#5BukudalamHidupku Perubahan Besar: Sebuah Titik Balik

Setiap manusia memiliki titik baliknya sendiri-sendiri. Titik balik itu bisa merupakan titik terendah bahkan tertinggi dalam hidupnya. Mereka telah mencapai puncaknya hingga tak ada lagi tempat untuk dituju selain berbalik arah, kembali ke dalam diri. Di usia ini saya merasa telah menemukan titik balik saya. Entah kalian akan menyebut saya sok bijaksana, sok berpengalaman, atau apapun itu. Saya tidak peduli. Pengalaman hidup tidak diukur dan ditentukan oleh usia, pun sebuah titik balik yang lahir dari pengalaman hidup itu sendiri.

Saya merasa tidak perlu menceritakan kejadian ini secara rinci. Cukuplah dengan menyebutkan bahwa beberapa waktu yang lalu saya mengalami sebuah peristiwa besar yang menguras emosi dan hampir memakan korban kewarasan dalam kepala. Saya diharuskan untuk membuat sebuah keputusan besar. Memang tidak ada yang mengharuskan dan memaksa saya untuk membuat keputusan besar itu, tetapi saya merasa saat itulah saat yang tepat untuk mengambil keputusan dan menjadi dewasa. Saya akan meninggalkan laki-laki yang (pernah) saya cintai. Mungkin meninggalkan bukan kata yang tepat di sini karena saya sudah lebih dahulu ditinggalkan. Mungkin yang sesuai adalah merelakan, melepaskan, lalu belajar berjalan sendirian. Saya sudah terlalu lama menggantungkan nyawa pada tambang yang telah putus. Sia-sia.

Keputusan untuk merelakan dan meresmikan perpisahan kami adalah keputusan terbesar yang pernah saya buat dalam hidup saya. Sekaligus menjadi titik terendah sepanjang waktu saya di dunia. Saya berada di dasar jurang, di bawah kerikil yang berserakan. Saya akan melukai keluarga, saya akan menyiksa diri saya, saya akan membuat anak saya bertanya-tanya. Saya bimbang. Saya takut. Sangat takut. Tak pernah setakut itu.

Di tengah segala kekalutan dan kebimbangan itu, saya membaca kicauan seorang kawan di Twitter. Ia bercerita tentang serunya menyambut peluncuran serial Supernova: Partikel karya Dee di Surabaya. Ia bercerita para pembeli sudah mengantre sejak pagi dan buku-buku tersebut bahkan sudah menjadi rebutan sebelum sempat ditata di rak display oleh pegawai toko buku. Saya penasaran. Ketika SMP dulu saya pernah membaca Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh yang juga merupakan serial Supernova. Ketika itu saya tidak membacanya hingga selesai. Saya tidak paham kalimat-kalimatnya. Saya tidak suka. Saya tidak pernah lagi membaca pun membeli karya-karya Dee selanjutnya. Namun, melihat antusiasme kawan saya itu, saya penasaran juga. Akhirnya terbelilah Partikel. Dan ternyata saya jatuh cinta padanya sejak halaman pertama. Saya telah memberinya kesempatan kedua dan ternyata kami berhasil melaluinya. Saya tergugah oleh cara Dee bercerita, topik yang ia angkat, spiritualisme, pencarian jati diri, penglihatan ke dalam diri. Saya menangis bersama Zarah, saya marah kepada Ibu, saya rindu dan salut pada Firas. Saya terhanyut dalam alirannya. Segalanya sempurna di mata saya, terlihat begitu nyata hingga saya percaya. Saya percaya alien itu ada. Hahaha.

Kemudian mulailah saya membeli serial Supernova lainnya. Membacanya satu per satu, menyusul ketertinggalan saya. Saya kemudian paham alasan saya tidak menyukai tulisan Dee ketika SMP dulu: kemampuan otak saya belum sampai di sana. Semakin saya membaca, semakin saya hanyut dalam topik spiritualisme yang diangkat Dee. Saya mulai belajar meditasi untuk menyembuhkan sakit dan menenangkan pikiran setelah membaca Petir, saya tertarik memperluas wawasan saya soal agama karena membaca Akar, dan saya bagaikan membaca kisah hidup sendiri dalam Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hanya saja dengan akhir yang berbeda. Pendek cerita, kisah yang Dee tulis telah mempengaruhi saya dengan cara yang positif. Saya kemudian memilih menjadi vegetarian, belajar mengurangi konsumsi obat, lebih memperhatikan kesehatan dan mendengarkan tubuh, belajar lebih sabar, bersyukur, dan menghormati perbedaan. Banyak hal baik yang saya pelajari dan hingga hari ini saya masih belajar.

Perubahan-perubahan itu ternyata memberi kekuatan yang sangat besar bagi saya. Saya mampu melewati masa terberat hidup saya dengan lebih tenang, lebih baik, lebih kuat. Saya tidak merasa terpaksa karena mulai bisa menerima segalanya sebagai jalan hidup yang tak bisa dihindari. Saya belajar menerima lalu dengan sendirinya saya jadi lebih kuat. Saya mulai merelakan, kemudian saya jadi lebih berbahagia. Kami akhirnya memutuskan untuk berpisah jalan, berusaha untuk mengakhiri semuanya dengan baik-baik. Mustahil untuk menghilangkan perih, namun kami bersepakat untuk tidak mengungkit-ungkit. Kami jalani saja jalan yang terbentang di bawah kaki kami masing-masing sambil mempersiapkan diri menghadapi apapun itu di depan sana.

Saya selalu percaya semesta ini bekerja dengan cara yang luar biasa. Ia selalu punya kejutan-kejutan yang layak dinanti, entah itu perih atau bahagia yang gilang-gemilang. Seperti Partikel ini yang datang begitu saja saat saya butuh bantuan, yang kemudian membantu saya melalui titik balik, menarik saya dari bawah kerikil, untuk berdiri lagi menghadapi hari. Saya ingin mengutip satu kalimat yang sayangnya saya lupa diucapkan oleh siapa dan disebutkan di mana: if you have hit your rock bottom, your only way is up.

Selamat melalui titik balikmu, Kawan.

20131115-230305.jpg

15 November 2013
Ditulis untuk #5BukudalamHidupku Hari ke-4

Advertisements

One thought on “#5BukudalamHidupku Perubahan Besar: Sebuah Titik Balik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s