan Museum Wayang berwarna perak di atasnya. Untuk masuk museum ini kita dikenakan biaya lima ribu Rupiah saja. Saya meminta ditemani seorang guide karena ingin mengetahui lebih banyak mengenai museum dan koleksinya. Untuk jasa guide ternyata tidak dikenakan tambahan biaya. Kita tinggal memberikan uang tip untuknya di akhir tur.

Daaaaaannnnn…. Tur tersebut sangat berkesan! Museumnya bersih dan rapi, koleksinya terawat dan diganti secara berkala. Saat saya berkunjung, koleksi yang sedang dipajang adalah koleksi wayang dari cerita Ramayana. Di sana saya mendapat penjelasan dan melihat secara langsung berbagai jenis wayang dari seluruh daerah di Indonesia, negara tetangga kita, hingga negara-negara di belahan barat bumi ini, seperti Amerika, Spanyol, dan Rusia, termasuk wayang favorit saya. Saya sangat menyukai wayang kulit Jawa. Menurut saya wayang kulit Jawa memiliki proporsi yang paling indah, kaku tapi terlihat tegas, dan berkarakter kuat. Belum lagi teknik pewarnaannya yang detail dan menimbulkan decak kagum. Saya jatuh cinta.

Tur berakhir di depan sebuah stand oleh-oleh milik museum ini. Di sana dijual banyak cenderamata yang berbau wayang. Ada miniatur wayang, hiasan dinding, kaos, hingga pembatas buku. Nah, pembatas buku ini yang saya sukai. Saya membeli beberapa buah sebagai oleh-oleh dan juga untuk digunakan sendiri. Ada beberapa buku koleksi saya yang tidak berbonus pembatas buku sehingga saya kadang menggunakan tisu bersih, potongan kertas, hingga bungkus bekas permen sebagai penanda halamannya. Pembatas-pembatas buku wayang ini sangat cantik dengan warna-warna yang memanjakan mata. Desain dan potongannya juga unik dan manis. Jika ada kesempatan, saya ingin mengunjungi museum ini sekali lagi, menikmati koleksi-koleksinya yang lain sekaligus menambah koleksi pembatas buku wayang yang manis ini.

20130821-221739.jpg

21 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 21

Supernova Spesial

Saya termasuk orang baru yang menyukai tulisan-tulisan Dee Lestari. Dulu ketika Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh pertama kali rilis, saya termasuk yang penasaran. Saya mencoba membaca buku tersebut dan ternyata saya tidak paham. Iya, tidak paham. Mungkin karena saat itu kemampuan otak saya belum sampai hahaha. Jadilah ketika Supernova: Partikel terbit, saya baru mulai membaca lagi setiap buku karya Dee Lestari.

Buku ini spesial untuk saya. Kenapa? Ada dua sebab. Yang pertama karena buku ini adalah pemberian seorang teman kantor yang pindah kerja. Bukan teman, tapi atasan saya yang cukup dekat dengan saya layaknya seorang teman. Menjelang mengundurkan diri, ia bertanya kepada teman-teman dekatnya di kantor (termasuk saya) mengenai kenang-kenangan seperti apa yang kami inginkan dari dia. Saya lalu menyebutkan buku Supernova ini. Ia menyanggupinya. Saya juga menyampaikan permintaan khusus agar ia menuliskan beberapa kata di buku tersebut untuk memberikan kesan personal. Permintaan ini pun disanggupinya.

Alasan yang kedua adalah karena buku ini kemudian ditandatangani langsung oleh Dee Lestari di hadapan saya. Sekitar sebulan setelah menerima buku itu, saya mendengar akan ada book signing oleh Dee di Denpasar. Segeralah saya membawa buku-buku Dee koleksi saya untuk ditandatangani. Ketika sampai giliran buku ini untuk ditandatangani, saya sekilas memerhatikan Dee melirik kata-kata yang dituliskan teman saya itu. Tak disangka ia lalu tertawa kecil sambil membubuhkan tanda tangannya. Karena gugup bertemu idola, saya hanya bisa ikut tertawa canggung tanpa berani menanyakan sebab ia tertawa. Saya menduga-duga ini pasti karena kalimat bernada gerutuan yang dituliskan teman saya itu. Hahahaha.

20130820-233525.jpg

20 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 20

Perihal Rindu

Aku melulu tentang rindu
Rindu padamu yang tak kunjung menemukan samudera.

Aku selalu menempa rindu
Jadi sembilu yang di hatiku menoreh duka.

Kau tak pernah ragu menyemaikan rindu
Hingga benak-benak terpencil di dalam kepala.

Kau tak pernah pilu merasakan rindu
Sebab aku pernah berdoa: biarkan aku saja.

