Jatuh Cinta dan Berusaha tak Lantas Bunuh Diri

jatuh cinta

Menuliskan resensi ini sungguh suatu hal yang membuat gundah. Bagaimana tidak? Penulisnya (pun ilustratornya, IBG Wiraga) adalah dua orang kawan yang membuat dua kekhawatiran saya menyeruak. Pertama, saya mencemaskan respon pembaca tulisan ini bila saya tidak mampu mengulas buku ini secara obyektif. Kedua, saya mencemaskan respon kawan saya itu apabila saya bilang tak puas dengan karya mereka. Tetapi, mari berpikir yang positif saja dan membuang segala kekhawatiran. Saya mengenal Bara sebagai seorang penulis yang sangat tekun belajar dan mendengar masukan dari sekitarnya dan karenanya ia kini jadi seorang penulis yang kaya (secara pengetahuan. Saya tak tahu-menahu soal kondisi finansialnya). Saya pun akan berusaha menilai Bara hanya dari karya-karyanya yang telah saya baca.

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (mari kita panggil saja buku ini sesuai tagarnya di media sosial, Jatuh Cinta) berisi lima belas cerita pendek. Jatuh Cinta adalah buku ketujuh yang ditulis Bernard Batubara dan buku kedua yang diterbitkannya tahun ini. Luar biasa. Penulis asal Pontianak yang telah lama bermukim di Yogyakarta ini memang termasuk penulis muda yang (sangat) produktif. Setahu saya selain tujuh buku yang diterbitkan atas namanya sendiri, beberapa karya Bara juga diterbitkan dalam bentuk antologi cerita pendek maupun puisi, belum lagi karya-karyanya yang dimuat di media massa. Dia juga aktif menulis di blog pribadinya. Mengikuti blog-nya kita dapat melihat betapa Bara adalah seorang pembaca yang “rakus”, “nafsu makannya” terhadap buku sangat besar. Tak salah bila saya mengharapkan kejutan di buku ketujuhnya ini.

Saya memulai membaca buku ini di cerpen keempat, Hujan Sudah Berhenti, sebab tiga cerpen pertama telah saya baca sebelumnya di blog pribadi Bara. Hujan Sudah Berhenti terasa terlalu sederhana dan datar. Saya menduga Bara hanya hendak menuliskan kekagumannya pada hubungan ibu dan anak antara Annelies dan Nyai Ontosoroh yang diceritakan dalam Tetralogi Buru milik Pram dengan tafsiran baru ke dalam cerpen ini. Hanya saja emosi dan dialognya kurang digali sehingga terasa datar dan terkesan ingin buru-buru diselesaikan. Sedikit berbeda dengan cerpen Lukisan Nyai Ontosoroh yang secara blak-blakan menyebutkan pengaruh Bumi Manusia. Cerpen ini lebih dalam dan terencana. Hanya saja banyaknya deskripsi mengenai perumpamaan tokoh cerita dengan tokoh dalam Bumi Manusia membuat saya sempat kehilangan konsentrasi membaca. Saya tidak menyadari mundurnya plot cerita dan sempat kebingungan ketika tiba di akhir cerita. Mengapa Aku menggenggam pisau? Mengapa lukisan itu terus berkedip kepada Aku?

Bara juga terlihat mengeksplorasi gaya menulis baru. Ia berusaha menyisipkan humor-humor kecil dalam tulisannya namun ada beberapa yang terasa gagal, garing (maaf, Bar 😦 ). Misalnya, ketika tokoh Kuntilanak dari abad keempat dalam cerita Nyanyian Kuntilanak menyebut-nyebut soal koruptor yang membuat saya mengerutkan kening dan menyebabkan beberapa jangkrik mulai bernyanyi (Ya, saya juga garing ternyata). Lalu, ada pula ketidaktelitian. Misalnya, dalam cerpen Orang yang Paling Mencintaimu. Di bagian akhir disebutkan tokoh Aku mendorong Miranda ke dalam api hingga (mati) terbakar. Lalu, setelahnya Aku malah bertanya-tanya mengapa ia menembak mati Miranda. Nggg… Jadi, ditembak dulu atau langsung didorong?

