13 Rangkaian Kalimat Tanpa Gagasan untuk Laut

: yang jadi tempat kembali apa-apa yang mengalir

1
Beberapa kota ditinggalkan karena perang,
sebagian lagi karena kenangan.
Di sebuah sudut tempat hiburan malam,
perang dan kenangan membangun kota di dalam kata.

2
Kau menipu hidup dengan kata, sementara kata-kata meniup maut dari mata-mata yang putus asa.
Matamu.

3
Hidupmu jadi pahit
sebab kauhabiskan gula di dapur untuk menggulai teh pagimu.

4
Buatlah segelas teh manis.
Hatiku sekeping kebekuan penyegar dahaga.

5
Kalimat-kalimat indahmu tertinggal di kantung kertas kentang goreng.
Apa-apa yang cepat saji memang tak baik untuk jantung.

6
Aku ingin tahu apa yang ada di kepalamu saat mati lampu dan tahu kau tak punya lain waktu.

7
Aku selalu melihat hal-hal baik dari hal-halmu yang tak baik.

8
Kau sibuk memanusiakan manusia lain hingga lupa memanusiakan dirimu sendiri.
Pagi itu kujenguk bibirmu dengan khusyuk.

9
Kupecahkan tiap kaca mata jendela
agar ia buta dan tak perlu melihat kita yang saling menanam luka.

10
Sepasang tangan canggung menggenggam
sebab genggaman tak untuk mereka yang cuma tinggal semalam lalu saling menggalikan makam.

11
Kau berhenti menyatakan cinta yang abstrak, yang barangkali pernah ada di suatu ketika lalu tiada dengan cara yang membekas lama.

12
Di hari-hari seperti ini, aku akan bertanya padamu: inginkah kau merayakan ulang tahun? Bisa jadi ada tahun-tahun yang lebih baik dilupakan daripada diulang.

13
Rangkaian kalimat tanpa gagasan ini semata-mata suatu caraku menghalalkan engkau tinggal di dalam kepala. Malam ini saja.

Juni 2014

Advertisements

Kepada Senyum yang Tak Kukenal

Bagimu yang senyumnya meredakan badai, dunia ini mungkin persoalan pelangi dan wejangan ibu ketika makan pagi. Sesekali titahnya mengandung mendung, namun lekas kauhalau dengan busur warna-warni. Dari mana kaudapatkan pensil warna?

Bagimu yang wajahnya secantik biru langit di kening biru laut, sepertinya hidup ini tak melulu soal gaun mahal atau tayangan-tayangan baru di sinema. Lakumu ialah gulungan pita ingatan yang terus diputar di kepalaku yang sesal, tanpa kau sadar.

Bagiku yang mengikutimu diam-diam dan menyaksikan binar-binar di paras elokmu kala berdiri menyebelahinya, dunia ini terlalu masam, dan bagimu ia terlalu kejam.

Engkau yang hatinya tak pernah kuketahui, adakah aku telah menjadi salah satu duri?

Juni 2014

Sepeda Malam Pulang Terlalu Pagi

M. Irfan Ramli

Langit menua lebih cepat dari kayuhanmu
Putaran jeruji roda tak cukup lekas menangkap matari yang tergelincir,
jatuh pecah di pangkuan
Pikiran-pikiran yang bersengketa mencurimu, berebut minta diperhatikan
sementara jalan ini penuh liku dan berbatu
dan di atas sana, langit menua terlalu cepat.

Pedal sepeda dikayuh lebih segera
Tetapi, Tuan, ini bukan jalan raya,
tak serata samudera kala tenang di lapang kau punya dada
Sesekali berhentilah, mengisi napas, lalu percaya kembali
Selalu ada yang tak sesuai rencana, seperti sepeda malam yang kali ini pulang terlalu pagi.

