Hari Terakhir

(Untukmu, Sue)

Aku ingin menghabiskan hari terakhirku dengan menatapimu. Tenggelam di matamu yang dalam, berlayar di antara kenangan yang mengulasi bibir, atau sekadar menatap punggungmu dalam diam. Aku bisikkan pada diriku: inilah dia lelaki yang kucintai.

Aku ingin melewati hari terakhirku dengan menyusuri tempat kita menemukan mula. Berdiri di tempatku dulu, menatap lurus pada tempatmu dulu. Bila merindukanmu berarti tiada, aku akan mengamininya sebab sejak hari itu akhir dan mula bagiku tiada.

Aku ingin memeluk hari terakhirku dengan menuliskan seluruh hatiku untukmu. Menyusuri lagi hari-hari sejak aku dipertemukanmu, senandungkan lagu-lagu patah hati. Aku ingin kelak kau menatap lautan yang menelan abuku sambil mengingatku sebagai wanita yang sepenuh hati mencintaimu.

Aku menepati janjiku
Mencintaimu seumur hidupku.

29 September 2013

Advertisements

Dikubur di Bawah Capitol Hill

Malam Puisi sekitar dua bulan yang lalu saya membacakan sebuah puisi untuk seorang sahabat. Saya mengenai dia saat kuliah. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa saya ajak berdiskusi soal banyak hal, dari yang remeh-temeh sampai teori konspirasi. Bukan, ini bukan berarti saya pintar sehingga cuma bisa berdiskusi dengan sedikit orang tapi justru karena saya tidak tahu banyak. Sahabat saya ini sungguh pandai melengkapi pengetahuan saya yang sepotong-potong, sungguh lihai mendebat pendapat tanpa saya merasa terintimidasi atau dibodoh-bodohi.

Seusai kuliah, ia memilih meninggalkan Bali, dengan berat hati. Beberapa tahun kami tidak bertemu karena jarak dan pekerjaan yang menyita waktu. Diskusi-diskusi kami hanya jadi tukar sapa yang ala kadarnya. Hingga pada suatu ketika kami berkesempatan bertemu lagi, setelah tahun-tahun kehilangan yang panjang.

Pertemuan itu begitu berkesan sehingga dari kepala saya mengalir beberapa baris kalimat untuknya. Kalimat-kalimat itu lalu saya bacakan untuknya di Malam Puisi Bali yang saya bagi dengannya melalui Twitter. Puisi saya bisa dibaca di sini. Di luar dugaan ia memutuskan saat itu juga ingin membalas puisi yang saya tulis untuknya. Saya merasa terhormat hahaha. Karena tidak memiliki kesempatan untuk hadir dan membacakan langsung puisinya di Malam Puisi, ia menitipkannya pada salah satu penggerak, yaitu Bli Aditya Nugraha. Dan Bli Adit berbaik hati mewakili sahabat saya itu membacakan puisi balasannya untuk saya malam kemarin (terima kasih, Bli! :3). Daaaannn…. Saya terharu, menangis sedikit (SEDIKIT) malam itu. Saya bersyukur karena ada orang yang memahami saya walaupun tidak banyak waktu dan kata-kata saya untuknya. Terima kasih, Ronald. 🙂

PS. Atas ijin dari Ronald, puisi karyanya saya sertakan dalam tulisan ini.

29 September 2013

20130929-224343.jpg

Menuliskan Dirimu

Aku selalu ingin menulis tentangmu. Tentang helai-helai rambut yang jatuh di keningmu (dulu, kini tidak lagi), tentang mesin waktu di kedalaman matamu, tentang jari-jemari yang pernah kugenggam hingga malam berlalu.

Aku menuliskan sesuatu untukmu, tentangmu, setiap kali rindu menyerbu. Hanya itu pertahananku. Dan rindu padamu bukanlah soal kedatangan musim yang niscaya, ialah perputaran pagi dan malam yang tak bercela.

Aku tanpamu adalah gerak yang mekanis, rasa yang sintetis, luka yang dimaknai dengan sekadar meringis. Tulisanku tanpamu hanyalah barisan aksara tak bermakna. Sajakku tanpamu adalah kemarau yang merindu hijau. Akulah gadis kecil yang tak henti merindukan hujan sebab ia rindu menari sampai puas dan menjadi dirinya. Kamulah hujan. Dan aku gadis kecil itu, berusaha dengan rapi mengoleskan gincu.

September 2013

Kopi Terakhir

Tring.. Tring..
Sendok dan cangkirmu beradu
Kopi panas di dalamnya berputar sempurna, fouette sang angsa hitam di panggung.
Aku tak pernah paham kesukaanmu pada getirnya
Seperti kau yang tak paham kesukaanku menikmati getir sisa nikotin di bibirmu.

Cangkirmu berhenti bersenandung
Kopi panas di dalamnya berputar perlahan, sang angsa hitam melarut diam-diam, mengendap di dasar cangkir.
Aku tak pernah lupa aromanya, melayang lewat helai-helai uap panas yang mengusap wajah.
Seperti kau yang berusaha mengingat wewangianku kala pagi di bawah matahari.

