Pulang ke Rumah(?)

 

            “Kautidur sajalah di rumahku.”

            Lelaki di hadapanku memandang dengan sungguh-sungguh. Ada ribuan kekhawatiran yang dalam di sana, yang seolah merangkum seluruh miliknya dan milikku yang susah payah kusembunyikan di balik senyum termanis. Di atas meja tehku yang tadi hangat, kini meringkuk kedinginan di dalam gelas ditemani kopi hitam tanpa gulanya yang menggigil diseruput separuh jalan.

            “Tak usah. Apa kata orang nanti,” jawabku sambil menggeleng sebagai upaya penegasan yang sebenarnya tak perlu. Ia sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan sebagai tanggapan atas tawarannya. Ia semakin gelisah. Aku turut merasakan resah beranak-pinak di bawah diafragma.

            “Jangan kaupedulikan apa kata orang. Selama ini kau sudah jadi istri yang terlalu baik, terlalu patuh. Kini, kumohon, pedulikanlah keselamatanmu. Pedulikanlah anakmu satu-satunya itu.”

            Aku menelan ludah dengan gugup. Anak lelakiku semata wayang sedang bermain di depan warung kopi tempatku bercakap. Kakinya berlarian. Kawannya dengan susah payah mengejar. Ia tertawa, tawa paling bening, paling jujur yang pernah kulihat. Ia terlihat begitu bahagia. Tidak, tentu ia tak perlu tahu perihal deritaku. Sudah sepatutnya seorang inang menopang hidup dan bahagia anaknya. Sudah seharusnya.

            “Tapi itu satu-satunya rumah kami, Jono. Kami harus pulang. Sejujurnya ini bukan masalah perkataan orang saja, tetapi juga soal harga diri kami.”

            “Jadi, kau hendak mengorbankan keselamatanmu dan anakmu demi harga diri, Latifa? Benar begitu?” Jono mulai kehilangan kesabarannya. Aku menunduk memandangi ujung sandal bututku, tak tahu hendak menjawab dengan apa. Sejujurnya aku pun merasa takut. Rumah itu sebenarnya sudah tak layak kusebut pulang. Lelaki satu-satunya di dalam sana semakin hari semakin berbahaya.

            “Jono, mengertilah. Aku harus pulang kepada suamiku. Anakku harus pulang kepada ayahnya. Semua harus pulang ke rumahnya. Kita tak bisa terus-menerus berlari.”

            “Tapi kau sekali pun belum pernah mencoba berlari, Tifa. Kau selalu pulang dan karenanya kau mendapatkan segala memar dan luka di tubuhmu itu. Kau pasti tahu anakmu merasa sama takutnya denganmu, denganku. Bagaimana bila akhirnya lelaki itu melukainya juga?”

            Aku menggeleng lagi, berusaha menyunggingkan senyuman baik-baik saja. “Tidak akan, Jono, tidak akan. Aku akan melindunginya semampuku.”

            “Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan terhadap seorang lelaki dewasa yang dipenuhi kebencian dan amarah, Tifa? Kau tak akan mampu melawannya. Ia jauh lebih kuat darimu.”

            “Kau lupa, Jono. Aku seorang ibu. Aku akan mati-matian menjaga keselamatan anakku.”

            “Jangan mati, Latifa. Kumohon.”

            Aku tercekat. Kupandang lekat kedua bola matanya. Di dalam sana mataku berkaca pada matanya yang berkaca-kaca. Ada kilatan pedih yang susah payah ia tutupi. Ia bersungguh-sungguh mengkhawatirkanku. Ia bersungguh-sungguh menginginkan keselamatanku. Samudera di dalam mataku bergolak, hendak tumpah jadi bah, ketika kudengar sayup-sayup anakku memanggil.

            “Aku harus pergi, Jono. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan anakku. Kau memang sahabatku yang paling baik. Doakan kami baik-baik saja. Sampai berjumpa besok.” Dengan cepat aku bangkit dari kursi kayu panjang yang kami duduki sebelah-menyebelah, menyembunyikan gentar dan bah yang hendak tumpah. Kuraih tas kainku yang berisi lembaran-lembaran lusuh uang hasil berjualan seharian ini lalu begitu saja keluar dari warung sederhana itu. Aku merasakan pandangan Jono mengikuti punggungku yang menjauhinya sementara aku mendekati anakku. Kusambut rentangan hangat lengan-lengan Andi, bocah kecil yang berusia lima itu, lalu mengikutinya melambai penuh semangat pada Jono. Kami berbalik, menjauhi pasar inpres menuju rumah. Jono masih terdiam di dalam warung kopinya. Senja bersemburat merah di atas kepala.

