Aku Memilih Merawat Senyummu dan Tak Ikut Campur Soal Lukamu

aku memilih merawat senyummu dan tak ikut campur soal lukamu
dengan cara mengumpulkan sinar pertama fajar setiap subuh
yang kukemas dalam toples kaca erat berpenutup
untuk kuletakkan di bawah jendelamu
untuk kau nikmati dari balik selimut

aku memilih merawat senyummu dan tak ikut campur soal lukamu
karenanya kupilihkan apa-apa yang jadi kesukaanmu
senyuman yang tulus, pelukan yang sungguh, teman bicara yang riuh
atau sekadar jadi pendengar tentang apa-apa yang jadi kesukaanmu

aku memilih merawat senyummu dan tak ikut campur soal lukamu
yang katamu tak lebih dari masa lalu
yang kerap tetap mengganggu tidurmu

aku memilih merawat senyummu dan tak ikut campur soal lukamu
kecuali bila kau minta aku meredakan segala ngilu

maka, pada saat itu akan kurawat senyummu sembari menyembuhkan luka bersama waktu

desember 2013

Advertisements

Suatu Sore di Taman

“Bagaimana kabarmu?”

Perempuan yang duduk di sampingnya tersenyum. Garis bibirnya menarik lebih banyak lagi kemerut pada wajahnya. Kacamata berlensa tebal bertengger dengan anggun di batang hidungnya, susah payah membantu memantulkan warna dunia.

“Baik.”

Lelaki yang bertanya tersenyum. Suara itu menua dengan baik. Sebaik wajah yang tersenyum di hadapannya. Tangan kanan sang perempuan mengusap lembut pipinya sementara tangan kirinya menggenggam erat jemarinya.

“Ada kerutan baru di wajahmu. Beberapa malah. Padahal baru setahun yang lalu kita bertemu.”

“Setahun itu waktu yang cukup lama, Sayang.”

“Dan kau masih juga memanggilku Sayang.” Perempuan itu tertawa. Separuh terkekeh sebab tawanya juga dimakan usia. Sang lelaki tua mengeratkan genggamannya.

“Setahun itu membuatku rindu padamu.”

“Apakah rindu masih relevan di usia kita yang sekarang?” Tanyanya pada sang perempuan.

“Aku rasa selama aku masih mampu mengingatmu, rindu itu akan selalu ada.”

“Maka, rajin-rajinlah kau membaca dan minum suplemen antipikunmu.” Sang perempuan kembali tertawa lepas dengan separuh terkekeh.

“Kau juga jangan sekalipun alpa mengisi lembar teka-teki silang dan minum obat kuat untuk jantungmu.”

Mereka berdua melepas tawa, menghangatkan sore yang basah selepas hujan. Pohon besar yang menaungi mereka sesekali memercikkan sisa hujan ke wajah dan rambut keduanya yang telah lama berubah putih. Di kejauhan terdengar klakson kendaraan. Gemericik air mancur di tengah taman meredam kesibukan pengguna jalan. Beberapa anak muda yang berlalu-lalang memandangi mereka dengan iri. Sepasang lanjut usia duduk di taman sambil saling menggenggam tangan. Tersenyum sambil bertukar cerita. Sepasang yang seperti telah menghabiskan sebagian besar hidup bersama.

Sang perempuan merebahkan kepalanya di bahu sang lelaki. Tangan kanannya merangkul lengan sang lelaki dengan hangat. Hidungnya menghirup aroma sweater kesukaannya. Masih sama. Tak berubah sejak lima puluh delapan tahun yang lalu.

“Selamat ulang tahun, Nuga.”

“Selamat ulang tahun, Rana.”

Tangan kiri Nuga mengusap-usap bahu Rana dengan lembut. Kepalanya disandarkan pada kepala Rana yang bersandar di bahunya. Anak-anak angin meniup rambut putih mereka pelan-pelan. Helai-helai rumput menggoyangkan tubuhnya, butir-butir hujan berjatuhan. Di kejauhan matahari bersiap tenggelam.

“Sepertinya ini akan jadi perayaan ulang tahun kita yang terakhir. Sayang tak ada kue ataupun lilin.” Usapan di bahu Rana berubah jadi rangkulan yang mengerat.

