Badut

: Andra

“Nak Roy kenapa, sih masih mau jadi badut?”

Tangan Roy yang sedang melepaskan sepatu pantofel kulitnya mengambang sejenak di udara. Ia tersenyum lalu melanjutkan melepaskan sepatunya.

“Saya cuma senang melihat anak-anak tertawa, Pak. Menurut artikel yang pernah saya baca, kita harus banyak-banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak karena mereka adalah sumber kebahagiaan dan keceriaan.”

“Tapi hidup Nak Roy, kan sudah bahagia.”

“Saya jadi bahagia seperti sekarang justru karena anak-anak ini.” Jelas Roy sambil berdiri dan mengambil kostum badut yang sudah disiapkan Pak Asep di atas meja. Sudah hampir enam tahun terakhir ini Roy menjadi badut setiap akhir pekan. Hanya di akhir pekan, sebab pada hari biasa ia akan sibuk di kantor mengurusi bisnis keluarganya.

Pak Asep terdiam menatap tuan besar yang sudah ditemaninya tak kurang sejak lima belas tahun yang lalu, sejak Roy masih duduk di bangku kuliah. Ia paham penjelasan yang dilontarkan Roy. Ingatannya sendiri masih terasa begitu segar seolah-olah segalanya baru saja terjadi. Ia masih bisa mencium aroma air mata kepedihan di pipi Roy hari-hari itu.

“Kok, melamun, Pak? Saya ganti baju dulu, ya. Bapak bisa istirahat dan makan siang dulu. Saya akan selesai menghibur anak-anak sekitar dua jam lagi.”

Roy berlalu menuju ruang ganti. Sebentar lagi wajah tampan usia pertengahan tiga puluhannya akan dilapisi bedak putih tebal, gincu merah lebar, dan hidung bak tomat besar. Pak Asep memandanginya dengan sendu.

***

Januari 2004

“Waaaa…! Akhirnya kita ke Dufan!”

Perempuan berambut sebahu itu berlarian dengan girang sambil merentangkan tangannya. Roy terbahak melihat tingkah lakunya yang tak layak untuk tubuh dan usia dua puluh enam. Sudah lama mereka berencana akan menghabiskan liburan di Dunia Fantasi Ancol. Setelah beberapa kali tertunda akibat pekerjaan yang tak pernah berhenti mengalir, akhirnya kesempatan berlibur itu datang juga.

“Kamu jangan bikin aku malu dong, Kris. Umur boleh dua puluh enam, wanita karir yang sukses, tapi kelakuan seperti anak baru gede.”

“Hey! Itu namanya anugerah tahu… Jiwa muda itu sama pentingnya dengan wajah awet muda. Hahaha.”

Roy ikut terbahak lalu berlari menyusul Krisan. Krisan memang selalu bersemangat seperti itu. Selalu ceria dan bersinar seperti bunga krisan kuning disirami matahari. Mereka telah bersahabat sejak di bangku kuliah, tak terpisahkan. Roy menikmati setiap detik saat berada di dekat Krisan. Ia menyukai gadis itu. Oh, bukan. Ia mencintainya.

“Wah, aku mau berfoto dengan mereka.” Krisan menunjuk sepasang lelaki yang berdiri mematung dengan tubuh dicat perak metalik. Ia segera berdiri di antara mereka dan memasang mimik kaku seperti mafia di film-film action koleksi Roy. Roy tertawa dan mulai mengeluarkan kamera sakunya. Mereka mengambil beberapa foto bersama sepasang manusia millennium itu.

“Aaahh! Itu Dufan dan Dufi!” Krisan memekik kegirangan. Dufan dan Dufi adalah sepasang kera bekantan yang menjadi maskot Dunia Fantasi. Mereka biasanya berkeliling taman bermain untuk menyapa para pengunjung sekaligus berfoto bersama. Melihat sepasang badut maskot itu, wajah Roy memucat. Ia terpaku di tempatnya berdiri.

“Tidak. Tidak. Aku tidak mau.” Roy mulai berlari menjauh.