Kopi panas itu kini berhenti sempurna
Canggung menempati cangkangnya
Aku masih menatapnya
Kau masih menatapku
Sepasang tangan kita menggenggam dirinya masing-masing
Entah menguatkan diri, entah mengendalikan hati.

Kopi panas kehilangan peluknya
Menggigil sendiri di tengah ceruknya
Aku berkaca pada matamu yang berkaca-kaca
Tidak ada kata, tidak ada sedan
Kita memilih jalan yang paling lara untuk melupakan:
Perpisahan yang diam.

15 Agustus 2013

Lebih dari Sekedar Bisnis

Sekali-sekali menulis sesuatu yang agak serius, ya. Boleh, kan? Iya, boleh.

Jadi, tulisan kali ini lahir dari galaunya pikiran saya setelah mendengar cerita tentang bisnis kenalan saya. Ia bukanlah orang baru di dunia bisnis dan wirausaha. Usaha dagangnya sudah berjalan puluhan tahun, sukses, dan kaya (raya, sepertinya). Suatu ketika saya mendengar ia menerima pengalihan saham dari sebuah perusahaan. Saya tanya apakah sudah dicek dokumen pengalihan sahamnya. Ia menjawab pengalihan tersebut sudah dituangkan dalam akta notaris. Saya tanya lagi apa sudah didaftarkan di (Sistem Administrasi Badan Hukum) Kementrian Hukum dan HAM. Ia kaget. Ia tidak tahu ada prosedur semacam itu. Ups.

Iya, bisnis ternyata bukan sekedar bisnis. Bukan hanya mengeluarkan modal, memutar modal, lalu menghasilkan untung sambil sebisa mungkin menghindari buntung. Bisnis tidak hanya soal mengumpulkan laba lalu memperluas usaha. Bisnis ternyata berkaitan erat dengan prosedur hukum dan perijinan.

Saya tidak akan mengetik panjang lebar tentang hal-hal teknis mengenai perijinan dan prosedur hukum atas tindakan perusahaan (yang bahasa kerennya adalah corporate action) yang mungkin akan terbaca membosankan dan penuh dengan istilah hukum yang mungkin agak asing. Tidak, saya tidak mau terdengar seperti Vicky yang terkenal itu. Saya hanya risau. Saya risau karena banyak teman dan kenalan saya yang menjadi wirausahawan di usia yang muda. Mereka membangun dan menjalankan bisnisnya sendiri. Saya jadi bertanya-tanya apakah mereka menyadari adanya prosedur dan konsekuensi hukum maupun perpajakan atas usaha mereka? Apakah mereka paham cara-cara melindungi investasi, invensi, maupun kreasi dalam bisnis mereka? Apakah mereka tahu ada banyak kasus penipuan maupun penggelapan berkaitan dengan bisnis dan investasi yang sebagian besar diakibatkan ketidaktahuan akan prosedur dan ketentuan hukum?

Hukum bisnis memang tidak sederhana dan statis. Tidak juga (terlalu) rumit, sih tapi yang jelas ia dinamis, cepat berubah. Karenanya tidak perlu untuk menjadi sarjana hukum agar bisa menjalankan bisnis dengan legal dan aman. Di jaman sekarang ini hampir semua hal bisa dicari dan ditemukan di internet. Yang terpenting adalah ketahuilah dasar-dasarnya, terutama masalah bukti kepemilikan bisnis maupun saham, perijinan, dan perpajakan. Bertanyalah pada kawan-kawan maupun relasi bisnis yang kalian anggap tahu dan berpengalaman. Jangan malas mencari dan membandingkan informasi. Karena sekali lagi hukum bisnis itu dinamis. Bisa saja informasi yang kalian dapat adalah informasi beberapa tahun lalu sebelum peraturan hukumnya diubah. Kalau misalnya skala bisnis sudah besar dan ada pos dananya, bisa mulai mempertimbangkan untuk menggunakan jasa konsultan hukum yang terpercaya. INGAT! Bidang hukum itu sangat banyak dan luas. Pastikan kalian memang menggunakan jasa konsultan hukum yang berpengalaman di bidang bisnis dan investasi, bukan yang justru jam terbangnya lebih banyak di pengadilan mengurusi kasus-kasus pidana. Pengalaman dan pengetahuannya bisa jauh berbeda.

Yang terakhir adalah waspada, percaya pada insting kalian. Bila sesuatu terasa janggal, bisa jadi memang ada yang salah. Jangan terbuai janji manis, pastikan setiap hal sudah kalian periksa kebenarannya dan kalian pahami keseluruhan ceritanya. Pastikan juga ada hitam di atas putih, semuanya harus dalam bentuk tertulis.

Saya bukan bermaksud menakut-nakuti. Hanya berharap kejadian yang terjadi pada kenalan saya itu tidak juga terjadi pada teman-teman saya yang di usia mudanya sudah berani maju dan memilih menjadi wirausahawan. Sayang sekali rasanya bila usaha yang susah payah dibangun terhambat atau bahkan gagal hanya karena tak paham hal-hal mendasar mengenai bagaimana melindungi usaha itu sendiri. Okay? 🙂

11 September 2013

PS. Tulisan ini tidak disponsori oleh konsultan hukum tertentu. 😀