Gong kekecewaan saya bergema di bagian akhir buku. Ya, saya langsung melompat ke cerpen Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri karena begitulah judul buku ini. Saya berpikir pastilah cerpen ini ruh dari keseluruhan cerita, puncak dari segenap kisah cinta. Dan saya kecewa. Bara menyia-nyiakan satu kalimat yang menurut saya sangat kuat, sangat dramatis, sangat potensial untuk diolah menjadi satu kisah yang merebut hati. Bara seperti kehabisan ide cerita, terlalu memaksakan alur, pun dialog dan gaya menulisnya yang menurut saya bukan Bara sama sekali. Bara seperti memaksakan diri untuk menjadi orang lain dan itu membuat cerita ini gagal membuat saya sebagai pembacanya jatuh cinta apalagi sampai bunuh diri.

Nah, tiga paragraf berisi kekecewaan sudah cukup rasanya. Saya merasa jadi pembaca yang sangat kejam. Tetapi, tentu saja Bara masih menyimpan keajaibannya. Beberapa cerita dalam buku ini sungguh indah. Tema, konflik, maupun gaya penulisannya sangat mengejutkan. Saya ambilkan contoh Seribu Matahari untuk Ariyani. Cerita ini ditulis dari sudut pandang Tompel, seorang anak berkebutuhan khusus (autistik, saya duga). Bara dengan cerdas mengubah gaya menulisnya ketika menuliskan dialog untuk Tompel dan berubah lagi ketika menuliskan narasi biasa. Saya jadi teringat pada novel The Curious Incident of the Dog in the Night Time karya Mark Haddon yang tokoh utamanya pun seorang anak autistik. Bara menghidupkan cerita ini hingga membuat saya berjengit tak nyaman ketika membaca adegan-adegan di dalamnya. Saya sampai-sampai memasukkannya ke dalam daftar Cerita yang Tidak Akan Saya Baca Ulang Karena Terlalu Tragis, bersama-sama dengan Mencari Herman milik Dee Lestari dan The Kite Runner milik Khaled Hosseini.

Lalu, ada juga Menjelang Kematian Mustafa yang jadi favorit saya. Cerita pendek ini sungguh apik. Bara berhasil menuliskannya, rapi, sabar, dan visual. Sepertinya ini hasil menonton film yang memang sering ia lakukan untuk mempelajari alur cerita. Pun Nyctophilia yang pernah dimuat di Koran Tempo dan dipublikasikan di blog-nya. Walaupun sedikit banyak saya bisa menebak arah cerita, kesabaran Bara dalam menuliskannya membuat ending cerita terasa tetap memuaskan. Rapi dan cantik, mampu meninggalkan kesan dan banyak hal untuk direnungkan. Lalu ada Hamidah tak Boleh Keluar Rumah yang sukses membuat bulu kuduk meremang dan Meriam Beranak yang juga menjadi favorit saya. Bara begitu fasih dan nyaman menuliskan cerita-cerita yang berkaitan dengan tradisi dan kehidupan khas kota asalnya. Hal itu adalah sebuah nilai tambah yang besar untuk karya-karyanya karena saya yakin bagi pembaca seperti saya adalah sebuah pengalaman yang seru dan menyenangkan dapat mengenal budaya Indonesia tanpa mendapat kesan sedang digurui dan melalui cara yang menghibur, seperti membaca cerita pendek.

Terus terang saya masih memendam kekecewaan terhadap Surat untuk Ruth, buku terakhir Bara, yang menurut saya jauh di bawah standar kualitas menulis Bara. Kehadiran Jatuh Cinta mampu mengobati kekecewaan saya. Jatuh Cinta menunjukkan bahwa Bara adalah salah satu penulis muda berbakat Indonesia yang masih menyimpan peluang untuk berkembang jadi lebih besar lagi. Mungkin sedikit saran dari pembacamu ini, Bara, tulislah kisah cinta yang lain, beranilah mengambil jalan yang berbeda, dan beri waktu pada dirimu sendiri untuk bernapas, berpikir lebih dalam, meriset, dan bersabar. Tulisan mungkin seperti cinta, seperti wine, yang semakin diperam, disimpan, menjadi semakin matang dan memabukkan.

Sukses terus, Bara!

Dan, tidak, jangan tagih naskah saya dulu.

 

Desember 2014

 

Keterangan buku:

Judul                                     : Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Jenis buku                           : Kumpulan cerita

Penulis                                 : Bernard Batubara

Penerbit                              : Gagas Media

Tahun terbit                       : 2014 (cetakan pertama)

Jumlah halaman               : vi + 294 halaman

Leaving

The river flows to the west. The fall wind falls between hair and leaves, leaves loneliness to the molt branches. The grass sing softly, rub people’s feet so warmly. Two suitcases stand in quiet, separated by 1.5 meters long park bench. We have been sitting here for couple of hours, exchanging hellos and polite chit chat, then watching the river, falling wind, and left branches.