“Roy! Kamu mau ke mana?” Krisan mengejar Roy. Ia berhasil menyusul dan meraih lengan Roy. Dilihatnya wajah Roy pucat pasi.

“Kamu kenapa, Roy? Sakit?” Roy menggeleng.

“Ah, Krisan. Aku.. Aku… Takut badut.”

Hening. Krisan menatap Roy. Roy balik menatapnya.

“Hahahahaha!” Tawa Krisan meledak. Ia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Roy mau tak mau ikut tertawa. Makin lama makin keras. Ia memang menyadari betapa konyol phobianya itu.

“Aduh, Roy. Maafkan aku. Tapi.. Tapi phobiamu itu aneh sekali. Hahaha.”

“Iya, Kris. Aku tahu itu. Makanya aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun.”

“Astaga, Roy… Kita ini sudah lama berteman. Kenapa kamu masih ragu begitu untuk cerita ke aku? Aku memang akan menertawakanmu pada awalnya tapi tenang saja… Rahasia kecilmu ini aman bersamaku.” Krisan tersenyum sambil menepuk dadanya. Roy membalasnya dengan senyum termanis yang mampu ia berikan.

“Terima kasih, Kris.”

“Hmm.. Memangnya sejak kapan phobiamu ini ada?”

“Aku lupa. Pokoknya suatu malam aku bermimpi dikejar-kejar badut dan sejak saat itu aku selalu ketakutan setiap melihat badut.”

Krisan merangkul bahunya. Semilir angin memainkan anak-anak rambutnya.

“Tidak apa-apa. Nanti lama-lama takutnya juga hilang.”

Roy tersenyum lalu ikut merangkul tubuh Krisan yang bersandar pada tubuhnya. Krisan tiba-tiba melepaskan rangkulannya dan menatap Roy.

“Roy, aku belum cerita sama kamu soal ini.” Krisan menatap Roy dengan mata berbinar.

“Kemarin Bi melamar aku! Dia melamar aku, Roy! Dan tentu saja aku terima. Kami akan menikah sebentar lagi! Hahaha.”

Binar di matanya telah mengalahkan matahari siang itu. Sementara semilir angin membawa sebagian jiwa Roy yang patah entah ke mana. Hilang di balik kata cinta yang tertelan kembali.

***

Juli 2004

Roy memandang keluar dari jendela pesawat yang menerbangkannya menuju Perth. Usahanya mengejar beasiswa ke negeri kanguru akhirnya membuahkan hasil. Sungguh semesta telah bermurah hati memberinya waktu keberangkatan yang hampir bersamaan dengan acara pernikahan Krisan dan Bi sehingga ia tak perlu menyiksa diri dengan melihat keduanya bersanding di pelaminan.

Saatnya memulai lembar yang baru, Roy. It’s time to move on, batinnya.

***

September 2006

Di sinilah Roy berdiri. Di halaman rumah Krisan dan Bi. Ia menghela napas, mengangkat tangannya dengan ragu, lalu akhirnya mengetuk pintu di hadapannya. Sekali. Dua kali. Lalu terdengar tangisan seorang balita dari dalam. Langkah-langkah kaki terdengar mendekati pintu. Pintu itu membuka lebar.

“Hai, Bi.”

“Roy? Roy! What a surprise! Aku pikir kamu kuliah di Australia.”

“Sudah selesai, Bi. Aku baru kembali ke Jakarta minggu lalu.”

“Eh, mari masuk.”

Roy melangkahkan kaki menuju sebuah ruang tamu yang rapi dan nyaman. Ada foto-foto pernikahan Krisan dan Bi dulu juga beberapa foto keluarga. Bi mempersilahkannya duduk.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Bi.

“Baik. Bagaimana dengan keluargamu? Aku sudah mendengar soal Kimi.”