 

***

 

Di depan rumah kontrakan mungil berdinding putih dengan hijau lumut di sana-sini itu aku mengatur napas, menenangkan debur jantung, dan mengabaikan naluri menyelamatkan diri. Kugenggam tangan Andi erat-erat lalu berjalan melewati pintu depan. Suamiku duduk di ruang tamu, merokok sambil menghadapi gelas kosong bekas kopi pagi tadi. Itu saja yang sehari-hari ia lakukan sejak tak lagi bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu dekat rumah. Melihat kami datang, ia segera menghardik.

            “Dari mana saja kalian? Kenapa lama sekali?”

            Aku berjengit sedikit. Andi berlindung di balik tubuhku.

            “Dari pasar, Pak. Tadi pembeli ramai sekali. Kami jadi tak bisa pulang lebih awal.”

            “Terserah! Mana uang hasil jualan hari ini?”

            Aku membuka tas kainku dengan tangan gemetar, merogoh isinya, lalu mengeluarkan segulung uang ribuan dan lima ribuan. Suamiku menyambarnya begitu saja. Ia menghitungnya dengan cepat.

            “Segini saja?” ia mendelik kepadaku, “Kalian berdua pergi seharian dan uang yang kalian bawa cuma segini?”  suaranya menggelegar penuh ancaman. Tubuhku gemetar. Andi menangis di belakangku. Kueratkan genggaman padanya. Lelaki itu melemparkan gulungan uang ke wajahku. Perih. Di dada.

            “Pasti ada lagi! Cepat serahkan tas dekilmu itu!”

            Aku menggenggam tasku erat-erat. “Tidak ada lagi, Pak. Itu sudah semua uang yang kami dapat hari ini.”

            Bahkan aku merasakan kebohongan dalam suaraku. Lidahku ini memang tak lihai berdusta. Lelaki itu bangun dari kursinya dan mendekatiku. Aku mencium bau asam peluh tubuhnya yang pasti belum tersentuh air sejak pagi. Napasnya berbau nikotin dan sisa makanan sejak semalam. Tangan besar dan berambut lebatnya menarik tas kainku, satu-satunya hartaku, dengan kasar. Spontan aku melindunginya dengan kedua lengan. Tindakan refleks itu semakin menyulut amarahnya.

            “Apa yang kau sembunyikan dariku, hah? Cepat berikan tas itu!”

            “Ti.. Tidak ada, Pak. Kumohon jangan ambil. Tak ada apapun di dalam sini.”

            “Kalau tak ada apapun, untuk apa kau melindunginya seperti itu? Dasar pembohong!”

            Ludahnya menyembur ke wajahku. Aku setengah mati ketakutan. Andi yang berdiri di belakangku adalah satu-satunya alasanku berdiri tegak dan tetap sadar. Tubuh Andi gemetar hebat. Tubuh itu menahankan tangis dan ketakutan. Aku tak tahu apa ia paham yang kedua orang tuanya sedang pertengkarkan. Memikirkannya saja sudah membuat remuk jantungku. Oh, anakku sayang, anakku yang malang.

            “Cepat berikan tasmu!” Lelaki itu masih berusaha merebutnya. Aku semakin mengeratkan lengan. Ditariknya lenganku dengan kasar dan cepat, memutarnya seolah itu hanya mainan. Aku menjerit penuh derita. Jono benar. Aku tak sebanding dengannya. Ia begitu kuat dan marah. Tak peduli seberapa payah kupertahankan, tas itu akhirnya berpindah tangan. Aku tersedu sambil memegangi lenganku yang hampir patah. Sakitnya tak seberapa dibandingkan dengan perih di dada mengetahui tabunganku untuk Andi akan segera beralih tangan.

            “Ini apa? Ini apa, heh? Dasar perempuan jalang! Bisa-bisanya kau menyembunyikan uang sebanyak ini dariku!” Tangannya melambai-lambaikan lembaran sepuluh ribuan dan lima ribuan yang kusimpan baik-baik di dalam tas kainku, satu-satunya milikku yang berharga.

