Untuk Aquarius yang Lain

20140225-180234.jpg

Hai, Iit.

Bagaimana kabar Malang hari ini? Ah, alih-alih menanyakan kabarmu, aku justru menanyakan kabar kota tempatmu berada saat ini, demi menghindari pertanyaan basa-basi. Sesungguhnya ada satu prinsip yang kupegang hingga hari ini: selama kau masih mampu berkicau, aku asumsikan kau baik-baik saja.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bertemu beberapa hari lalu. Berbincang denganmu berarti keistimewaan untuk menengok ke belakang panggung. Ada wajah yang lelah, keluh yang nyata, pula sebuket bunga, dan kaca penuh cahaya. Kau seniman yang lihai menempatkan tirai di antara pertunjukan dan kehidupan. Kau adalah kicauan dengan jangkauan nada terjauh. Aku menyukai rendah suaramu di tepi taman ketika itu, beserta segala cerita soal kepulanganmu, rumah, dan damai yang seketika riuh disapu hujan yang ribut. Bagaimana sepatumu? Semoga lekat pekat lumpur berhasil habis kaulebur.

Terima kasih telah mengijinkanku melihat ke dalam hatimu. Kau tahu, menjadi tempat menaruh percaya adalah sekaligus restu dan pastu? Tetapi aku memeluknya dengan mafhum, tahu sesungguhnya menjelaskan lebih berat dari mendengarkan. Maka, di situlah aku, duduk mendengarkanmu sambil sesekali menjauhkan kotak rokok darimu.

Terima kasih untuk kesediaanmu membagi isi kepala. Senang rasanya bisa mengintip ke dalam sana, tak cuma lewat halaman-halaman karya yang telah sesak oleh puja-pujian. Aku memahami kekaguman mereka, aku pun punya sepasang yang memancar setiap kali aku menyimakmu bercerita. Aku tak punya banyak untuk ditukarkan dengan milikmu, pun tak pernah berjalan begitu jauh hingga kisahnya bisa kubagi denganmu. Karenanya, aku selalu duduk di situ, mendengarkanmu, hingga tiba nanti waktu aku punya cukup banyak cerita untukmu. Mungkin di persuaan kita yang berikutnya.

Ah, Iit, mungkin sebaiknya aku menemukan lelaki yang seperbintangan dengan kita. Hahaha.

25 Februari 2014
Untuk Iit Sibarani
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-25

Advertisements

Telur Mata Sapi

Segala yang berawal dari tanganmu adalah keajaiban.

Apa yang istimewa dari sepiring kecil berisi sebutir telur goreng yang mengepul hangat? Hanya piring dan telur itu. Hanya garam dan wajan yang keluh kusam di bak cucian. Menggoreng telur tak butuh bakat. Hanya wajan, minyak, dan telur yang sukarela meluncur turun dari cangkangnya. Tak kusangka, aku salah.

Apa yang istimewa dari sepiring telur mata sapi di piring kecilku? Hanya telur dan piring itu. Hanya garam dan lekat lemak minyak di wajan. Tak ada yang istimewa. Aku tak paham. Rasa-rasanya setiap langkah dan bahan telah patuh kujalankan, tetapi telur mata sapiku tak punya apapun hingga pantas disebut istimewa. Padahal, menggoreng telur tak kenal bakat, mungkin benar, ia perlu sedikit keterampilan.

Lalu, apa yang membuat telur mata sapi hangat buatanmu begitu istimewa, Ibu, renyah dan gurih di pinggirnya dengan kuning yang pekat setengah tanak? Bukankah itu hanya telur dengan percikan garam di permukaan? Hanya minyak dan wajan antilengket yang mulai lekat karena usia? Lalu, kenapa ia istimewa dan punyaku hanya biasa? Apa karena sihir atau cuma bumbu rahasia?

Mungkin cinta, Ibu, dugaanku mungkin karena cinta. Ia bergulir turun dari matamu yang kantuk lalu jatuh di tepian wajan. Mereka – telur dan cinta dan minyak – menari ria dipandu dentingan sutil, dipanaskan api yang kandil. Cinta dan dansa dan bahagia. Bagaimana mungkin ia tak jadi istimewa?

Kini aku paham, Ibu. Semua yang berasal dari kedua belah tanganmu adalah keajaiban. Hatimu adalah gudang mantra bernama cinta, tak berdinding, tak berpintu, tak bertepi. Aku tak percaya bila kasihmu tak lebih luas dari jagat raya. Aku hanya akan percaya bahwa jemarimu adalah awal dari alam semesta, dan karenanya kau selalu hidangkan seluruh kebaikan dunia bahkan dalam sepiring telur mata sapi yang sederhana.

