Setengah Mati

Kau menikah. Aku kehilangan arah. Duniaku berguncang tak beraturan; ‘tak ke kiri, ‘tak ke kanan, sebagaimana tubuh kita yang pernah berdansa di antara saksofon dan gumam George Benson.

Kupejamkan mata demi menenangkan debur di dada. Keping salju berjatuhan dari langit dipayungi matahari musim kering. Sempat aku bertanya: apa ini cuaca atau beku jiwa?

Kau menikah dan aku putus langkah. Segala tempat bergumam dalam sunyi, seluruh wajah berubah kering. Aku tiba setelah berjalan begitu jauh, berjuang begitu berpeluh. Telah kujadikan kau satu tujuan dan segenap alasan, untuk bertahan, untuk berlayar, untuk ‘tak menggoreskan lebih banyak luka pada lengan.

Tetapi, tetap kurapikan rambutku, kuselipkan patah hati di lipatan gaun. Kau akan selalu melihat senyum, hanya akan menerima bahagia. Duniamu semata-mata musim semi dan musim matahari, aku terlanjur cinta pada musim jatuh dan tak mampu beranjak dari musim beku. Salahku yang salah memilih matahari.

Kuketukkan ujung sepatu. Kulukis senyum selengkung pelangi. Kau menikah. Di pintu gedung resepsi aku berjudi dengan kemungkinan mati.

Ditulis bersama CS Writers’ Club
12 Februari 2015

Advertisements

Lelaki Tua dan Sawi

Dari halte yang sibuk menghitung manusia, seorang lelaki tua melangkah masuk ke dalam bus kota, wajahnya biasa saja, dengan seikat sawi menengok keluar dari kantong belanja, layu selayu tubuhnya.

Seikat sawi layu karena terik tengah hari ataukah sebab diam di lapak sudah dua hari? Lelaki tua layu sebab waktu ataukah isi kepala yang riuh?

Lelaki tua terayun-ayun dalam bus kota. Tubuhnya layak mendapat sawi yang lebih muda.

Untuk lelaki tua di bus kota, yang membuat kalimat ini jadi berima

#30HariMenulisSuratCinta hari ketiga
Februari 2015