a late post adressed to you

it’s painful seeing “It’s (your name) birthday today!” on my Facebook notification in the morning of my birthday so i decided to unfriend you.

although I didn’t see such a notification again this year, still my mind came across to you, to how our just-fine relation turned sour — a thing i can’t tell why until now.

some people around me sometimes still talk about you, waking up a dead man from his grave called memory. and i’ll just take some peanuts and munch them or sip my wine, swallowing all the pain.

your presence fades away as the time goes by but i never have the gut to say that i’ve moved on because i don’t always have peanuts or a glass of wine near me to help me digesting all the shakes in my muscles and groans in my tummy every time a thought of you visits me or is brought to me by friends, tv shows or (your) colleagues.

the memories of you are kept at the corner of my brain. they’re dusty, seldom revisited as days and deadlines successfully make me busy. but i can’t say i’ve forgotten you because that particular bus stop i sometimes pass by has the view of your office tower and before i can stop it, my mind has already started guessing what are you doing now.

details about you evaporate layer by layer but i find out that they’re still hanging in the air when my ojek passes by a roasted chicken food-stall where we once had lunch and i watched you patiently slice your steak into pieces before eating it. i just found out, years after the day, how far the place is from the airport, the destination where you would drive me to that afternoon.

thoughts of you sometimes pop up in my mind when i see a signboard of a securities firm, whose name bears yours, near a place where i usually have events to cover. but sometimes i was just running late so i didn’t have a chance to land even a glance to the signboard and your ghost didn’t visit me at the time.

beside the time, living in the city might also heals the wounds as special things and places become common things and places if i see them on a regular basis.

and now, as we’re close to the end of january, i will have no reason to think about you anymore (and i should be thankful about that) for the rest of the year. we’re walking our different paths, so close yet so far away, keeping them out of crossing each other so lives can go on.

finally, allow me to wish you happiness, peacefulness.

and happy birthday.

jakarta, january 2017

Advertisements

Hari yang Gugup

Seiring bertambahnya usia, saya semakin merasa ingin menghindari hari ulang tahun saya. Bukan karena saya takut atau tidak mau menjadi tua, tapi karena kecanggungan yang saya rasakan tiap kali orang-orang mencurahkan perhatiannya pada saya, yang biasanya memuncak ketika hari ulang tahun tiba.

Berdiri di bawah lampu sorot membuat saya gugup dan tak nyaman. Tidak berbeda dengan ulang tahun kali ini.

Saya melewati detik pertama hari ulang tahun saya dengan menonton pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 sambil dengan cemas berharap tidak ada kawan atau sanak keluarga yang dengan sengaja begadang untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Saya akan merasa sangat tidak enak. Hahahaha.

Untungnya sampai saya selesai baca-baca berita mengenai pelantikan tersebut sekitar pukul setengah dua pagi, notifikasi di telepon seluler saya sepi!

Baru pada paginya seorang kawan baik yang sedang bertugas di Bali menelepon saya. Dia bilang dia lihat InstaStory saya yang berisi foto-foto pelantikan Trump termasuk screen capture halaman indeks pasar saham dunia dari aplikasi Bloomberg saya ketika kemudian reminder-nya mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya.

“Hari ini lu seneng-seneng, ya. Jangan kerja. JANGAN KERJA,” katanya. Hahahaha.

Setelah itu, aplikasi pesan singkat mulai dipenuhi ucapan selamat dari kawan kuliah dan rekan kerja (terima kasih, Facebook!).

Jujur ya, teman-teman, saya sengaja tidak segera membuka pesan-pesan itu karena merasa perlu mempersiapkan diri untuk menerima segala curahan perhatian kalian yang begitu baik. Terdengar berlebihan tapi begitulah adanya.

Ketika kawan-kawan dekat saya menelepon dari Bali dan Yogyakarta setelahnya pun, saya berusaha mengalihkan pembicaraan ke urusan pekerjaan atau menanyakan bagaimana situasi liburannya. Ketika rekan-rekan kerja memberi kado, saya menunda-nunda untuk membukanya.

Saya sungguh payah memang.

Tapi pada akhirnya, malam ini, saya membaca, mengingat-ingat kembali pesan-pesan yang kalian kirim dan sampaikan secara langsung dan mulai menghitung kalian sebagai juga anugerah-anugerah yang sampai dalam hidup saya.

Sungguh bagi saya yang pelupa, menemukan fakta bahwa banyak orang mengingat saya adalah suatu hal yang sangat besar, yang mungkin saya sendiri tidak mampu mencernanya. Hati saya mungkin masih kurang lapang, hati saya mungkin terlalu keras.

Sepertinya hanya itu penjelasan yang masuk akal untuk kecanggungan dan gugup yang saya rasakan tiap kali hari ulang tahun tiba. Tetapi, sungguh, saya sangat mensyukuri kehadiran dan perhatian kalian: keluarga, kawan, rekan kerja.

Saya percaya bahwa setiap perbuatan dan harapan akan kembali pada diri sendiri. Karenanya, semoga segala harapan dan perhatian baik kalian segera menemukan jalan kembali ke diri kalian sendiri.

Terima kasih.

Jakarta, 21 Januari 2017


Prissa, teman saya, mengirimkan ini pagi-pagi dan, voilĂ , there was my first cry of the day.


Malam ini saya menemukan IBG Wiraga (Hege) mengirimkan gambar ini lewat Facebook. Terharu lagi. :’) Terima kasih.