Ibu, sesulit apapun aku, aku selalu mencintaimu, walaupun tak seberapa bila dibandingkan dengan milikmu.

22 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-22

Selamat Tinggal

Perpisahan adalah perihal menatap selekat-lekatnya kemudian melepaskan selekas-lekasnya.

Tanpa sadar aku memperhatikanmu. Aku tahu ada helai rambut yang jatuh lebih dulu dibanding yang lain, aku melihat bagaimana senyummu perlahan mengembang dari tak ada hingga kembali lagi ke tiada. Kau begitu hangat di mata. Kau meninggalkan jejak panas di dada.

Aku selalu memperhatikanmu. Dan kini kau tengah berjalan lurus menuju samuderamu. Kau tinggalkan kepingan-kepingan aksara di antara jejak sepatu di belakang. Berharapkah kau mereka kupungut? Karena aku telah memeluk dua patah di antaranya, sembari menatap punggung dan laut berganti-ganti.

Perhatianku adalah sungai gelap yang diam. Samudera di depanmu adalah lautan bergemuruh dengan ombak yang tak jeri memeluk pasir dan jemari kaki. Kau sudah berjalan ke arahnya. Ia sudah menanti dengan bintang-bintang bercermin di tubuhnya. Karenanya, ijinkan aku mengucapkan selamat tinggal. Bukan, bukan untuk berpisah darimu, melainkan dengan sebagian diriku yang mulai menginginkanmu.

20 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-20

When Will I See You Again?

Dear the city and my beloved citizen,

My suitcase followed my footsteps. The sound of its wheels moving on the floor somehow reminded me of all good memories. The memories of home.

I visited the city quite often, either for business or leisure. This was the only city where I felt okay for not having stars at night. Why did I need the stars if I had plenty of it in your eyes? I laughed to myself every time the little voice in my head said that phrase. Silly. I am.

People around me said I was crazy for always going back to the city. It was cruel, peevish shouts everywhere, hot and humid, traffic jam, not to mention the high criminal rate. It was miserable. But what could I say if my heart fell for it again and again? You did not need any reason to be falling in love. You just fell. But people around me insisted to find a reason for my strange amorousness. Then, they started naming you.

I felt the urgency to remind you that we were meeting each other long after my first visit to the city (defensive?). The later fact that you then lived there was another matter. Did not you think this universe was funny, a professional comic, for placing you there so I could keep coming for more (chance to meet you or not meet you)? I was suspicious that all those business and leisure were merely the universe’s scenario to keep me away from a-peaceful-whole-new-world-without-you. Oh, I heard the universe shouted no. But, it was not funny at all, actually. It was satire, if you would like to know my opinion.

And, yeah, you already heard the sound of my suitcase’s wheels. You knew I was coming again, either for business or leisure. And I found out the same question was still pounding in my heart: when will I see you again?

Sincerely,
The keep-coming-home-traveler

13 February 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-13

Nyonya Tua di Fatahillah

20140211-180356.jpg

(Foto diambil di depan Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. 10 Mei 2013)

Kepada perempuan paruh baya di depan Fatahillah,

Aku ingin tahu apakah kau dan matahari berkawan dekat sebab kau begitu akrab merangkul teriknya. Aku ingin tahu apakah kau berselisih paham dengan hembusan angin hingga tak hirau pada ketiadaannya. Pun bagaimanakah hidupmu hingga kau harus berdiri di depan situ di siang terik nihil hembusan angin itu.

Gedung tua nan gagah terbatuk-batuk di hadapanmu. Tiada yang mampu ia sajikan kecuali beberapa bongkah batu dan gambar-gambar berdebu. Masa jayanya telah lalu. Tegak berdirinya hanyalah penanda ego yang tiada habis dimakan waktu. Ego itu tak lagi dipahami para wanita dan laki yang berebut membuat diri abadi di bawah kaki-kakinya. Sesekali mereka menggagahi tembok dan mejanya tanpa tahu kejayaan macam apa yang di sana pernah bersemayam.