Senyum di wajah Bi lenyap. Ia terdiam sebentar lalu beranjak ke ruang keluarga. Sekali lagi Roy mendengar tangis seorang balita. Hatinya ngilu. Tak lama Bi muncul sambil menggendong seorang balita yang berusia belum genap dua tahun. Tubuhnya kurus kering hanya menyisakan tulang berbalut kulit. Pipinya tirus. Matanya sembab oleh air mata. Ada benjolan besar di leher sebelah kirinya. Tangannya menggapai-gapai Roy. Roy menyambutnya lalu menggenggam jemari-jemari kecil itu dengan hangat. Hatinya pilu menahan tangis.

“Kanker kelenjar getah beningnya sudah stadium empat dan menyebar ke organ lain. Dokter sudah menyerah. Tapi kami belum menyerah.”

Roy tak mampu lagi menahan tangis. Ia mengelus-elus tangan bocah manis itu dan berusaha mengajaknya mengobrol.

“Roy?”

Mereka semua menoleh. Krisan berdiri di pintu. Tangannya menggenggam tas belanja berisi wortel, seledri, dan apel. Ia memandang Roy dengan tatapan tak percaya. Sedetik kemudian ia menghambur ke pelukan Roy. Menangis sejadi-jadinya. Ia mengucapkan sesuatu sambil terisak.

“Roy, Kimi suka badut. Suka sekali. Kamu masih takut badut?”

***

Pak Asep memandangi Roy yang telah berubah jadi badut lucu berperut gendut dari balik pintu kaca paviliun itu. Ia masih ingat betapa hancurnya Roy setelah kepergian Krisan.

Bulan Oktober 2006 Kimi, putra Krisan dan Bi, akhirnya meninggal dunia, meninggalkan ibunya yang patah hati dan tak bisa disembuhkan lagi. Kondisi kejiwaan Krisan benar-benar hancur. Jika tak menangis, ia akan termenung sendirian, tak mau makan, tak bisa tidur. Bi dan Roy berusaha keras menghibur dan membujuk Krisan. Semuanya sia-sia. Hingga hanya berselang beberapa bulannya sejak kepergian Kimi, Krisan meninggal dalam tidurnya. Begitu saja. Tanpa sepatah kata. Tanpa berpamitan. Tanpa pernah memberi kesempatan pada Roy untuk mengungkapkan perasaannya. Krisan pergi, mataharinya mati. Dan pada malam-malam penuh rindu, Roy akan meringkuk sendirian di kamarnya, menangisi kesempatan yang disia-siakannya.

***

“Kamu masih takut badut?”

Suara Krisan terus terngiang di telinganya. Tidak, Krisan, tidak. Aku tidak takut lagi. Kau benar. Rasa takut ini akhirnya hilang. Kau pasti tidak percaya kalau tahu aku sekarang sedang menjadi seorang badut. Iya. Aku seorang badut! Kau pasti akan sangat bangga padaku. Kau bisa lihat aku, kan? Bisa, kan? Roy bergumam dalam hati. Matanya berkaca-kaca menatap belasan anak-anak penderita kanker yang dihiburnya di rumah sakit khusus kanker ini. Ia bersumpah akan membuat mereka tersenyum dan sejenak melupakan perih di tubuh. Demi kamu, Krisan. Demi kamu yang telah terenggut perihnya kehilangan karena penyakit terkutuk ini.

*****

30 Oktober 2013

1.289 kata

PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL KE-1

Once Upon A Time

Tell me about the parallel universes where our heroes fight for lives
Tell me a tale about the villains, those who will steal our earth’s peace
I will wake up all night long
Watching excitement you bring along
Hearing the kid inside you playing a song
About the beauty of the world and the war.

Darling, Darling,
You live the dream into life
Flying, floating, firing
Like the laser light in your eyes
Bring me on my knees and praise.

27 October 2013

Dua Pasang Bintang

Untuk Bumi dan Raga

Dua pasang mata berkelipan
Bertatapan, tiada ruang hampa cahaya
Segala gulita terjamah pelita.

Dua pasang lengan tergamit manja
Menyandarkan resah, mengamankan sarang
Mencakapkan gelisah, menjadikan pemahaman di ujung senyuman.

