Kepada Kekasihku Kelak

Semoga kau tidak mendengar kata pemuda-pemuda tanggung yang merasa memahami dunia setelah menaklukkan puluhan wanita padahal dunia jauh lebih besar dari sekadar urusan percintaan dua manusia apalagi isi celana.

Aku membayangkan kau akan gemar membaca atau paling tidak berpikiran terbuka, mendengar, dan tak ragu belajar. Setiap dari kita akan sekali waktu jatuh dalam kesalahan; semoga kita punya nyali untuk meminta maaf dan tak mengulangi, tak bersembunyi di balik punggung mereka yang bisa jadi tak tahu siapa kita.

Semoga kau juga gemar menertawai kecerobohan dan kebodohan yang kau perbuat sendiri, tak memaki-maki apa yang tidak kau ketahui, dan mencoba mengerti yang tak kaupahami. Dunia ini sungguh teramat luas untuk pikiran-pikiran sempit.

Aku berdoa agar kau tetap memelihara kanak-kanak dalam dirimu. Kita akan berlarian di trotoar jalan utama, menari kegirangan di bawah gerimis, menyanyi dan tertawa setelah pertunjukan; tak peduli pada sekitar yang ganti menunjuk-nunjuk kita.

Semoga kaudatang padaku ketika kau sedang menjalani pekerjaan yang menjadi kecintaanmu sehingga kita bisa saling berbagi cerita tentang cinta; cintaku pada kertas-kertas dan pena, cintamu pada apapun yang sedang kaulakukan sepenuh jiwa. Aku membayangkan matamu akan berbinar, semangatmu akan menular, setiap kali kauceritakan hari-hari kerjamu.

Bila kau lelah bekerja, semoga kau punya kesenangan yang mengalihkan penat atau menyembuhkannya, yang bisa kaukenalkan bila kebetulan ia asing bagiku, atau yang bisa kita lakukan bersama karena ia sama-sama hobi kita. Kau akan punya waktumu sebagai manusia, aku akan punya waktuku sebagai manusia. Kita akan baik-baik saja walau tak setiap waktu berdua.

Semoga kau melihat setiap dari kita sedang berpindah dan membawa miliknya masing-masing. Semoga kita akan bisa berbagi beban, menyeret koper-koper kita seolah sedang pergi liburan.

Semoga kita bisa berbagi musim semi di Leiden atau musim gugur di Melbourne, sekadar membaca diktat atau mengerjakan tugas-tugas kuliah agar tak kehilangan beasiswa; atau bisa saja kau membagi ceritamu padaku soal nikmatnya bagel di New York atau mahalnya roti lapis di London yang menguras isi dompetmu yang hanya diisi kiriman dari pemerintah; sebab aku yakin, Sayang, kau cukup pandai untuk tiba jua di sana.

Kepada kekasihku kelak,

Semoga kau tidak mendengar kata pemuda-pemuda tanggung nan dikenal namun sesungguhnya tak percaya pada dirinya itu, pemuda-pemuda harapan bangsa yang menguasai relasi hanya ketika dipelihara layaknya bonsai. Mereka hanya akan menitikkan air di mata ibu mereka dan menurunkan hujan di dada ayah dari perempuannya.

Jakarta, Maret 2015

Advertisements

Sabtu Tidak Biasa

Mai terbangun pukul lima dan tidak dapat kembali tidur pada Sabtu pagi yang tak biasa sebab kaujanjikan sebuah pertemuan di suatu waktu di hari itu. Ia akan mematikan alarm dan jatuh tertidur hingga paling tidak pukul delapan pada sabtu-sabtu yang biasa. Janjimu telah mengurangkan waktu tidurnya dan menambahkan beban kerja pada jantungnya.

Ia berbaring saja di ranjang sambil mengingat-ingat urutan kegiatan yang ia rencanakan sejak semalam demi dapat menemuimu tepat waktu.

Pukul tujuh mencuci baju. Pukul tujuh tiga puluh menyapu dan mengepel lantai. Pukul delapan berbelanja makanan kesukaanmu. Pukul sembilan mandi dan bersiap-siap agar pukul sepuluh siap bertemu denganmu. Begitulah garis waktu dalam kepalanya.