My hand is slowly grabbed. The spaces between its fingers are filled with his. I am acting as calm as the flowing river. My mind is jumping like a rolling sea.

“Take a deep breath,” he talks like he has the mind reading ability. I cannot. His white gold ringed finger takes all the breath in me away.

“Do you really want this?”

He stares at me in a long silent moment of truth. When he finally speaks, the yes is not the only thing I get.

Bad liar. I can see pain in your eyes.

*

The river flows to the west. The wind of fall brings leaves to places far away, leaves lonely molt branches, and a man with his suitcase.

***

December 2014

Surat untuk Bli Adit

Gianyar, 20 Desember 2014

Dear Bli Adit,

Masih ingat kejadian di Kopi Kultur Kerobokan? Ketika untuk kali pertama aku bertemu dengan Bli yang sebelumnya kukuntit saja di Twitter? Aku masih ingat betapa konyolnya kelakuanku waktu itu: minta foto bareng (Sebentar. Ketawa dulu). Proses minta fotonya pun “maju mundur” karena malu. Edharu dan Yuna waktu itu yang mendorongku supaya berani. Dan terjadilah gambar ini. Hahaha.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/6c9/36661288/files/2014/12/img_3440-2.png

Aku masih ingat ketika aku mengenalkan diri, Bli langsung ingat akun Twitterku. Terus terang aku tersanjung tapi pura-pura jaga sikap padahal jantung melompat-lompat.

Aku agak yakin Bli sudah bosan mendengar ceritaku tentang sajak-sajakmu yang membuatku menulis lagi. Perlu kamu ketahui, Bli, semua cerita itu adalah benar adanya. :p Mungkin kamu kadang menyebalkan, suka tiba-tiba murung, suka ubah-ubah lagu orang seenaknya, tapi kamu juga adalah pintu yang membuka untukku. Terima kasih telah menunjukkan hal yang menjadi kecintaanku, terima kasih telah menarikku ke dalam lingkaranmu, mempertemukanku dengan orang-orang hebat, membukakan pintu yang sebentar lagi akan kulewati. Ya, menulis kini akan jadi bagian besar dalam hidupku, akan jadi penghidupanku walaupun setelah ini jalan di depan mungkin akan berbatu, terik, dan melelahkan. Tetapi, Bli, bukankah mencintai itu kadang terasa sakit karena ia nyata? Begitu pun mimpi. Bila hidup mulai terasa perih, mungkin itu mimpi yang sedang berupaya menjadi.

Karena itu, Bli, jika suatu saat kamu merasa sendiri dan tak diingat, ingatlah bahwa ada seseorang yang selalu ingat padamu. Setidaknya setiap kali ia mendengar Teman Hidup-nya Tulus. =))

Salam untuk Sydney! ^^v
Prima Wirayani

Surat untuk Ikaf

Gianyar, 12 Desember 2014

Dear Ikaf,

Kamu ulang tahun, ya? Tumben minta dikirimi surat. Hehehe. Jujur, aku bingung juga harus menulis apa dalam surat ini. Sudah lama sekali rasanya tidak berkirim surat selain surat somasi atau surat elektronik ke klien. Surat terakhir yang kutulis adalah surat pengunduran diri yang ternyata sulit juga untuk dituliskan. Mungkin betul menulis itu adalah perkara membiasakan diri, repetisi tiada henti.

Lalu, bagaimana kabarmu? Terakhir kali kita bertemu, sepertinya kamu ingin berbagi banyak hal. Sayangnya waktu itu hampir turun hujan di Taman Surapati dan aku menumpang kendaraan seorang kawan yang ingin lekas pulang. Nanti kita atur lagi waktu untuk kopi dan puisi, seperti yang aku dan Mbak Barika dapat malam kemarin. Kami bertemu di sebuah kedai kopi di daerah Kuta. Setelah mengobrol banyak hal, Mbak Barika menodongku baca puisi. Dan seperti biasa, setiap kali ditodong membaca puisi, aku akan mengacak-acak blog milik Aan Mansyur. Akhirnya aku membacakan Lingkaran Cuaca. Mbak Barika membacakan puisi tulisanku (uhuk!) dan karya Gus Mus, Kau Ini Bagaimana?. Dia yang menodong, dia yang baca puisi lebih banyak. =))