Dua pasang wajah berhadapan
Helai udara bergetar perlahan, mengirim gelombang dari satu kepada yang dua,
Menebar aura dari dua kepada dunia.

Dua pasang cinta melabuhkan lelah,
Memutuskan melangkah menautkan tangan,
Kemudian berarak ke angkasa jadi bintang paling terang
Ditatapi iri manusia di bumi.

23 Oktober 2013

Tragedi Matahari

Matahari meletus!
Darahnya berhamburan di cakrawala,
ditadah bibir pantai yang setia menanti kematiannya,
kental, jingga, seperti kuning telur setengah tanak di atas putih nasimu tiap pagi,
lekat, resah, mencekik lautan yang kesat.

Kami panik.
Matahari meletus!
Sari-sari pekatnya bertebaran tak tentu arah,
di awan, di pasir, di sudut bibir, pipi kami.

25 Oktober 2013
Senja di Kuta

Mata

Sebenarnya Galih tak suka berada di tempat ramai seperti ini. Apalagi malam ini adalah malam tahun baru. Kafe penuh sesak dengan pengunjung, ramai dengan celotehan yang diselingi kepulan tembakau yang dibakar. Galih tidak merokok, Galih tidak minum alkohol. Galih adalah pengacara muda yang sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor mengurusi masalah-masalah kliennya sehingga ia tak sempat merokok dan minum alkohol. Waktu senggangnya dihabiskan dengan membaca buku-buku yang kalau bisa tidak berkaitan sama sekali dengan hukum. Untuk penyegaran pikiran, katanya.

Malam ini ia terpaksa mengikuti Reza, sahabatnya, menghabiskan malam terakhir tahun 2012 di kafe yang sesak ini. Ia sudah kehabisan alasan untuk menolak ajakan Reza. Kantor dan klien-kliennya sudah libur dan pergi berlibur, kekasihnya sudah pergi sejak dua bulan yang lalu setelah sebelumnya memutuskan hubungan mereka lewat telepon, tak ada keluarga yang meramaikan apartemennya, mereka semua ada di Yogyakarta. Ia sendirian, sendiri yang absolut. Ia sebenarnya tak peduli soal tetek-bengek perayaan tahun baru. Baginya malam tanggal 31 Desember adalah malam yang sama saja dengan malam-malam lainnya. Tapi, ajakan Reza yang sudah mengarah pada paksaan membuatnya menyerah. Toh, sudah lama ia tak menghabiskan waktu dengan Reza.

“Sudahlah, Bro. Jangan cemberut saja. Ini minum buat kamu.” Reza menyodorkan segelas minuman yang tampak seperti lychee martini. Galih menggeleng sambil mengangkat kaleng coke-nya.

“Thank you, Za. Aku minum ini saja. Jam berapa kawanmu itu tampil?”

“Sebentar lagi sepertinya.” Reza menyesap martininya lalu menoleh pada jam tangannya. Tanpa sadar Galih juga melakukan hal yang sama. Terus terang salah satu alasan ia datang ke kafe itu adalah karena salah satu kawan Reza akan tampil di sana. Menurut cerita dari Reza, kawan perempuannya itu adalah seorang gitaris jazz yang hebat dan ia ingin Galih menyaksikan kehebatannya.

Dentuman musik dansa tiba-tiba berhenti. Panggung yang sebelumnya ramai oleh warna-warni cahaya menjadi gelap. Seorang MC mengucapkan selamat malam yang diikuti beberapa paragraf basa-basi tentang acara malam itu sebelum akhirnya mempersilahkan grup musik itu naik ke panggung. Penonton riuh bertepuk tangan. Sepertinya mereka adalah pengunjung tetap kafe dan penikmat setia penampilan grup musik itu.

Nada pertama dimainkan. Galih mengenalinya. Breezin, batinnya. Komposisi instrumentalia yang dipopulerkan oleh George Benson dan sempat pula dinyanyikan bersama Al Jarreau. Ia penasaran sehebat apa permainan kawan Reza itu.

