Secangkir Kopi, Sebatang Rokok, dan Pantai di Pagi Hari

“Kaulupakan saja aku.”

Begitu katanya. Satu tangan merogoh saku baju dan mengeluarkan sekotak rokok berbungkus kelabu. Entah dari mana ia mendapatkannya. Kuduga dari ibu pemilik warung di sebelah. Lekas ia memilih satu lalu meletakkannya di bawah hidung. Setahuku sudah lama ia meninggalkan tembakau. Ah, atau aku saja yang sudah lama tak bersua dengannya?

Yang kudengar keluar dari diriku sebagai tanggapan atas permintaannya hanyalah satu helaan napas. Suara denting cangkir beradu sendok berdansa bersama aroma hangat cappuccino. Sudah lama aku meninggalkan kopi. Tak tahu bagaimana, pagi ini aku memilihnya kembali.

“Aku tak bisa,” jawabku, “kautahu hingga hari ini aku masih mencoba. Dan seperti yang kaulihat, ada aku di hadapanmu sekarang.”

Ia masih memainkan batang rokoknya. Tak kulihat ia mengeluarkan korek api. Matanya beralih pada cangkir kopi.

“Kaurindu kopi?”

Aku mengangkat bahu. “Aku tak tahu.”

“Aku rindu tembakau. Aku tahu kau tak suka, aku tahu tembakau tak baik. Aku hanya rindu.” Aku terdiam. Aku tak tahu seperti apa perkenalannya pada tembakau. Ketika aku bertemu dengannya, ia telah sangat menyukai tembakau, tergila-gila pada aromanya, kagum luar biasa pada asap yang dihembuskan setelah menyesap sebatang. Hingga pada suatu pagi batuknya tak kunjung berhenti. Ia menangis, takut tak bisa kembali. Aku hanya memeluknya, tak tahu harus berbuat apa.

“Kaubutuh paru-paru yang sehat.”

“Aku butuh paru-paru yang sehat,” ia mengulangi perkataanku sebagai persetujuannya. Ia mengetuk-ngetukkan batang rokok itu di meja kayu tempat cappuccinoku duduk dengan anggun. Aku menatap wajahnya, rambutnya yang basah, dan gerak-geriknya yang gelisah.

“Selain tembakau, kau juga rindu aku.., bukan?” selidikku. Ia terdiam. Lama sekali. Gelombang air mata mulai menyesak di kelopak mataku. Yang selalu kuinginkan adalah dua, memeluknya di sini dan tak pernah melepaskannya lagi. Yang ia inginkan hanyalah satu, pulang.

“Siapa yang tidak?” jawabnya setelah lama terdiam. Sorot matanya menembus jantungku, seperti belati yang ditusukkan di sana lalu diputar perlahan demi kerusakan yang lebih nyata. Perih dari jantung berebut naik ke rongga mata. Butiran air hujan di sana hilang seimbang lalu melayang jatuh ke pangkuan. Aku menangis. Setelah sekian lama.

“Kaulupakanlah aku. Aku hanya akan menjadi luka di hatimu.”

“Kau sendiri bisakah melupakan aku?” Dengan sengit aku bertanya. Ia memandangku dengan tatapan lelah. Ia lelah. Aku lelah. Sebagai jawaban, ia menggeleng lemah.

“Lalu untuk apa kaumemintaku melupakanmu? Jangan memintaku melakukan hal-hal yang tak mampu kaulakukan!” Cangkir cappuccinoku bergetar pelan. Tubuhku gemetar hebat. Matanya semakin lelah. Tangannya menggenggam milikku erat. Aku menepisnya lalu meraih cangkirku dan mulai menyesap isinya. Pahit, legit, dan asin air mata. Ia membuang pandangan ke laut di samping kami. Gemuruh ombak terdengar di kejauhan. Di tepi pantai sini hanya ombak kecil berlarian.

“Kautahu, Sinar, pantai ini seperti dirimu. Ia tenang di hadapan orang banyak namun bergemuruh jauh di dalam dadanya. Kautahu kaubisa melakukan apa saja namun kaumemilih untuk menyerah. Kautahu yang di hatimu itu gelisah namun kaumemaksa diri untuk tak mendengarnya.”

