Menembus Malam

Engkau berjalan menembus malam dengan lampu taman gedung pemerintah berkedip redup di kanan kiri sepasang lenganmu yang bebas mengayun angin.

Bahumu menopang lebih dari berat tas kulit cokelat muda yang tak bisa kuingat di sisi tubuh sebelah mana ia bergayut manja — sebab degup jantung membuatku gugup — sebab malam nanti kau telah harus memikirkan apa untuk esok pagi.

Engkau berjalan di setapak halaman gedung pemerintah yang mungkin dibangun dari pajak keringat orang tuamu di kampung halaman,
dan aku memilih trotoar rompal yang pecahan ubinnya menusuk-nusuk sol tipis sepatuku, membiarkan pikiran-pikiran tentangmu mengetuk-ngetuk keras kepalaku.

Aku membayangkan sisa tawamu ketika kita saling melambai tangan menguap,
“selamat tinggal”-mu menggantung di udara lalu senyap.
Kau kembali pada pikiranmu dan bayang-bayang apapun yang kadang mengintip dari balik kacamata.

Berjalan saja.

Menembus gulita.

Jakarta, Juni 2016