Perlahan sosok gadis itu diterangi cahaya lampu sorot. Galih bisa melihat jemarinya menari dengan lincah di antara fret dan senar Les Paul-nya. Ia tersenyum mendengar riuh penonton menyambutnya. Matanya terpejam. Terus terpejam.

“Ia tidak bisa melihat?” Desis Galih. Reza tersenyum dan mengangguk. Galih terpana.

***

“Kila!” Reza memanggil nama gadis itu di belakang panggung. Yang dipanggil menoleh ke arah datangnya suara. Ia memang tak bisa melihat Reza tapi sepertinya ia mengenali suaranya. Reza bergegas menghampiri dan menggandeng tangannya.

“Kila, ini Galih, kawanku. Ia baru pertama kali melihatmu tampil dan ia tadi cuma bisa diam mematung saking terpesonanya. Galih, ini Kila.” Kila terkekeh sambil mengulurkan tangannya. Ia dan Galih berjabatan.

“Galih.”

“Priskila. Panggil saja Kila.”

“Permainan gitar kamu bagus sekali tadi. Aku suka sekali Breezin yang kamu mainkan.”

“Hahaha. Terima kasih, Galih. Kami para gitaris wanita memang sering sekali menerima ketakjuban dari para pria. Mungkin karena mereka tidak menyangka kami juga bisa melakukannya.” Kila tertawa lepas. Ucapannya menggigit hulu hati Galih. Ia buru-buru menambahkan.

“Ah, bukan maksudku menyinggung perasaanmu, Kila. Tapi kamu memang… Yah.. Hebat.”

“Hahaha. Iya iya.. Aku paham. Aku juga tidak sedang menanggapimu dengan serius.”

Galih terpesona mendengar renyah tawa perempuan itu. Ia merasa ada yang bersinar-sinar darinya walaupun sepasang mata itu bukanlah matahari.

***

“Kau ingin melihat senja?”

“Ah, sudah lama aku tak melihat senja. Kau tahu setelah kehilangan penglihatanku, aku tidak bisa lagi menikmati warna-warna. Aku sudah lupa seperti apa rupa senja.”

“Kalau begitu, nanti temani aku melihat senja. Aku bisa ceritakan seperti apa rupanya padamu. Aku akan jadi matamu yang baik.”

Kila tersenyum. Galih menatap wajah perempuan itu. Ia membayangkan bintang-bintang berjatuhan dari matanya. Ah, Kila. Kau tak perlu binar bintang-bintang karena dirimu adalah bintang, batinnya.

***

Matanya berhenti di halaman 52 Milana, di tengah-tengah cerpen Goa Maria. Dua potong paragraf menyentak urat di jantungnya, saat Wanto dan Suhana saling bertatapan dan jatuh cinta di kedalaman pandangan.

“Ah, betapa hanya perlu sepasang mata untuk membuat seseorang jatuh cinta semakin jauh, semakin dalam.”*

Galih tersenyum. Ia menggeleng perlahan.

“Tidak, Bara. Ia bahkan tidak menatapku. Ia bahkan tak punya bola mata berbinar tempatku menenggelamkan diri. Tapi aku mencintainya, aku jatuh tak berdaya.”

***

Sudah hampir sebulan Galih tak berkunjung ke kafe itu. Reza menjelaskan bahwa Galih sedang sangat sibuk di kantor. Belum lagi soal mantan kekasihnya yang memaksa ingin kembali menjalin cinta dengannya, mengganggu kawannya itu dengan telepon dan berbagai pesan singkat yang tak kenal waktu. Sheila, nama mantan kekasih Galih itu, adalah seorang model dan penyanyi paruh waktu. Ia terbiasa hidup glamor dan bergelimang puja-puji. Berbanding terbalik dengan Galih yang lebih memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan buku-buku fiksinya. Galih juga terlalu sibuk untuk melayani rengekan Sheila yang bak tuan puteri yang baru mengalami masa pubertas. Manja. Terakhir kali mereka putus karena Galih yang terlalu sibuk. Bahkan pemutusan hubungan itu dilakukan Sheila lewat telepon karena Galih tak kunjung bisa meluangkan waktu untuk menemuinya. Sheila marah besar di telepon. Galih menutup telepon lalu kembali menekuni draft perjanjian kerjasamanya.