“Apa maksudmu?”

“Sejak awal kautahu semua tentang kita adalah kemustahilan. Mustahil kita bersama, mustahil kita berdua. Namun, kau tak henti memaksa dirimu untuk percaya bahwa kita ini ada. Kita tak ada, Sinar. Tak ada. Yang ada hanya aku dan kamu, tak pernah kita.”

“Kalau begitu, seharusnya mustahil juga bagi kita untuk saling melupakan!” Aku masih menyerangnya dengan sengit. Kulihat ia terkejut. Kulihat wajahnya berubah pasi. Ia tahu aku benar. Aku tahu ia mulai menyerah. Kami diam. Laut di kejauhan sana masih riuh bergemuruh.

“Sinar, maafkan aku. Aku tetap harus pergi.” Aku menatapnya tak percaya. Air mataku menganak sungai, tak tahu malu.

“Biarkan aku ikut, Ari.”

Ia menggeleng sambil bergegas berpindah duduk di sebelahku. “Maafkan aku. Kautahu seberapa besar inginku untuk mengajakmu serta. Sayangnya aku tak punya pilihan itu.”

Tak ingin melihatku lebih koyak, ia lalu memelukku seerat yang ia mampu. Aku tak punya kekuatan melawan hangat tubuhnya. Di pelukannya aku tersedu, membiarkan gemuruh, yang ia bilang ada di dadaku, tumpah jadi badai di dadanya.

“Sinar, walaupun aku pergi, sudikah kau jadi rumah tempatku pulang nanti?” Benar. Ia menyerah. Tangisku semakin deras mengalir. Teganya ia. Teganya ia. Teganya dunia. Aku hanya mampu mengangguk dalam dekapannya. Ia mengeratkan pelukan.

“Ari, walaupun jalan kita berbeda, kelak kita akan tiba rumah yang sama. Kumohon bila saat itu tiba, jangan pernah pergi lagi.” Ari mengangguk mantap. Ia menyentuhkan bibirnya di kepalaku kemudian melonggarkan pelukan. Kami melepaskan tautan. Aku menatap wajahnya sekali lagi, sebaik-baiknya, rambutnya yang basah, matanya yang sebening kaca, dan menyimpannya rapat-rapat untuk bekal di perjalananku. Ari mendekatkan wajahnya padaku, mengecup pelan bibirku, lalu tersenyum untuk kali terakhir.

“Aku pergi.”

“Hati-hati,” kataku dengan berat hati.

“Kau juga,” balasnya. Ia berlari menuju kaki pantai yang tenang, berenang jauh ke tengah, lalu berbalik untuk melambai padaku. Segera setelah aku membalas lambaiannya, ia melompat ke dalam samudera. Kilau cokelat rambutnya samar-samar terpantul di permukaan, ekor ikannya yang telah sempurna berubah berkecipak di antara gelombang. Lalu ia menghilang. Sepi. Hanya ada aku, kopi dingin, dan pantai yang menyongsong pagi. Batang rokoknya berguling pelan dari meja, jatuh menjemput pasir di sela jari kakiku.

Januari 2014
Pada satu Sabtu pagi di Sanur

Andai Saja

Andai saja kautahu setiap kali lelahmu berkunjung, aku hendak menyibak helai-helai rambutmu dan mengecup keningmu dan dengan sungguh berbisik semua akan baik saja andai kaubersamaku.

Andai kaubersamaku.

Januari 2014

Jarak

Kaumau dengar pendapatku tentang jarak, Sayang? Ia sepenuhnya relatif. Ketika aku bangun di pagi hari karena udara musim gugur menggigiti kakiku, jarak terasa begitu memisahkan. Namun ketika suratmu datang bertamu di kotak posku suatu pagi, jarak tak lebih dari deretan angka dengan satuan hitung di belakangnya. Kata-katamu buktinya telah sampai di telingaku, ujung sobekan kertas dari buku catatanmu telah membelai ujung jariku, hangat udara tropis menguar dari dalam amplop biru. Suratmu telah mengalahkan jarak. Tak ada samudera yang dapat mengalahkanmu.