            “Itu untuk sekolah Andi, Pak. Tolong jangan diambil,” ratapku.

            “Sekolah? Untuk apa sekolah? Lebih baik si Andi itu kausuruh bekerja saja! Sekolah itu cuma menghabiskan uang! Lebih baik dia bekerja!”

            “Tapi Andi masih kecil, Pak… Dia bisa kerja apa? Dia seharusnya bersekolah. Kasihan bila harus bekerja…”

            “Kerja apa tanyamu? Dia bisa mengemis, meminta-minta di jalanan! Kau bisa pinjamkan dia ke tetangga sebelah rumah yang biasa mengemis di perempatan situ. Orang-orang pasti akan tambah iba kalau melihat anak itu dibawa-bawa. Buat dirinya jadi lebih berguna! Jangan diam saja menghabiskan nasi di rumah.”

            Ada pilu yang menyengat di jantungku mendengarnya.

            “Dengar, ya. Mulai besok Andi harus mulai ikut mengemis. Cari uang yang banyak!”

            “Jangan, Pak. Kasihan Andi. Dia masih terlalu kecil.” Aku gentar membayangkan anakku tersayang tersengat panas matahari di jalanan, meminta-minta uang penyambung hidup keluarga tanpa ada yang peduli keselamatan hidupnya.

            “Kamu sudah berani melawan aku? Kamu sendiri tidak becus bekerja! Kalau kau bisa menghasilkan banyak uang, tak perlu aku paksa Andi bekerja!”

            “Kalau Bapak tidak memukuli orang di pabrik lalu dipecat begitu saja, hidup kita tidak akan menderita begini, Pak!”

            Salah, Latifa, salah. Seharusnya kautahan lidah keparatmu itu. Lihatlah, lelaki di hadapanmu itu meradang egonya.

            “Berani-beraninya kau, jalang! Katakan lagi! Katakan lagi kalau kau berani!”

            “Kau seharusnya tidak memukuli orang! Dan kau seharusnya berhenti memukuli kami! Kau seharusnya bekerja untuk kami!” Aku berteriak di wajahnya. Aku hilang sabar. Aku hilang kendali. Aku meradang. Aku marah. Aku muak. Aku meledak. Jangan sekali-kali kau bawa anakku.

Wajah lelaki itu memerah seketika. Telapak tangannya melayang ke pipiku sekuat tenaga, secepat cahaya. Aku terhuyung, telingaku berdenging, mataku berkunang-kunang, pipiku bagai tersengat matahari, panas. Kudengar Andi berteriak. Samar-samar kulihat lelaki itu meraih tangannya, menariknya dengan kasar.

            “Sini, kau, anak jaddah! Aku antar kau ke tempatmu seharusnya berada!”

            “Andi!” Kutarik ujung kaus lusuh suamiku. Kuraih tangan berambut lebat dan kasar itu. Lengan anakku kesayangan terlihat begitu kecil dan ringkih di genggamannya. Lelaki itu berusaha menepis lenganku. Aku menggenggam lengannya sekuat mungkin, mengguncang-guncangkannya dengan buas. Lengan jahanam itu harus melepaskan anakku.

            “Lepaskan anakku! Itu anakku! Anakku! Ia kesakitan! Kesakitan!”

            “Diam kau!” Lelaki itu beralih padaku. Dilepaskannya Andi sekasar ia meraihnya, dan dengan tangan yang masih bebas ia menghajar pelipisku. Tubuhku terhempas ke belakang. Kepalaku mendarat dengan keras di dinding. Sekali lagi telingaku berdenging, kepalaku dingin, berputar, mati rasa. Ia belum puas. Ia menarik rambutku dengan kasar. Sebagian helainya jatuh di wajahku, lekat di pipi karena air mata, mungkin pula darah.

            “Lepaskan aku! Lepaskan aku!” Aku meronta, melawan dengan sisa tenaga. Lelaki itu menampar lagi pipiku. Dari sudut mata kulihat Andi masih berdiri di dekat pintu, memandang dengan ngeri pemberi darah dan dagingnya. Aku tercekat.

            “Andi, pergi, Sayang. Lari, Sayang. Lari!” Napasku tersengal-sengal.

            Andi terlihat ragu. Aku tahu ia takut. Aku tahu ia ingin melindungi inangnya. Tetapi ia harus selamat. Ia harus pergi. Lelaki yang kerasukan setan itu sedang beralih pada Andi. Segera kuraih tubuhnya yang masam.