Kaf, hari ini ternyata Harbolnas, Hari Belanja Online Nasional. Akronimnya sedikit tak enak tapi eye-catchy. (Kalimat terakhir tadi diketik sambil nyengir). Tadi di kantor aku iseng masuk ke situs-situs belanja online yang katanya menawarkan diskon. Kebetulan juga aku sedang perlu baju baru untuk ke kantor. Jadi, tidak ada salahnya melihat-lihat koleksi pakaiannya. Siapa tahu ada yang cocok. Eh, siapa sangka aku malah berakhir di situs toko buku online dan memborong beberapa buku (tambahkan emoticon tertawa dengan setetes air di dahi sebelah kiri di sini). Aku tak jadi beli baju. Malam ini pun rencananya aku ingin masuk ke situs itu lagi dan memilih-milih baju. Namun, di sinilah aku, mengetik surat untukmu. Bajunya? Nanti-nanti saja kalau sudah ada mood-nya.

Dulu, pada suatu malam di Ubud, aku pernah mengutarakan kebiasaan burukku yang suka gelap mata membeli buku dan abai memperbarui koleksi baju pada kawanku. Sampai-sampai Ajik (panggilanku untuk Bapak) menegurku. Kata Beliau, pekerjaanku mengharuskanku untuk berpenampilan rapi dan menarik. Masa koleksi bajuku itu-itu saja selama beberapa tahun ini? Aku diam saja mendengarnya sambil mengiyakan kebenaran dalam teguran itu. Ketika aku menceritakannya, kawanku yang kebetulan kupanggil Bli Adit ini mengeluarkan kalimat saktinya.

“Kamu bilang sama Ajikmu kalau otakmu juga perlu dipercantik.”

Begitu kira-kira. Aku tidak ingat persisnya karena kejadiannya sudah lama. Hahaha.

Tunggu. Jadi, selama ini otakku tidak cantik, begitu? (Drama dimulai di sini). =))

Begitulah, Ikaf. Aku memang punya masalah yang cukup serius perihal “baju atau buku” ini. Aku sedang berusaha mengurangi belanja buku yang tidak terlalu perlu (walaupun mana ada, sih buku yang tak diperlukan?). Akhir-akhir ini aku sudah mampu keluar toko buku tanpa membeli buku. Hehehe. Kalaupun membeli, biasanya hanya buku-buku yang benar-benar menarik bagiku atau yang sudah lama kucari atau yang menurutku agak susah dicari dan ditemukan lagi. Nah, sekarang tinggal menumbuhkan minat dan niat untuk membeli baju. Padahal kalau diingat-ingat, kebutuhan pokok manusia itu, kan sandang, pangan, papan, bukan bacaan, pangan, papan. Ada yang salah dengan skala prioritasku sepertinya.

Suratku sampai di sini saja ya, Kaf, daripada melantur lebih jauh lagi. Sampai berjumpa di Jakarta. Tolong nanti aku diiming-imingi baju yang bagus dan murah biar semangat belanjanya. :p

Peluk,
Prima Wirayani

Hari yang baik untuk mati

Malam ini aku memikirkan beberapa hari yang pada tubuhnya pernah kita jejakkan kaki-kaki, atau yang di jam dindingnya sekali waktu kita tandai sebagai janji:

Suatu hari yang masih muda kala kau menembus segala sunyi dan berdiri rapi menanti. Aku tak tahu apakah dini hari jua membawakanmu gigil atau hanya namaku untuk kaupanggil. Di undakan tangga bus hijau terang itu aku menyaksikan matahari terbit dari ujung ikal rambutmu.

Suatu sore yang basah sehabis hujan, sepasang cangkir, dan orang-orang yang keluar dari layar televisi. Kau tertawa, ruangan dalam dada perlahan-lahan menyalakan pelita. Dari bahuku kautanggalkan selembar gulita dan meninggalkannya di meja resepsionis. Kenakanlah senyummu, katamu, ia lebih hangat dan memeluk. Pintu taksi ditutup. Gerimis menurunkan tirainya. Aku melaju. Taksi dan sore itu berwarna biru.

Atau suatu kali kauterbang turun dari timur. Aku berlari-lari membawa haru dan rindu di kedua tanganku. Kau tak ingat hari apa itu, kau hanya tahu mengabariku. Haru dan rindu jatuh di ubin kelabu. Rokokmu kini berkotak abu-abu.

Aku memikirkan seluruh hari setelah kita saling mengenalkan diri. Semuanya terasa baik untuk mati.

Desember 2014