Demi melihat kekalahan jarak yang lebih banyak lagi, aku setia menanti surat-surat darimu. Pun menulis balasan-balasan untuk mereka. Setiap pagi kutengok kotak pos bernomor unit apartemenku, menyisihkan lembar-lembar promosi dari restoran Cina dan Italia di ujung jalan, mencari-cari sepucuk surat dengan nama dan alamatmu di bagian belakangnya. Kautahu aku tak banyak menerima surat di sini. Kautahu isi kotak posku tiap pagi kebanyakan adalah surat sampah dan menu restoran yang beberapa kupilah untuk kutempelkan di pintu kulkasku. Siapa tahu aku kelak membutuhkannya saat tak tahu harus makan malam dengan apa. Aku pernah menceritakan soal ini dalam salah satu surat yang kukirimkan untukmu, bukan? Aku ingat kaumembalasnya dengan bertanya menu apa yang paling aku sukai dari semua daftar yang kutempelkan di pintu kulkasku. Kujawab pizza marinara dari sebuah resto Italia tiga blok dari apartemenku. Kenapa? Sederhana saja: karena itu kesukaanmu. Ada keheranan dalam surat balasanmu kemudian. Kenapa harus karena aku, tanyamu ketika itu. Sebab kaulah yang mengubah hidupku, jawabku.

Kau pernah bertanya soal seberapa jauh jarak kita. Kenapa kau tidak membuka halaman mesin pencari di internet dan mulai mengetik nama kota tempat kita masing-masing berada? Aku tahu pertanyaanmu retorikal. Kau tentu sudah hapal deretan angka penanda antara kita. Kita pernah sama-sama mencarinya, malam itu, di kamar kontrakanku, ketika aku memberitahumu rencana keberangkatanku untuk pertama kalinya. Ialah sejauh dua ribu lima ratus tujuh puluh sembilan kilometer atau seribu enam ratus tiga mil atau seribu tiga ratus sembilan puluh tiga mil laut. Cukup jauh, katamu waktu itu. Walaupun aku yakin kita sama-sama tak dapat membayangkan wujud jarak ribuan kilometer itu. Cukup jauh untuk kita bisa saling merindu, balasku. Kemudian kaumencium keningku dengan khidmat dan syahdu, sembari di kepalaku kaumenanam bibit-bibit pohon rindu.

Ah, kembali pada pertanyaan di suratmu kala itu. Seberapa jauh jarak kita? Aku katakan padamu dalam balasanku: jarak kita tetap dua ribu lima ratus tujuh puluh sembilan kilometer atau seribu enam ratus tiga mil atau seribu tiga ratus sembilan puluh tiga mil laut. Ia dapat ditempuh dalam waktu tiga jam dan tiga puluh menit penerbangan menuju barat Australia, atau beberapa hari perjalanan pos, atau seketika itu juga dengan percakapan lewat telepon dan internet. Tidak ada jarak yang tidak bisa kautaklukkan di hari ini, Sayang, selama masih kausimpan kesayanganmu di dalam hati. Jarak di antara kita tetaplah deretan angka ribuan, namun ia juga tetaplah tiada di dada kita. Karena itu, aku sungguh yakin jarak adalah relativitas.

Suatu kali aku bertanya padamu, mengapa kita tak bicara saja? Kita bisa bertelepon atau memanfaatkan teknologi aplikatif bernama Skype supaya aku bisa mendengar sekaligus menatap matamu. Terkadang aku tak cukup sabar untuk menanti surat-suratmu. Benih-benih rindu yang kautanam di kepalaku malam itu ternyata bertumbuh lebih cepat dari dugaanku. Batangnya subur, daunnya rimbun. Buahnya lekas ranum lalu jatuh kembali ke dasar pikiranku, biji-bijinya tumbuh jadi pucuk-pucuk rindu yang baru. Aku tak pernah memupuknya tetapi pucuk-pucuk rindu tumbuh begitu subur. Aku sering lelah mengurusinya, memangkas ranting-ranting yang mencuat terlalu jauh, menyiangi daun-daunnya yang terlalu rimbun agar kepalaku tak jauh dari matahari. Aku tak mau isi kepalaku hanya sendu dan mendung bulan kesatu.