Reza menceritakan semua itu sambil tertawa-tawa. Kila ikut tertawa sekenanya. Mantan kekasih. Model, pasti cantik. Penyanyi pula. Kila tersenyum kecut. Ia merasakan ada yang aneh pada dirinya. Perutnya mulas, dadanya sesak. Ia ingin muntah. Seperti ada ribuan kupu-kupu mendesak keluar dari perutnya. Tunggu. Kupu-kupu? Tidak, ia tidak mungkin cemburu. Ia tidak boleh jatuh cinta. Jatuh cinta hanya akan mendatangkan kekecewaan untuknya. Tak ada pria yang akan sudi berbagi cinta dengan seorang tuna netra sepertinya.

***

Tak biasanya Galih memintanya datang ke kantor siang-siang begini. Galih juga tak bersedia menjelaskan alasannya saat Reza menanyakannya lewat telepon semalam. Galih hanya meminta ia datang saat makan siang. Ada yang ingin dibicarakannya.

“Hai, Bro! Apa kabar?” Sambut Galih sambil menjabat tangan Reza.

“Baik. Kita tinggal sekota tapi saat bertemu menanyakan kabar seolah-olah kita terpisah jauh.”

“Hahaha. Beginilah akibat hidup di Jakarta. Kita dikutuk untuk terpisah jarak yang bahkan tak nyata.”

“Kamu sendiri apa kabar? Tumben minta aku datang ke kantor..”

“Ah, ini soal Kila.” Reza sudah menduganya. Ia membuka kaleng coke yang disiapkan sekretaris Galih di atas meja lalu duduk dan siap mendengarkan curhatan sahabatnya.

“Kenapa dengan Kila? Kamu jatuh cinta padanya?” Tanya Reza dengan santai. Ia menikmati perubahan ekspresi di wajah Galih.

“Ka.. Kamu..”

“Sudah, Galih. Tidak perlu sibuk cari alasan. Aku sudah bisa menebaknya. Jadi, kenapa kamu tidak katakan saja perasaanmu pada Kila?”

“Aku tidak yakin dia memiliki perasaan yang sama denganku. Lagipula sudah seminggu ini aku tidak bisa menghubunginya. Ia tidak pernah mengangkat telepon ataupun membalas SMSku.”

“Galih.. Galih.. Memangnya kalau Kila tidak punya perasaan yang sama denganmu, cinta di hatimu itu akan hilang? Memangnya kamu bisa hidup tenang dengan memendam cinta macam begitu? Wake up, Bro.. Kamu adalah lelaki dewasa, masih saja bersikap seperti anak remaja.”

Galih terdiam. Reza benar. Yang di hatinya adalah cinta. Yang tak diucapkannya adalah cinta. Tapi, pantaskah bila ia mengutarakan perasaannya pada Kila? Reza membaca keraguan di mata Galih. Ditepuknya pundak sahabatnya itu.

“Galih, kamu harus menghadapi ini sebagai seorang pria dewasa. Kamu harus membiarkan Kila mengetahui perasaanmu. Cinta itu tak perlu dimintakan balasan. Cinta itu seperti karmaphala, ia akan kembali padamu dengan sendirinya entah lewat Kila, entah lewat orang lain yang mungkin akan kau temui nanti. Kau tak akan kekurangan bila memberi dengan tulus.”

“Jujur, Za. Aku takut kehilangan dia. Aku takut dia akan menjauhiku bila tahu aku mencintainya.”

“Itu berarti dia bukan orang yang tepat bagimu. Leave her then. As simple as that.”

Galih tercenung.

***

Kila menyalakan ponselnya. Ada sebuah pesan suara di sana. Dari Reza.