“Kenapa begitu, Sayang?” Nuga tetap bertanya walau ia sudah punya jawabannya.

“Karena kita sudah tak muda lagi. Ini adalah tahun kita yang genap kedelapan puluh. Aku merasa sudah tak sesehat dulu. Dan kau tahu Jakarta – Ubud bukanlah jarak yang tak jauh untukmu. Aku pun tak yakin akan bisa bangun dari tempat tidurku setahun lagi.”

“Maka, biarkan aku berjaga di sampingmu.” Kedua pasang mata mereka mengerjap, memberi isyarat pada air mata untuk diam saja di tempatnya.

“Kau tahu itu tak mungkin. Anak-anak dan cucu-cucumu tak akan mengerti. Pun istrimu.”

“Tapi kau sendirian, Rana.”

“Reza akan pulang kapanpun kupinta.”

“Ah, anakmu itu memang sangat berbakti tapi kamu juga tahu perlu beberapa waktu untuknya tiba dari Amerika. Bagaimana jika kau membutuhkannya ada dengan segera?”

“Ada beberapa perawat yang menemaniku di rumah. Mereka mengurusku dengan sangat baik.” Nuga menggeleng. Rana tersenyum.

“Kau beruntung ada Lila yang menjagamu.” Rana berkata lagi. Setelah berpuluh tahun, pengucapan nama itu ternyata masih meninggalkan getir di lidah. Nuga terdiam.

“Nuga, apakah kita berdosa? Apakah kita berdosa karena berselingkuh? Apakah bertemu denganmu diam-diam di taman ini adalah berselingkuh?” Nuga terdiam sejenak.

“Kalaupun ini adalah dosa, aku akan dengan senang hati menemanimu di neraka.” Rana tersenyum.

“Seharusnya kau bertanya dulu maukah aku tinggal di neraka.” Nuga terbahak.

“Pertanyaan itu seharusnya diajukan puluhan tahun yang lalu. Sekarang sudah sangat terlambat.” Mereka terbahak.

“Kenapa dulu kau tak menikah lagi saja, Rana? Kau punya banyak waktu setelah Wira meninggalkanmu.”

“Ah, Nuga. Masih perlukah kau bertanya?” Sekali lagi Nuga terdiam.

“Terima kasih, Rana, sudah mencintaiku begini besar.” Rana menepuk-nepuk lengannya penuh sayang, lengan satu-satunya lelaki yang tak bisa henti ia cintai.

“Maafkan aku meninggalkanmu waktu itu.”

“Tidak, Nuga. Kau tak perlu meminta maaf. Kita sudah paham tempat masing-masing kita berdiri. Kita sudah tahu sejak awal hubungan kita tidak akan berhasil. Kau hanya bisa kupuja tanpa sekalipun terimani. Lagipula kita sama-sama tak tega menyakiti orang tua kita. Kau ingat itu?” Nuga mengangguk perlahan. Ia teringat ibunya yang sangat ia cintai, yang sangat Rana cintai.

“Rana..”

“Hmm…”

“Berjanjilah kau akan menungguku. Berjanjilah kelak di kehidupan selanjutnya kau mau melawan dunia bersamaku.”

“Apapun itu, Nuga. Apapun itu..” Air mata perlahan menyusup dari ujung matanya. Tangan Nuga gemetar mengusap helai-helai rambut Rana yang seputih awan. Perempuan kesayangannya telah menanggung besarnya cinta sendirian. Yang mampu ia berikan hanyalah satu hari dalam setahun untuk merayakan ulang tahun mereka di sini, di taman ini, di bawah senja yang kelak jadi tanda setiap perpisahan mereka.

“Rana, berdoalah semoga Tuhan-Tuhan kita sepakat untuk mengambil kita bersamaan agar jadilah kita sehidup semati yang sesungguhnya.” Nuga hanya mendengar isak pelan Rana dan merasakan anggukan kepalanya di bahunya. Dirangkulnya Rana dengan hangat. Ditempatkannya Rana di dadanya yang tak lagi bidang. Ia tahu di sanalah Rana ingin selalu berumah, menyimpan kesedihannya, mencari perlindungannya. Dibiarkannya Rana menghanyutkan seluruh tangisnya. Dibiarkannya dirinya merasakan jadi benteng perlindungan terakhir perempuan terkasihnya. Angin bertiup semakin kencang. Malam dibawa di sayapnya dengan segera.

