Kedai Kopi Perjalanan

Aku menyembunyikan sekilas tatap setengah detik sebelum kau menemukannya
Kau kemudian meletakkan sebelah mata dan berlalu di antara gelas dan keran beruap

Kau mengembangkan senyumku
seperti sayap rosetta yang memenuhi bibir cangkirku

Ada begitu banyak keindahan yang kau sesakkan dalam satu bingkai waktu,
seluruhnya menyesatkanku dalam terjemahan sebaris puji untuk kopimu.

Maret, 2016
Jakarta

Kota Kita Setelah tak Memiliki Kamu

Aku mengakui kenangan kita masih kuakui sebagai milik yang paling berwarna
di tengah belantara kota yang merebut senyum dan mengubah cahaya tak lebih jadi debu dan abu-abu.

Aku menyadari hanya pada senyummu bahagiaku menemukan wajahnya,
pada tawamu setiap luka dan duka melupakan siapa diri mereka.

Aku mengingat lengan-lenganmu sebagai kawan bermain, sebagai dahan kokoh yang menopang lelah dan gelisah,
menanti di tiap akhir pekan sebagai hadiah dari waktu yang kita curahkan untuk bekerja.

Aku mengenangmu di sudut-sudut kota tempat kita menyembunyikan genggam atau kecup atau sekadar mencari jalan pintas yang membawa tiba lebih lekas ke tujuan.

Aku masih mencintaimu seperti kemacetan ini yang tak kunjung terurai, tak peduli sudah berapa banyak jalan yang dibangun dan disambung atau bus-bus panjang yang ditugaskan banyak-banyak menelan penumpang selepas petang pukul lima.

Seperti mereka yang terusir dari tanahnya, tak ada lagi yang kumiliki selain kenangan samar-samar, tak berwujud, tak berwarna, akan suatu waktu yang pernah kita sebut sebagai rumah.

Maret 2016
Jakarta