“Hai, Kila. Ke mana saja kamu? Sulit sekali menghubungimu beberapa hari ini. Kamu juga tidak muncul di kafe. Sehat? Kila, aku ingin membacakan sesuatu untukmu. Aku cukup lancang karena mencuri ini dari meja kerja Galih. Hehehe. Tapi aku melakukan ini demi kamu, demi kalian.”

Jantung Kila berhenti sedetik mendengar nama Galih disebut. Ia rindu lelaki itu.

“Galih sepertinya menuliskan ini untukmu. Ada namamu disebutnya. Selamat mendengarkan.” Reza berhenti sejenak, memberi jeda.

“Kepada Kila.

Andai saja aku bisa seriang itu menyambut senja. Aku mencintai senja dan segala semburat kemerahannya. Kali ini kali pertama aku menyadari bahwa tak sekalipun aku menyambutnya dengan keriaan. Aku menikmatinya bersama perih dan sendu akibat rindu.

Senja dan laut menerbangkan ingatanku padamu. Entah kenapa. Kita tak pernah punya kesempatan mengalaminya bersama. Tapi, bagiku senja dan laut adalah arakan memori tentangmu. Mungkin karena mereka membuatku merasa nyaman dan kau membuatku merasa pulang. Darimu aku belajar arti tinggal dan bersama. Darimu aku memahami arti kita (akankah ada kita, Kila?). Darimu aku paham tak semua mimpi bisa dikejar, tak semua hidup ada sebab mengejar mimpi. Darimu aku belajar ada mimpi yang dapat dijalani dengan penuh kesadaran, saat ini. Ialah berada di dekatmu.”

Reza sekali lagi memberi jeda.

“Kila, tanyakan pada dirimu kau ingin pergi atau di sini bersama Galih.” Pesan suara berakhir.

***

Galih berjalan dengan gontai menuju pintu unit apartemennya. Sudah hampir tengah malam dan ia baru pulang dari bekerja. Tak apalah. Toh, tak ada yang ia buat menunggu. Bibirnya tersenyum getir. Hidup ini terkadang sangat lucu. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di depan pintu apartemennya seorang perempuan terduduk. Begitu mendengar suara langkah kaki, punggung perempuan itu menegak. Ia bangkit dan menghadap ke arahnya.

“Galih?”

“Kila?” Perempuan itu tersenyum. Hangat. Sangat hangat. Perlahan ia merentangkan tangannya.

“Pulanglah, Galih..”

*****

*dikutip dari cerpen Goa Maria dalam buku kumpulan cerpen Milana karya Bernard Batubara.

23 Oktober 2013

Rumah yang Baru

: Jeda

Di seberang jalan
Seorang gadis memandang menembus setapak dan halaman
Pada rumah bercahaya hangat keemasan
Sepasang kekasih bercengkerama sambil menggenggam tangan
Di atas sofa, sofa idamannya
Di dalam rumah tempatnya berharap pulang.

Seorang pemuda mendatanginya
Dengan senyum hangat dan mata tersipu
Tangannya lembut menuntun pada rumah kecil di tepi pantai
Dengan hiasan senja kemerahan setiap petang
Dua bayangan memanjang ke timur
Bersandar satu pada lainnya
Berumah satu sama lainnya.

18 Oktober 2013

20131018-174316.jpg

Untuk Pak Sapardi

Pak, saya ingin mencintai dengan sederhana, sesederhana larik indah yang saya temukan saat mengais nasi sisa. Tapi saya ragu. Harga beras yang mendaki membuat perihal mencintai tak sederhana lagi. Saya tak bisa jadi abu, sebab kelak ada anak istri yang harus dihidupi.

Pak Sapardi yang saya hormati, saya ingin mencintai dengan sederhana. Tetapi perihal mencintai jadi membelit rumit saat kekasih pulang dalam peti dalam hampa. Saya tak bisa tiada sebab ia tak sanggup lagi jadi hujan.

Pak, saya hanya ingin mencintai.

16 Oktober 2013