“Kau pulanglah, Rana. Hari sudah lewat senja.” Rana meninggalkan hangat dada Nuga. Ditatapnya wajah cinta sejatinya.

“Mari kita pulang bersama.”

“Tidak, Rana. Kau pulanglah lebih dulu. Aku ingin menatap punggungmu. Kau sudah terlalu sering melihat punggungku yang menjauh. Sekarang biarkan aku yang melakukannya untukmu.” Tubuh Rana gemetar dipenuhi isak. Ia ingin menolak. Ia tak ingin berpisah. Nuga berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangan pada Rana. Senyum manisnya terulas sempurna. Matanya masih sembab berkaca-kaca. Rana ragu sejenak. Namun, disambutnya juga uluran itu. Ia berdiri berhadap-hadapan dengan Nuga. Nuga mengusap rambutnya dengan lembut.

“Kau tahu, Rana? Waktu membuatmu semakin cantik namun ia membuat rinduku padamu semakin buruk.”

“Ia juga membuat cintaku padamu semakin buruk tiap harinya. Tak ada harapan untuk meloloskan diri darinya.”

“Maka, jagalah dirimu baik-baik, Rana. Hari-hari setelah ini akan terasa kering dan hambar. Kumohon ingatlah selalu betapa aku mencintaimu.”

“Aku pun mencintaimu, Nuga, selama sisa waktuku yang sedikit ini.”

Senja memerah di ujung barat. Tubuh mereka berangkulan erat. Kemudian sang perempuan tua berjalan perlahan, tertatih, namun tak lagi menoleh ke belakang. Sang lelaki tua memandangi punggung sang perempuan, menahan isak sembari memegangi dada.

Desember 2013

Badai

Hujan turun lagi, Sayang
Jendela kita dipenuhi luruh peluhnya
Entah peluh entah air mata yang jatuh
Riuh berdebum di perut bumi
Jalanan di bawah kita membeku sebab dingin air yang mencair
Pepohonan favoritmu di ujung taman payah menahan bayu
Gelap, Sayang
Tempat kita meringkuk begitu gelap
Ini bukan badai yang dikandung langit
Inilah gusar karena merindukanmu
Adalah titah untuk kepulanganmu
Kupeluk tubuhmu yang sekarat erat-erat
Meminta langit bersabar sebentar
Ada kalimat-kalimat yang belum selesai
Ada perasaan-perasaan yang tak pernah usai

Sayang, ini bukan badai yang dikandung langit
Inilah kepergianmu yang mengguncang dunia kecil bernama Aku.

Desember 2013

Hal-Hal yang Mustahil

Hal-hal yang mustahil itu ada, Sayang
Seperti rencana-rencana kita bertukar cangkir kopi
yang lalu urung sebab aku telah pergi saat kau baru berlari kembali,
menyesali persimpangan jalan kita sekali lagi.

Aku hanya ingin menukarkan peluk dengan perpisahan
Menaruh titik pada kalimat kita yang berkepanjangan
Tapi memang ada hal-hal yang mustahil, Sayang
yang tak pernah terjadi tak peduli seberapa letih kita menanti.

Hal-hal yang mustahil itu ada, Sayang
Seperti menutup duka dengan segera,
Menjawab sekian tanya yang mendera,
Meninggalkan siapa yang kita anggap samudera.
Rencana kita yang dimentahkan semesta hanyalah perpanjangan napas untuk kata-kata yang sama: mustahilkah menyelesaikan kita?

Desember 2013

Perempuan di Kedai Kopi

20131204-212738.jpg

Aku memilih tempat dudukku yang biasa. Meja dengan satu kursi itu terletak di sudut depan kedai kopi langgananku. Kursi kayunya ditata menghadap ke tengah ruangan. Di samping kiriku pintu kedai kopi sesekali membuka sambil membunyikan lonceng kecil di atasnya setiap kali pelanggan datang. Sudut itu sudut sempurna. Aku tak perlu kursi tambahan sebab aku tak pernah menambahkan orang pada acara minum kopiku yang privat. Aku tak pernah memilih kursi lain yang ditata dekat jendela sebab lalu-lalang kendaraan di jalanan membuat kepalaku pening. Aku pun tak pernah ingin pindah ke kursi-kursi di tengah sebab berada di antara membuatku merasa terkepung. Di sudut berkursi tunggal ini aku bisa sendiri, mengamati tingkah sesamaku, sekaligus merayakan sepi.