20 Agustus 2013

Tiket Konser

Saya punya kebiasaan buruk suka menyimpan barang-barang yang sesungguhnya sudah tak terpakai. Biasanya barang-barang itu berbentuk kertas. Nota laundry, struk ATM, struk belanja, tiket pesawat, hingga tiket konser.

Kali ini saya menemukan tiket konser Java Jazz tahun lalu. Saya jadi ingat inilah salah satu perjalanan saya yang paling nekat. Ceritanya begini. Salah satu jenis musik yang saya sukai adalah jazz. Sebagai penyuka musik jazz, event Java Jazz adalah salah satu yang ditunggu-tunggu. Lebih-lebih salah satu artis yang tampil pada Java Jazz 2012 saat itu adalah idola saya: Al Jarreau! Dia legenda dan saya pasti bodoh sekali bila melewatkan kesempatan untuk menikmati penampilannya.

Berbekal kebulatan tekad untuk menonton penampilan Al Jarreau, saya mulai menanyai teman-teman, siapakah yang kira-kira mau menonton konsernya bersama saya. Malangnya, tidak ada yang bisa, suka, ataupun mau. Jadilah saya sendiri yang berangkat, dari Denpasar ke Jakarta, tinggal hanya semalaam demi Al Jarreau. Kenapa saya senekat itu? Selain karena saya sungguh-sungguh mencintai karya-karyanya, pun karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Saya khawatir tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk melihat penampilan live-nya, di Indonesia.

Saya yang buta Jakarta ini sendirian berkeliaran di sana. Saat itu saya menginap di sebuah wisma di daerah Gambir atas rekomendasi seorang teman. Saya berangkat menuju tempat konser pukul 5 sore dan sudah menyusun rencana untuk menonton Depapepe, Andien, Endah and Rhesa, dan tentu saja Al Jarreau. Tapi ternyata jadwal pentas yang tidak tepat waktu membuat saya hanya bisa menyaksikan Maliq and D’Essentials, Depapepe, Trisum, dan Al Jarreau. Untunglah venue konser sangat “beradab”. Ada banyak relawan dan penunjuk lokasi yang memudahkan saya untuk mejelajahi keseluruhan venue tersebut tanpa tersesat walaupun sendirian.

Al Jarreau memulai konsernya menjelang tengah malam. Malam itu ia bermain diiringi George Duke Trio dan saya menontonnya dengan dikelilingi bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Hahaha. Saya kesulitan menemukan penonton yang seusia saya. Tapi tetap saja kami menikmati konser tersebut bersama-sama, bersenandung bersama. Walaupun dengan tertatih, Al Jarreau memberikan penampilan yang luar biasa. Suaranya begitu merdu dan kuat, improvisasinya luar biasa, ditambah lagi penampilan George Duke Trio yang tidak hanya sekedar mengiringi tapi juga melengkapi konser malam itu. Saya merasa beruntung, sangat beruntung bisa menonton penampilan legenda-legenda hidup musik jazz tersebut. Kenekatan dan kegilaan saya terbayar langsung dan tunai.

20130817-232322.jpg

PS. George Duke telah meninggal pada tanggal 5 Agustus 2013 yang lalu pada usia 67 tahun karena leukemia. Saya merasa sangat beruntung sempat menyaksikan penampilannya yang luar biasa. Semoga ia beristirahat dengan tenang. Karya-karya indahnya akan selalu dikenang.

20130817-232430.jpg

17 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 17

Ibumu

Ibumu, perempuan yang menunggumu pulang di ujung malam
Menanti ditemani nyala televisi dan pintu yang tak dikunci
Tak mengeluh, hanya menanti, kadang jatuh di mimpi.

Ibumu, perempuan yang membangunkanmu kala sembahyang subuh tiba
Bersujud di belakangmu menerbangkan doa
Membiarkanmu terlelap setelahnya karena paham kau lelah bekerja.

Ibumu, yang mengisi toples-toples kaca dengan cinta
Mengaduk secangkir kehangatan berkopi gula
Kemudian tersenyum bahagia karena aku menikmatinya.

Ibumu, yang tulus memujiku saat berkebaya
Yang turut berbahagia untuk perayaan kami di pura
Menjatuhkan ribuan cintaku untuknya.

Ibumu, perempuan yang dulu menyusuimu saat fajar
Yang kini berganti menyeduhkan kopi penuh pelukan,
Kopi yang sama yang kini terhidang,
Ibumu, ia menayangkan kenyataan:
Dibandingkan kau, aku lebih mencintainya.
Biarlah aku mencintaimu dari balik cangkir kopinya,
Menelan rindu untukmu bersama setiap teguk hangatnya.

16 Agustus 2013