Menjelang Waktu Tidur Tiba

:nn

Mungkin kau tak ingin tahu apa yang kulakukan tiap malam sebelum tidur selain menatap langit-langit gelap kamar tidurku. 

Tapi, biarlah kau kuberi tahu, terserahmu akan terus membaca dan mencari tahu atau pergi saja setelah tiba di titik ini. 

Tiap malam sebelum tidur, pikiranku akan lebih keras berpikir, lebih jauh berjalan. Biasanya ia akan pergi ke tempat favoritnya: sepotong waktu yang memiliki kamu; aku menyebutnya masa lalu, kau mungkin mengingatnya sambil lalu. 

Sepotong waktu itu kebanyakan berwarna hitam dengan kerlip bintang yang semalam jatuh di Alabama, atau berwarna jingga menuju senja dengan suara sepasang biduan yang minta pergi dari sebuah hubungan. 

Di waktu sebelum tidur seperti ini, pikiranku yang gemar berkelana itu makin tak mau rehat barang sejenak. Ia malah pergi ke tempat senyummu yang kau simpan setelah menarik gurauan yang menurutmu akan menggores hatiku, atau berjalan makin jauh ke tempat kau salah mengambil jalan yang, lucunya, justru benar mengantarmu tiba di tempat tujuan.  

Pikiranku pandai memotret wajahmu lalu melekatkannya di tiap-tiap muka yang mengesalkanku agar aku lalu bisa tersenyum dan tak lupa bahwa bahagia itu ada, di suatu ketika, pada suatu peristiwa. 

Hati-hati aku berpesan pada pikiranku untuk tak sekalipun mengusikmu, cukup putar saja gulungan pitanya dan pantulkan di layar selagi kamarku gelap. 

Ah, aku jadi lapar. Tapi lalu pikiranku mengingatkan: kau tak suka diganggu bila sedang menonton. Maka, kutahankan inginku makan jagung berondong yang ribut berkeriuk, sembari mengepalkan telapak tangan kiriku, meminta pikiran mengingat rasa jemari kananmu. 

Sudah kuberi tahu kau apa yang kulakukan tiap malam sebelum tidur: memutar film tentangmu. Dan aku kritikus buruk yang hanya akan bilang ‘aku suka filmnya, masa bodoh dengan pendapatmu.’

Juli 2015