Sepi. Kesepian. Ialah sebuah kata yang menurutku menerbitkan kasihan. Aku tak suka disangka kesepian. Sekalipun aku sendirian, aku tak pernah merasakan sepi. Dunia ini terlalu hingar hingga kadang tak bisa kudengar suaraku sendiri. Di sudut depan kedai kopi inilah aku bercakap-cakap dengan bisik kecil di dalam kepalaku. Lihat. Aku tak pernah kesepian.

Kedai kopi ini pun tak pernah sepi, tak pula selalu ramai, hanya sebuah kedai sederhana di pinggir jalan utama. Aku biasa mengunjunginya sepulang kerja atau di akhir pekan apabila sepanjang minggu pekerjaanku tak memberi waktu luang. Wajah-wajah di dalam sini sebagian besar sudah kukenal. Aku memang tidak pernah bercakap-cakap dengan pengunjung lain. Sudah kubilang waktu minum kopi adalah waktu penuh privasi. Cakap-cakapku hanya sebatas pesanan kopi dan basa-basi soal pekerjaan dengan barista dan para pelayan. Namun, karena aku adalah pengunjung tetap yang selalu duduk di sudut yang sempurna untuk pengamatan, dengan mudah kukenali wajah dan kebiasaan para pengunjung kedai.

Di antara wajah-wajah dan kebiasaan yang kukenal dan mulai terasa membosankan, di beberapa kali kunjungan terakhirku aku menemukan sesosok perempuan yang menarik perhatian. Aku tak ingat pernah melihatnya dulu. Seingatku ia mulai datang ke kedai kopi setelah kedai ini selesai direnovasi. Ya, aku yakin pada saat itu. Ia duduk tepat di sudut lain kedai, berhadap-hadapan dengan meja berkursi tunggalku, dihalangi barisan meja dan kursi-kursi di tengah ruangan. Kurasakan sorot matanya yang tajam mengamati seisi ruangan. Aku ragu-ragu memperhatikannya. Setiap kali matanya akan bertemu dengan mataku, segera kualihkan pandangan pada cangkir cappuccino di hadapanku. Entah mengapa aku begitu ragu bertemu mata dengannya.

Usianya kira-kira pertengahan dua puluh, sepantaran denganku kurasa. Rambutnya berpotongan bob yang chic, diblow rapi hingga ujungnya melengkung sempurna di dekat leher jenjangnya. Apabila ia datang di hari kerja, wajahnya akan tampak sedikit lelah. Kuduga ia baru pulang bekerja. Di akhir pekan ia akan datang dengan wajah yang lebih segar dalam balutan jeans dan t-shirt yang kasual. Ia selalu datang sendirian. Duduk di kursi pojok itu seorang diri, memesan secangkir cappuccino untuk dirinya sendiri. Kadang ia duduk membaca berjam-jam, sesekali menulis, pernah ia hanya termenung memandangi pengunjung berlalu-lalang di tengah kedai kopi.

Di hari pertama aku melihatnya, ia sedang membaca. Matanya terfokus pada sebuah buku bersampul hitam. Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Ah, aku punya sebuah pula yang selalu kubawa ke mana saja. Aku suka membaca ulang buku ini sambil tertawa-tawa. Entah mengapa aku merasa buku ini penuh dengan candaan cerdas dan satir yang membuatku tertawa dalam manis dan getir. Kulihat perempuan itu pun sesekali tertawa sambil membalik halaman demi halaman. Ia terlihat sangat menyukai buku itu, sangat menyukai membaca. Kulirik sebentar matanya. Bahkan dari jarak seperti ini bisa kulihat binar-binar kecil di sana. Aku tersenyum. Perempuan itu terlihat sangat menyenangkan.

