:nn

Karena tak punya lagi alasan mengetuk pintumu, kutuliskan puisi.
Semoga suatu waktu nasibnya bersinggungan dengan milikmu
dan ia bacakan hal-hal yang tak mampu kuutarakan
tentang malam, awan, kenangan yang menggarami lagi luka yang hampir kering kujilati.

Seorang asing membuatku bercerita tentangmu malam itu.
Yang kutahu hanyalah mataku masih cukup baik melihatmu.
dan kamu masih pagi muda yang menjatuhkan embun di kedua sudutnya.

Aku ingin mengetuk pintumu, menanyakan apa baju hangatmu telah cukup tebal.
Di hari-hari ini hujan kadang masih turun walau musim telah di pangkal kemarau.
Tapi alasan itu tak cukup, aku tahu.
Maka kutuliskan puisi,
berharap ia masih keindahan yang berkali-kali membuatmu lupa akan kesedihan dan kepedihan.

Jakarta, Mei 2016

Advertisements

2 thoughts on “Mengetuk Pintumu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s