Janda dan LGBT

Menurut saya status janda punya posisi yang sama dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual) di masyarakat: sebuah aib. Ya, kan?

Di suatu Kamis malam saya tiba-tiba menyadari betapa keputusan saya untuk bercerai dulu bisa jadi serupa dengan keputusan come out kawan-kawan LGBT saya. Well, mungkin pergulatan dan beban batin saya tidak seberat rekan-rekan tersebut tapi saya pikir kurang lebih sama.

Menjadi seorang janda beranak satu di usia muda sudah jelas adalah bahan gunjingan dan mungkin celaan bagi orang-orang di lingkungan sekitar saya. Bagaimana tidak? Kolom status perkawinan yg berbunyi “Janda” di sebuah dokumen resmi pemerintah bernama Kartu Tanda Penduduk saja sudah berganti jadi “Cerai hidup”. Mungkin untuk memperhalus diksi.

Lalu, apa kabar gunjingan informal di kala tidak ada kegiatan?

Selain itu, pernah suatu kali seorang kawan memandang saya dengan tak enak ketika seorang teman lainnya secara tak sengaja menyebutkan judul lagu yang ada kata “janda”-nya. Woles, guys.

Fase-fase denial saya sudah lewat, sih. Terima kasih kepada orang tua saya yang tidak pernah membuang saya, seburuk apapun kondisi saya. Khususnya untuk Ibu yang suatu malam berkata, “Ibu akan selalu ada membelamu dari orang-orang yang merendahkanmu”.

Juga mantan chief editor di media cetak tempat saya bekerja. Beliau selalu bilang “Oh, kamu yang anak satu suami nol, kan?” ke saya di masa-masa probation dulu.

Sebagian kawan berjengit mendengar saya mengutip ucapan chief editor itu. Saya juga sempat terpana awalnya ketika Beliau mengucapkan itu di kelas yang dipenuhi rekan-rekan cub reporter. Namun kemudian saya merasa biasa saja karena toh yang dia bicarakan adalah kebenaran juga.

Saya lalu menggunakan status janda tersebut sebagai benteng perlindungan dari lelaki-lelaki yang hendak berniat tak baik. Saya selalu bilang di muka kalau “saya adalah seorang single mother“.

Buat saya dengan berterus terang seperti itu, lelaki yang sungguh ingin berteman dengan saya akan tetap maju jalan. Tetapi, mereka yang memelihara udang di balik batu tentu akan mundur teratur. Sejauh ini trik tersebut berhasil, sih.

Mungkin hal seperti itu juga dialami kawan-kawan LGBT saya. Tentu sangat berat berterus terang di tengah-tengah komunitas yang belum bisa menerima mereka apa adanya, yang merasa lebih suci karena mereka seragam dengan yang lebih banyak, yang merasa dia yang berbeda harus berubah jadi sama dengan mereka bagaimanapun caranya, sebesar apapun pengorbanannya.

Tetapi, teman-teman, jangan sedih. Dengan menjadi dirimu sendiri, kamu akan bisa dengan lebih mudah mengetahui mana orang-orang yang sungguh menyayangimu dan mana yang hanya ingin jadi lebih tinggi daripada yang lain.

Sampai saat itu tiba, silakan ingat ada perempuan yang lebih senang ber-KTP janda daripada cerai hidup kapan saja ketika kamu merasa tidak berdaya. Siapa tahu kamu bisa sedikit tertawa.

Dih. Pede amat, Prim.

Jakarta, Februari 2016

Advertisements