Pada kunjunganku yang berikutnya, ia juga ada di sana. Di kursi di sudut yang sama. Dengan jarak dan meja kursi yang serupa. Kali ini ia tidak membaca. Ia termenung dan menatapi saja meja kursi dan para pengunjung kedai. Aku tahu ada sesuatu berkecamuk dalam kepalanya. Rambutnya tak lagi melengkung sempurna. Beberapa helainya mencuat ke sini dan ke sana. Samar-samar kulihat rona kemerahan di pipinya. Pipi kirinya. Hanya di pipi kirinya. Warnanya tak serupa dengan perona pipi yang biasa kupakai. Tak pula serupa dengan warna pipi yang satunya. Warna yang ini terlihat mengandung perih dan panas yang perlahan merambat ke dada. Matanya tak lagi menyimpan tawa. Ada lubang hitam di sana, terbuat dari jasad bintang-bintang yang sebelumnya kulihat bercahaya. Lalu perlahan matanya serupa cermin. Selapis tipis cairan bening menunggu jatuh jadi embun. Matanya yang sebelumnya penuh binar kini jadi mata air air mata. Aku tertunduk, menghindari tatapannya. Sebutir embun jatuh ke cangkir cappuccino dari mataku.

Terakhir kali aku melihatnya duduk di sudut yang sama di ujung kedai kopi, ia terlihat berbeda. Ia sumringah. Mata itu menemukan kembali binarnya. Bintang baru seperti telah lahir di jagadnya. Ia mencatat sambil tersenyum-senyum. Sesekali matanya menerawang seolah sedang mencoba menangkap pemikiran-pemikiran yang melayang di udara. Sering ia menoleh pada telepon genggamnya, memijit-mijit tombolnya dengan senyum tetap terulas sempurna. Aku menduga ia sedang jatuh cinta. Pastilah pria itu seorang yang begitu istimewa hingga mampu membuat pipinya bersemu merah tak ada beda pada kedua sisinya. Rambutnya tak lagi melengkung sempurna sebab telah ia pangkas hingga leher jenjangnya terlihat terbuka. Mungkin ia hendak membuang masa lalu, mungkin pula lelaki itu telah mengajarinya perihal keberanian dan melupakan yang pilu-pilu. Yang jelas saat itu ia terlihat begitu bercahaya, menyimpan bahagia yang sinarnya menyusup keluar dari pori-pori di sekujur tubuhnya. Aku menunduk menatap cangkir setengah tandasku. Aku pun tersenyum.

Sore ini aku bertemu lagi dengannya. Ia masih di sudut yang sama, aku masih di sudut berkursi tunggal dan meja. Pengunjung sedang tak banyak. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sudut ini. Ia terlihat lebih redup dibandingkan saat terakhir aku melihatnya. Benaknya seperti menyimpan gerimis, bukan hujan, hanya gerimis kecil. Aku bertanya-tanya. Ke mana perginya lelaki istimewa itu? Kulihat pipinya. Ronanya masih sama. Rambutnya masih sempurna, hanya saja terlihat sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Ia menatap telepon genggamnya. Kadang tersenyum manis, lalu berganti jadi senyum yang getir. Berkali-kali ia menghela napas, terlihat seperti sedang menenangkan luka lalu mencatat sesuatu dengan mata yang kelihatan sendu. Aku menduga lelaki istimewa itu tak mencintainya. Ah, aku terlalu jahat berpikir sejauh itu. Aku bahkan tak mengenalnya, aku bahkan tak mengenal lelaki itu, bahkan tak tahu apakah benar ada sang lelaki istimewa seperti khayalanku. Aku sedang memberanikan diri menatap wajahnya ketika mata kami tak sengaja bertumbukan. Jantungku melompat. Aku terpana, ia terdiam. Aku berpikir sejenak lalu kuputuskan untuk berkenalan dengannya. Aneh rasanya menemui sosoknya berkali-kali, memikirkannya berhari-hari, namun tak pernah kutahu siapa namanya. Aku mengatur napasku lalu beranjak dari kursi tunggalku. Kulihat ia pun berdiri. Jantungku berdebar kencang. Kumantapkan langkah menujunya. Ia pun menujuku. Mata kami bertatapan. Aku tersenyum. Ia tersenyum. Kami mendekat. Jarak terlipat. Kuulurkan tangan. Pun ia. Kuraih jabatnya. Kemudian yang kurasakan hanyalah dingin beku dinding kaca.

Desember 2013