Surat untuk Ikaf

Gianyar, 12 Desember 2014

Dear Ikaf,

Kamu ulang tahun, ya? Tumben minta dikirimi surat. Hehehe. Jujur, aku bingung juga harus menulis apa dalam surat ini. Sudah lama sekali rasanya tidak berkirim surat selain surat somasi atau surat elektronik ke klien. Surat terakhir yang kutulis adalah surat pengunduran diri yang ternyata sulit juga untuk dituliskan. Mungkin betul menulis itu adalah perkara membiasakan diri, repetisi tiada henti.

Lalu, bagaimana kabarmu? Terakhir kali kita bertemu, sepertinya kamu ingin berbagi banyak hal. Sayangnya waktu itu hampir turun hujan di Taman Surapati dan aku menumpang kendaraan seorang kawan yang ingin lekas pulang. Nanti kita atur lagi waktu untuk kopi dan puisi, seperti yang aku dan Mbak Barika dapat malam kemarin. Kami bertemu di sebuah kedai kopi di daerah Kuta. Setelah mengobrol banyak hal, Mbak Barika menodongku baca puisi. Dan seperti biasa, setiap kali ditodong membaca puisi, aku akan mengacak-acak blog milik Aan Mansyur. Akhirnya aku membacakan Lingkaran Cuaca. Mbak Barika membacakan puisi tulisanku (uhuk!) dan karya Gus Mus, Kau Ini Bagaimana?. Dia yang menodong, dia yang baca puisi lebih banyak. =))

Kaf, hari ini ternyata Harbolnas, Hari Belanja Online Nasional. Akronimnya sedikit tak enak tapi eye-catchy. (Kalimat terakhir tadi diketik sambil nyengir). Tadi di kantor aku iseng masuk ke situs-situs belanja online yang katanya menawarkan diskon. Kebetulan juga aku sedang perlu baju baru untuk ke kantor. Jadi, tidak ada salahnya melihat-lihat koleksi pakaiannya. Siapa tahu ada yang cocok. Eh, siapa sangka aku malah berakhir di situs toko buku online dan memborong beberapa buku (tambahkan emoticon tertawa dengan setetes air di dahi sebelah kiri di sini). Aku tak jadi beli baju. Malam ini pun rencananya aku ingin masuk ke situs itu lagi dan memilih-milih baju. Namun, di sinilah aku, mengetik surat untukmu. Bajunya? Nanti-nanti saja kalau sudah ada mood-nya.

Dulu, pada suatu malam di Ubud, aku pernah mengutarakan kebiasaan burukku yang suka gelap mata membeli buku dan abai memperbarui koleksi baju pada kawanku. Sampai-sampai Ajik (panggilanku untuk Bapak) menegurku. Kata Beliau, pekerjaanku mengharuskanku untuk berpenampilan rapi dan menarik. Masa koleksi bajuku itu-itu saja selama beberapa tahun ini? Aku diam saja mendengarnya sambil mengiyakan kebenaran dalam teguran itu. Ketika aku menceritakannya, kawanku yang kebetulan kupanggil Bli Adit ini mengeluarkan kalimat saktinya.

“Kamu bilang sama Ajikmu kalau otakmu juga perlu dipercantik.”

Begitu kira-kira. Aku tidak ingat persisnya karena kejadiannya sudah lama. Hahaha.

Tunggu. Jadi, selama ini otakku tidak cantik, begitu? (Drama dimulai di sini). =))

Begitulah, Ikaf. Aku memang punya masalah yang cukup serius perihal “baju atau buku” ini. Aku sedang berusaha mengurangi belanja buku yang tidak terlalu perlu (walaupun mana ada, sih buku yang tak diperlukan?). Akhir-akhir ini aku sudah mampu keluar toko buku tanpa membeli buku. Hehehe. Kalaupun membeli, biasanya hanya buku-buku yang benar-benar menarik bagiku atau yang sudah lama kucari atau yang menurutku agak susah dicari dan ditemukan lagi. Nah, sekarang tinggal menumbuhkan minat dan niat untuk membeli baju. Padahal kalau diingat-ingat, kebutuhan pokok manusia itu, kan sandang, pangan, papan, bukan bacaan, pangan, papan. Ada yang salah dengan skala prioritasku sepertinya.

Suratku sampai di sini saja ya, Kaf, daripada melantur lebih jauh lagi. Sampai berjumpa di Jakarta. Tolong nanti aku diiming-imingi baju yang bagus dan murah biar semangat belanjanya. :p

Peluk,
Prima Wirayani

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Ikaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s