Kautertawa. Aku bisa mendengar tawamu menyusup dari balik huruf-huruf. Katamu suaramu justru akan jadi obat penyubur rindu di kepalaku. Suaraku akan jadi pemicu ledakan rindu di sekujur tubuh dan ruhmu. Kau akan meledak, aku akan meledak. Merasakan kehadiran satu sama lain hanya akan membuat rindu semakin menjadi. Lebih baik kita membisu dan membiarkan rindu-rindu itu belajar menunggu. Begitu jawabmu yang kemudian diaminkan aku.

Aku akan menikah.

Begitu isi suratmu pagi itu. Seketika duniaku gempa bumi. Tanah terbelah dan aku melesak ke dalamnya, ke dalam kegelapan, tak berujung, jatuh dengan cepat, tertarik menuju inti bumi, dan aku hanya bisa memejam, merasakan jantungku melorot dari rongga dada, tubuhku meluncur tanpa ampun. Kepalaku berputar. Tidak. Sekelilingku yang berputar. Perutku mulas. Kupu-kupu di dalamnya serentak mati tersapu wabah. Aku terhuyung, dihempas kenyataan tepat di depan mata, disergap kenyataan tanpa pernah mendapat kesempatan berjaga-jaga. Suratmu tak banyak memberikan penjelasan. Hanya bahwa perempuan itu satu kasta denganmu, masih saudara jauh ibumu, pilihan kedua orang tuamu yang diputuskan tanpa perdebatan yang berarti. Dan yang paling penting adalah, tak seperti aku, ia bisa menemanimu sembahyang ke pura, mengobrol dengan ibumu sembari menjahit lembaran-lembaran janur jadi persembahan yang cantik untuk dewa-dewi. Aku tahu kautak akan kuasa menolaknya, menolak titah ibu sang pandita ratu yang kasihnya tak akan mampu kaugantikan dengan mulianya batu-batu. Tak juga dengan cintaku yang melampaui jarak dan waktu, yang kita simpan diam-diam tanpa ada yang tahu.

Dan, Nuga, hari ini, tepat di hari pernikahanmu, aku akan pulang dan memangkas habis jarak di antara kita. Dari dua ribu sekian jadi beberapa kilometer saja, dari tiga jam penerbangan jadi tiga belas menit dengan berjalan, dari perih dinginnya udara iklim sub jadi sejuk semilir hawa Lodtunduh. Ribuan kilometer itu sudah akan tiada. Entah dengan yang ada di dada kita.

Desember 2013

Saat Kaumemasuki Ruangan dengan Sebelah Tangan Tergenggam

: Jeda

Sampai kapan kau akan sesakkan napasku, memenuhi rongga dadaku dengan perih yang tak kukenal? Tawa yang kaudengar sesungguhnya digemakan dengan setitik dingin yang menggigit hulu hati. Kau mungkin tak tahu bedanya. Aku mungkin semakin mahir berpura-pura.

Lalu apa? Aku berdiri memunggungi, melindungi dadaku yang hampir pecah, menadahi butir-butir air mata yang hendak jatuh ke tanah. Tapi tetap saja senyummu tiba tepat di hadapan dan kurasakan darah panas mengalir dari dada ke sela jari tangan, tempatmu pernah mengeratkan genggaman.

Pernah aku menitipkan pesan pada malam sebelum kusadar ia tak lagi bersabda. Ia telah berubah bisu dan kau tak pernah mendengar aku menyisipkan rindu. Kemudian rindu berubah jadi luka yang kubawa tiap kali terlelap, yang setiap kali mewujud dirimu dalam mimpi yang gelap.