            “Pergi, Andi! Lari! Lari!”

            Andi menjauhi pintu dengan ragu. Laki-laki yang mengaku bernama suami itu berbalik menumpahkan amarahnya padaku. Ia memukuliku, seperti ketika memukuli kawan sesama buruhnya di pabrik malam itu. Aku melawannya sekuat tenaga, setengah tak berdaya. Ia menghajar tubuhku yang telah biru hingga berubah jadi ungu. Aku kehilangan napasku.

            “Ibu.. Ibu..”

            “Pergi, Andi.. Lari.. Cepat. Kembali ke pasar..”

            “Berani-beraninya kamu melawanku! Ini untukmu!” Lelaki itu mengayunkan sesuatu ke lenganku. Kurasakan sebilah dingin merobek kulitku. Nyeri. Darah bercucuran. Entah dari mana pisau itu tiba di tangannya. Ya, Tuhan. Andi. Andi harus pergi dari sini.

            “Andi!! Cepat pergi!” Aku berteriak padanya dengan segenap tenaga dan napas yang tersisa. Tak pernah aku meneriakinya seperti itu. Kulihat tubuh mungilnya bergetar, antara takut dan kejut mendengar raungan ibunya. Tapi ia lalu berbalik, kaki-kaki kecilnya berlari tanpa pernah berubah arah lagi.

            Lelaki itu meraung penuh amarah seperti hewan buas kehilangan buruan. Tanpa memedulikan teriakan kesakitanku, lelaki yang selalu kuamini sebagai imanku itu menghunjamkan pisaunya sekali lagi di lenganku. Sekali lagi di punggungku. Sekali lagi di kepalaku. Darah mengalir jatuh di kelopak mata. Dunia jadi merah, segala jadi merah. Aku teringat Jono. Aku teringat Andi. Aku teringat semua yang kukatakan soal rumah. Rumah seperti apakah ini, Latifa? Ini rumah ataukah neraka? Inikah neraka? Inikah neraka? Tuhan..?

            Dan aku rubuh dengan kening terantuk ibu jari kaki lelakiku. Untuk pertama dan terakhir kalinya kuludahi jari-jemari itu dengan darah, dengan pongah. Kurasakan amarah, sebab sekali lagi ia hunjam leherku. Aku terlalu lelah untuk berteriak. Tubuhku terlalu sakit untuk kesakitan. Aku hanya tersenyum getir ketika pisau itu ditarik melewati tengkukku, tempat ia dulu memujaku. Kurasakan nyawaku meregang, keluar dari pori-pori dan liang-liang luka. Perlahan. Di tempat yang selalu kusebut rumah, di tempat merah senja luruh di atas lantai. Kini, ke mana aku harus pulang?

 

 Denpasar 2014

Sekeping Rindu dan Hujan Pukul Tiga

Rindu meninggalkan rumahnya
pada pagi pukul tiga. Ia berjalan sendirian,
gontai, tak tahu ke mana,
tak ada yang menginginkan.

Hujan bersiap-siap berangkat bekerja,
keretanya akan datang tepat pukul tiga
setelan kemeja dan celana kain telah rapi disetrika
kali ini hanya rintik, bukanlah badai yang celaka.

Tuan datang menjelang pukul tiga
Jangan keluar, titahnya, sebab rindu gentayangan, hujan siap mengantarkan muram
Akan ia buatkan malam agar kami tinggal di dalam
Menyesap kopi dan membaca kitab selain mata.

Sialnya aku lupa mengunci pintu.
Menyusuplah mereka ke ruang tamuku,
sekeping rindu dan hujan pukul tiga,
sedang tuanku entah berada di mana.

April 2014

Sebuah Surat Pengakuan Dosa

:Untuk Ajik dan Ibu

Aku ingin mengaku dosa, dosa karena pernah lebih mencintai Ajik daripada Ibu.

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan teori ini lalu menyebarkannya hingga penjuru bumi: anak laki-laki akan lebih dekat kepada ibunya, sebaliknya anak perempuan akan dekat kepada ayah. Sebagaimana layaknya teori-teori lain tentang manusia, teori yang satu ini tak dapat pula diterapkan secara pasti. Mungkin banyak di luar sana anak perempuan yang lebih dekat dengan ibunya, pun sebaliknya. Sayangnya, kali ini aku termasuk dalam arus utama. Padahal kautahu, kan, Ajik, betapa aku selalu ingin jadi anomali?