Aku mencintai Fatahillah, pula selendang mayang yang dijajakan di halaman tengah. Aku mengagumi riuh warna-warni sepeda tua yang berkeliling di halaman sekitar kita bercengkerama – kau dengan pengunjung yang melemparkan rupiah, aku dengan sosokmu yang tak kenal payah. Aku memandangimu dari belakang, terperangah pada sosokmu yang mencuri perhatian. Gain putihmu melambai setiap kali kau bergoyang perlahan. Sekilas tadi kulihat wajahmu yang kaupulas begitu saja dengan bedak tebal sewarna gaunmu. Peluh meninggalkan jejak-jejak serupa anak sungai kering di sana. Kau hendak jadi apa, Nyonya? Noni-noni Belanda?

Tak terbayang di benakku ombak apa yang membawamu tiba di depan lutut tua Fatahillah beserta segala gaun dan riasan yang dipulas begitu saja. Tak terbayang penatmu menahankan kerasnya siang dari langit Jakarta. Hidupkah yang sedang kaujaga nyalanya? Atau hanya kenangan di dada yang menuntut selalu minta direka? Aku tersadar. Pada diriku pernah kutanyakan pertanyaan yang sama.

11 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-11

Kamu Lagi

Halo lagi untukmu. Terima kasih untuk tak pernah sekalipun membiarkanku melupakanmu. Aku marah? Mungkin. Aku rindu? Bisa jadi.

Kita sudah membentangkan jarak sejauh mungkin, memelihara diam sesunyi mungkin, merawat luka seburuk mungkin agar ada alasan untuk kita saling melupa. Tapi apa? Jarak tak menghalangimu, sunyi hanya meneriakkan rindu, dan luka, luka adalah tempat kita bertukar pelukan dan menggenggam tangan sepanjang malam.

Kaukah pusat tata surya? Atau justru supernova, yang kubuat mati lalu memadat jadi lubang hitam dengan kekuatan penuh gravitasi? Hidupmu adalah terangku tempat bertumbuh, kematianmu yang kupaksakan dalam jantung adalah gelap tempat rindu membuat suluh. Keduanya menerangiku dengan caranya masing-masing, keduanya pemandu perjalanan paling setia. Kalau sudah begini, bagaimana aku hidup tanpamu? Lubang hitam hasil kematianmu telah bersarang dalam di dadaku, menghirup setiap cahaya yang tak cukup menerangi ruang hampa cahaya kita.

Aku meracau tentangmu. Aku melipat ribuan rindu lalu kuterbangkan ke angkasa. Berapa banyak yang kubutuhkan agar mereka jatuh jadi rintih hujan di pangkuanmu? Kau begitu jauh dan jauh di sini tak hanya perihal kilometer atau lautan, melainkan diam yang di dada kita kukuh bersemayam.

Sudahlah. Bila kita bukan sepatu, pastilah sepasang garis lurus yang sejajar.

10 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-10

Tentang Logika dan Puisi

20140209-143506.jpg

“Bila itu menyakiti lebih banyak orang, pikirkanlah sekali lagi.”

Kau, kawanku dengan sebenar-benarnya logika, dengan sebaik-baiknya pemikiran, seluas-luasnya pengalaman.

Sering aku bertanya-tanya dari mana pikiran-pikiran cermatmu itu berhulu. Kau begitu pandai menghitung sebab dan akibat, risiko dan hasil berbuat. Pun bertanya soal di mana segala pengetahuanmu itu bermula. Bila kau adalah bintang, pastilah yang paling bercahaya di jagat raya.

Aku adalah sabtu biru yang melankolik, yang gemar melihat dunia sebagai sesuatu yang puitik. Kau adalah derap pena pengoreksi di senin pagi yang membuat dunia puitikku menemukan jejaknya selain di dunia fiksi. Hidup ini keras, katamu, tak terhitung kenyataan yang getir, bahagia yang satir. Kadang kau harus mengorbankan diri agar tak mengorbankan hati yang lain, sering kau harus mengalahkan hati untuk memenangkan hal yang lain.

Desi, bentangan jarak kita memaksaku berlogika tanpamu, menghitung setiap risiko, mereka setiap rencana, menjaga kepalaku tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Tanpa kau di sini, kadang aku lepas kendali. Kumohon tetaplah mengaliri fiksi dan puisi-puisi dengan logika tanpa henti. Dan ijinkan aku, dirimu, atau entah siapa nanti untuk mengisi pikiran indahmu dengan kata-kata cinta paling puisi. Kau tak akan kehilangan logikamu, Sayang, seperti juga aku yang tak akan kehilangan puisiku.

9 Februari 2014
Untuk Desi yang sedang jauh di seberang samudera

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-9