Hingga kapan kau kupanggil Kau padahal namamu telah di ujung lidah? Segala tentangmu selalu kupikirkan masak-masak, setiap perihalmu kuperhitungkan benar-benar. Kautahu aku tak suka berhitung. Kautahu aku hanya senang menuliskan namamu di langit, sebagai penggenap bulan dan bintang-bintang.

Lalu, sampai kapan kau akan sesakkan napasku, memenuhi rongga dadaku dengan rindu, senyum, dan gema gumammu di dekat telingaku?

Januari 2014

Selamat Tahun Baru

Selamat tahun baru, Pak.
Matahari sudah tinggi. Tak pergi bekerjakah kau ini hari? Pagi tahun baru biasanya mendatangkan rejeki. Sisa pesta warga kota bisa kaupulung jadi sepiring nasi.

Minah, tetangga sebelah gubug, telah ribut saja sejak pagi. Katanya naik sudah harga elpiji. Ia risau tak mampu menanak nasi dan berjualan mi. Kita memang tak pakai elpiji, Pak, tetapi nasi yang kaubeli saban hari di warteg pinggir kali ditanak dengan elpiji. Sebentar lagi sebungkusnya tak terjangkau jari-jemari. Jadi, kubungkuskan saja bekal nasi agar perutmu terisi. Memang hanya berlauk garam namun ia tak akan memberatkan saku kaus lusuhmu itu.

Sudah kauminum kopimu, Pak? Maaf pagi ini hanya ada kopi tanpa gula. Rupiah yang tersisa hanya sanggup ditukar secangkir beras. Kata orang-orang dalam radio, perdagangan kita sudah maju. Yang aku tahu, Pak, mereka mendagangkan apa-apa yang hari demi hari semakin tak mampu kita beli.

Dan Buyung harus membayar uang sekolah. Ujian akhirnya sudah dekat. Tegakah kita memutus persentuhannya dengan peradaban ilmu pengetahuan karena kita orang papa yang terbuang? Aku tak tega, Pak. Buyung berhak jadi pandai, Buyung berhak jadi juara. Siapa tahu kelak ia bisa jadi Menteri lalu mengentaskan kita dari gubug penuh pilu dan caci maki ini. Siapa tahu, Pak.. Siapa yang tahu?

Pak, selamat tahun baru. Aku cuma minta kaupulang segera setelah bekerja. Cuma kau yang kupunya setelah kita kehilangan pagi, kopi, dan kesempatan Buyung jadi Menteri.

Januari 2014

Di Kepala Ayah Ada Aku

Di kepala Ayah ada aku
yang beranjak dewasa dan lupa cara bermanja-manja

Di kepala Ayah ada aku
putri kecilnya yang tak lagi meminta pelukan

Di kepala Ayah ada aku
sedang mengulas gincu, bersiap bermalam minggu

Di kepala Ayah ada aku
dan langkah-langkah kakiku menyambut kamu di depan pintu

Di kepala Ayah ada aku dan sepi dan rindu

Malam tahun baru nanti, Ayah, mari kita memantik lagi kembang api
seperti Ayah dan aku dulu yang tersimpan lekat dalam kepalaku.

Desember 2013 – Januari 2014
di kepalaku (selalu) ada Ayah

Tuhan untuk Tuan-Tuan

Derap kaki memecah riuh
Kali ini mereka menjauh
Gedung angkuh itu bertambah kaku
Seorang tuan tanpa ampun mengetukkan palu

Derap kaki memecah teduh
Mereka resah sebab biasanya semua patuh
Seorang tuan dalam balai kota menyuruh mereka pulang saja
Tak hirau pada sebiji pun ancaman, pinta, pun murka

Derap kaki bagaikan lindu
Seribuan mereka berlingkaran hendak menyerbu
Seorang tuan dalam malam berdiri dengan teguh
Yang kesungguhannya memanggil para semut berdiri lebih tangguh

Pada langit kumintakan tuhan untuk itu tuan-tuan, yang berdiri sebagai bidak terakhir keadilan

Pada langit kumintakan tuhan untuk tuan-tuan sebab jalan kita masih terjal bermara

Januari 2014