Sejak kecil, Ajik, kau adalah milikku. Aku tak bisa tidur bila belum memainkan jemarimu atau menggesek-gesekkan kakiku di telapak kakimu. Dulu kau dan Ibu sering bertanya dengan keheranan tergambar jelas di wajah soal alasan mengapa aku melakukan hal-hal aneh itu. Sejujurnya aku juga tidak tahu. Mungkin karena tangan dan kakimu yang hangat, sementara kakiku adalah kaki yang kausebut kaki kodok, dingin. Kakiku menemukan kehangatannya di kakimu, hingga mampu kulelap tertidur. Karena itu, kau adalah milikku setiap malam. Kau membiarkanku bermain-main dengan tangan dan kakimu hingga jatuh terlelap.

Ketika dewasa, aku semakin mengagumimu. Aku tak tahu lagi bidang lain yang sekiranya bisa kukuasai selain bidang yang kaukuasai. Aku ingat suatu hari menjelang akhir masa sekolah menengah atasku, kau membujukku yang sedang kesal dan menangis seharian karena tak diijinkan merantau ke ibukota. Waktu itu kaubilang hukum bisa dipelajari di mana saja, tak perlu pergi ke ibukota, kaubilang aku bisa berkuliah sambil tetap menulis, dan kaubilang kausuka membaca tulisanku. Aku ingat itu, Ajik. Aku selalu ingat itu, karena itulah pujian paling tinggi yang pernah kudapatkan.

Semakin dewasa aku semakin mencintaimu. Kita akan duduk berlama-lama di depan televisi, menonton acara berita yang satu dan yang lain, membicarakan pekerjaan dan hal-hal yang tak jauh dari hukum dan politik. Kau bahkan mengirimiku pesan singkat di hari pemilu, pagi-pagi sekali, sesuatu yang tak pernah kaulakukan sebelumnya, hanya untuk mengingatkanku menggunakan hak pilihku. Terakhir kali ketika kaupulang untuk berlibur di sela tugasmu, kita bahkan tak sempat menanyakan kabar. Kita lebih sibuk membahas hasil pemilu dan koalisi. Namun, dari matamu yang berbinar-binar, aku tahu kabarmu dan kabarku baik-baik saja.

Kita sering berkomplot menyudutkan Ibu. Ah, bila teori kedekatan anak dan orang tua itu benar, dengan tiga orang anak perempuan, sudah bisa dipastikan Ibu kalah dukungan. Dalam segala debat dengan berbagai macam topik, kita selalu ada di pihak yang sama, dan Ibu akan menerima kekalahannya dengan tersenyum saja. Tunggu saja pembalasanku, mungkin begitu batinnya.

Lalu Ibu jatuh sakit. Kau sedang jauh bertugas. Anak-anakmu sibuk bekerja dan sekolah. Ibu tak bisa memasak sarapan seperti biasa. Rumah tak dibersihkan dengan selayaknya. Aku baru tahu rasanya tak ada Ibu. Mungkin ini sebesar-besarnya pembalasan Ibu. Ah, aku yakin Ibu tak menyimpan dendam, mungkin hanya aku yang sedang menuai sebaran benih kesalahanku dulu karena telah lebih mencintaimu dibanding Ibu. Ibu telah begitu mencintaiku. Kautahu, aku tak pernah bisa memasak telur mata sapi seenak Ibu. Bertahun-tahun aku hidup bahagia dengan sebutir telur mata sapi setiap pagi. Belum lagi keteguhan hati Ibu yang berdiri melindungiku dari gunjingan-gunjingan jahat di luar sana. Ibu pernah bilang, ia akan berdiri di sisiku hingga kapan pun, tak peduli apa yang terjadi. Aku menangis saat itu, pun ketika sedang menuliskan surat ini. Sungguh, tak ada yang akan mampu menandingi cinta kalian berdua. Seharusnya aku tahu itu.