14 Juni 2014
Kala menemukan Sepeda Malam dikayuh pukul delapan pagi

Laki-laki yang Mencintai Hal-hal Kecil

M. Aan Mansyur

Laki-laki itu mencintai hal-hal kecil.
Trotoar, apel merah, bahkan perih di antara perihal yang manis-manis.
Ia memelihara sekawanan camar yang terbuat dari buku-buku yang dihukum sebab tak mampu mengalamatkan rindu. Buku adalah cintanya yang ketiga, setelah ibu dan kelu.

Pada pagi-pagi tertentu ia akan duduk di bangku, menikahkan kopi dan matahari, melihat mereka berpinak puisi untuk dibesarkan jari-jarinya yang menari. Setelah dewasa, laki-laki itu akan melepaskan anak-anak puisi ke lautan sembari memberi perhatian pada hal-hal kecil, semisal senja yang tak lagi terlihat dari tepi atau kota kotak-kotak yang menjarah otaknya.

Lelaki yang mencintai hal-hal kecil itu kepalanya disesaki huruf-huruf, berlompatan, berganti-ganti pasangan. Seorang alien mungkin hidup di sana, menjalankan komputer literasi dengan sistem operasi berkecepatan tertinggi. Kau tak akan mampu mengejarnya. Ia berkelipan di antara bintang.

Sementara kau mengagumi hasil kerja tangan dan kakinya, lelaki yang mencintai hal-hal kecil itu sedang duduk di sudut dengan Badak dan Naga melingkar di pangkuan, melakukan hal-hal kecil, seperti membaca atau sekadar mengemil.

Juni 2014

Taman Bermain

Seseorang membangun taman bermain dalam lapang kepalaku. Ia menancapkan pasak-pasak perkemahan, menyemai bibit-bibit bianglala, memelihara kuda-kuda komidi putar hingga dewasa. Kelak akan ada penjual gula kapas kegemaranmu, katanya.

Seseorang yang membangun taman bermain dalam kepalaku bekerja dengan giat. Saban subuh kuketahui ia tak sempat tertidur. Selain mengerjakan taman bermain, ia harus pula menghidupi paruhan hatinya, dengan peluk dan beribu kali perhatian. Lepaskanlah mimpi bermain bianglala bila itu mengisapmu habis, kataku suatu waktu. Akan kautemui ia menggelengkan kepala tiada ragu. Ia gemar sekali bermain.

Pada suatu malam seseorang yang membangun taman bermain di kepalaku memenuhi janjinya. Komidi putar dan bianglala berdiri gagah menyambutku. Pun deretan kios gula-gula kapas dan tenda permainan ketangkasan. Aku mencintai taman bermainnya. Aku menyukai ada di tengah rengkuhannya.

Di depan komidi putar, seseorang yang membangun taman bermain itu mengajakku naik bianglala. Percikan cahaya menerangi matanya, jatuh turun mengelusi pipinya, mendarat tepat di bibir kanan. Aku terkesiap. Wajah itu lelah, gerah menanggung kisah.

Kita pulang saja. Aku takut ketinggian.

Seseorang yang membangunkan taman bermain dalam kepalaku, di kepalanya berkecamuk perang.

Juni 2014

Membakar Cemburu di Dadamu

Aku membakar cemburu di dadamu sebab perasaan-perasaan butuh tenaga untuk bergerak. Apinya membayangi kedua gelap matamu yang sering kusangka tempiasan masa lalu. Tak berkobar, tapi ia mampu menghadirkan senja merah berdarah.

Aku membakar cemburu di dadamu sembari mengenangkan senyummu yang pernah kukulum. Entah nikotin atau batin layang-layang terputus tali yang kukecap, rasanya tiada beda: getir hilang asa.

Aku membakar cemburu di dadamu hingga tandas, tuntas dalam abai yang panas. Sebab perasaan-perasaan yang aku sangka kita punya telah lelah berpegangan. Kita lepaskan janji, saling memandang dalam sunyi seolah tak saling ketahui. Kemudian tersenyum kering.

Aku membakar cemburu di dadamu dan bersepakat dengan diriku untuk tak menyisakan satu pun dalam selamat. Tubuh, ayunan, pohon, dan jalanan di bawah, semua kujadikan abu.

Juni 2014