Ia telah gugup sejak malam sebelumnya ketika kau begitu mendadak menyegerakan janji temu yang seharusnya baru malam minggu dan mengubah tempat temu jadi di tempatnya. Mai seketika memandang berkeliling. Ia telah membersihkan lantai pada Kamis malam namun masih merasa tak cukup bersih untuk menyambutmu. Ia menengok mangkuk makanannya dan hanya menemukan kacang asin dan biskuit yang masuk angin. Ia memandang galon air minum dan sadar hanya ada satu gelas di sampingnya. Ia cemas, mengingat-ingat pukul berapa minimarket di depan gang biasanya buka.

Pukul delapan pagi setelah lantainya bersih dan kesat, ia bergegas menuju minimarket, yakin sepagi itu pintu toko telah terbuka untuk bisnis. Ia beruntung. Mai lalu mengisi keranjang belanjanya dengan pelembab wajah yang kebetulan habis, biskuit vanila, sereal gandum rasa cokelat kesukaanmu, termasuk sebotol air mineral sebab gelasnya hanya satu.

Mai kembali dan menata rapi belanjaannya, meletakkan botol air mineral di samping mangkuk tempat sereal cokelatmu duduk dengan manis, kemudian pergi mandi pukul sembilan, menggosok tubuh dan mengeramasi rambut hingga wangi. Ia memilih pakaian terbaik dari lemarinya, mengulaskan pelembab wajah dan bibir, menepuk-nepukkan bedak di pipi dan dahi lalu mewarnai bibir yang telah lembut dengan sedikit gincu. Pukul sepuluh kurang sedikit ia menyemprotkan sedikit parfum di belakang telinga. Kini ia siap kaukunjungi.

Namun, kau belum tiba pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ah, bukankah ia berjanji datang pukul sepuluhan, tak tepat sepuluh?, begitu batinnya. Ia mengambil buku yang belum tuntas dibaca. Sayangnya, sia-sia mencoba membaca ketika pikiran sedang berkeliaran entah ke mana. Mungkin ke tempat di mana kau kira-kira sedang berada.

Kau tak juga mengetuk pintu ketika waktu menjelang pukul sebelas. Mungkin ia terjebak di tengah jalanan yang padat, batinnya separuh menghibur diri. Mai tak ingin mengganggumu dengan mengirimkan pesan menanyakan kau telah tiba di bagian mana perjalanan sebab tak aman menyetir sambil memainkan telepon genggam.

Ingatkah kau ketika akhirnya mengirimkan pesan ketika waktu telah berjalan di sekitar sebelas lebih tiga puluh?

I suddenly become too busy and can’t come to your place. Sorry.

Mai, perempuan yang pikirannya telah riuh bersiap sejak malam sebelumnya, kerongkongannya bergerak perlahan. Sepasang telapak kakinya berubah dingin, jantungnya seolah membesar menyesaki rongga dada, berdebar menyiksa ruang dada, kepalanya pening dijatuhi harapan yang berderak pecah jadi kecewa. Anehnya, ia lalu hanya tertawa. Mai tahu telah lama ia tak mampu menangis. Di Sabtu tak biasa pukul sebelas lewat empat puluh lima itu ia akhirnya tahu juga bahwa marah pun kini ia tak bisa.

Dengan tangan yang bergetar hebat ia mengetikkan balasan untuk pesanmu.

“Tak apa.”

***

Jakarta, Maret 2015

Menjelaskan Perpisahan

:untuk kunang-kunang di Manhattan
Kuhela napas satu per satu
Ini rumah, bukan tempat melangkah dengan ragu
Kutatap mata Ibu
Ketika pelan-pelan menanyakan kabarmu
Ibu, kataku, ada beberapa hal yang tak bertahan di hadapan waktu
Ada beberapa kisah yang lelah meregang di tengah ruang
Menegang, membunuhi pikiran-pikiran, membenarkan sangkaan-sangkaan
Ibu kembali menanyakan kesehatanmu,
Berkilah bukan jawabanku yang ia mau
Ibu, jawabku, biarkan aku menghabiskan sarapanku dulu
Ibu balik bertanya apa yang kaumakan sebagai sarapanmu
Ibu, ujarku, maaf telah terlambat memberi tahu. Lelaki itu bukan lagi kekasih anakmu
Ibu terdiam,
Menyayangkan perpisahan
Seperti aku menyayangi setiap kenangan.
Jakarta, Maret 2015