Maka, Ajik dan Ibu, izinkanlah aku mengaku dosa karena pernah lebih mencintai Ajik daripada Ibu. Aku tak akan mengurangi cintaku pada Ajik yang begitu aku kagumi, tentu saja. Aku hanya akan memberikan jumlah yang sama padamu, Ibu, yang telah begitu sabar merawatku. Kalian berdua telah memberiku cinta yang berlimpah dan tak putus-putus. Aku yakin aku masih memiliki banyak di dalam dadaku. Semoga cukup untuk membuatmu bahagia meski kuyakin tak akan pernah bisa menyamai yang di dalam dadamu berdua.

Aku teringat sebuah teori lagi yang menyatakan bahwa orangtua selalu melihat anaknya sebagai anak kecil, tak pernah sebagai orang dewasa. Karenanya, ingin kutandai tulisan ini sebagai surat dari aku, yang selamanya bangga menjadi gadis kecilmu.

*Catatan: Ajik/ Aji adalah sebutan untuk ayah atau bapak dalam Bahasa Bali

April 2014

Dari Sini ke Jakarta

20140425-002833.jpg

Miliaran depa berbaris dari sini ke Jakarta.
Penduduk desa harus bahu-membahu menyambung jempol dengan jempol,
kelingking dengan kelingking, bila ingin tiba di Jakarta.
Tetapi aku sendirian, penduduk desa bergerak seperti biasa dengan jempol dan kelingking di masing-masing tangan.

Butuh lebih dari jalan Anyer-Panarukan untuk menyambung sini dengan Jakarta.
Bila dahulu bahu-bahu penduduk pesisir bahu-membahu menopang Jalan Daendels,
aku kini sendirian memoles aspal melanjutkannya hingga tiba di sini.
Penduduk desa tetap bangun pagi lalu berangkat bekerja di sawah ladang, tak peduli jalan sudah beraspal atau masih bopeng di sana-sini.

Penduduk desa tak tahu seberapa jauh dari sini ke Jakarta.
Sejak ada televisi, Jakarta sudah hadir di ruang tamu bersama macet dan genangan air setinggi lutut orang dewasa.
Penduduk desa tak lagi peduli pada jarak dari sini ke Jakarta.
Di sini mereka bisa memaki jenderal dari ruang duduk tanpa takut diciduk.

Seberapa jauh jarak dari sini ke Jakarta, Ibu?
Ibu hanya tersenyum di beranda, ia satu-satunya penduduk desa yang tahu persis kilometernya hingga dua angka di belakang koma.
Sekalipun tiap malam telah ia bisikkan itu rahasia, aku tetap belum tahu dengan apa akan tertempuh.
Yang kutahu Jakarta jauh, dari sini Ayah hanya terjangkau oleh doa aku dan Ibu.

April 2014

Alasan-alasan untuk Bangun Pagi

Bukan kerana matahari,
dering kering beker,
ketukan barbar di pintu kamar,
serangkaian kontraksi di bawah diafragma, atau
decit cicit burung pipit.
Adalah bertukar selamat dan pagi itu sendiri sebaik-baiknya alasan untuk bangun pagi.

Suatu malam di bulan April 2014, sebelum hari kerja.

Untuk Pertanyaan yang Terlanjur Lebam

Dinding adalah sekap yang kaususun sendiri.
Tanya ialah burung gereja yang menyusup masuk dan berdiam di baliknya.
Ruang dalam kepala tak pernah cukup lapang untuknya terbang.
Burung gereja terantuk-antuk kenangan dan perkara membangun perlindungan.
Burung gereja terbatuk-batuk, dibenturkan ke dinding, lalu dibungkam dan dipaksa tinggal dalam kepala.

Untuk apa kaubangun lagi rumah? Dindingmu tak cukup tinggikah?

Di balik jendelanya yang selalu alpa merapal buka, mengetuk lagi seekor burung gereja:
tak inginkah kau bertemu jawaban?

8 April 2014

Huruf yang Menari

Dan kau adalah musik pengantar pagi
Sekejap saja dan dunia jatuh hati

Rindu ini gigil
Dari matamu turun air hangat
Aku menadahnya demi melihatmu tersenyum
Rindu ini mandi air hangat
Luka ini kian saja pekat

Setelah kau tersenyum,
Kukemasi kenangan yang terserak
Koperku dan dada penuh sesak
Hingga di sini saja persinggungan kita

Dan kau memainkan musik pengantar sepi
Pagi pukul satu dan kakiku yang terbelenggu kelu
Sampai jumpa, kau yang tak pernah tahu
Huruf yang menari seringkali tak pandai menyanyi

Maret – April 2014