Lelaki Tua dan Sawi

Dari halte yang sibuk menghitung manusia, seorang lelaki tua melangkah masuk ke dalam bus kota, wajahnya biasa saja, dengan seikat sawi menengok keluar dari kantong belanja, layu selayu tubuhnya.

Seikat sawi layu karena terik tengah hari ataukah sebab diam di lapak sudah dua hari? Lelaki tua layu sebab waktu ataukah isi kepala yang riuh?

Lelaki tua terayun-ayun dalam bus kota. Tubuhnya layak mendapat sawi yang lebih muda.

Untuk lelaki tua di bus kota, yang membuat kalimat ini jadi berima

#30HariMenulisSuratCinta hari ketiga
Februari 2015

Perpisahan yang Layak

Kami hanya ingin perpisahan yang layak, pelukan erat dan kesadaran bahwa yang datang setelah ini adalah kepergian, bukan sepotong tiket pesawat dan tubuh-tubuh di laut dalam.

#QZ8501
#30HariMenulisSuratCinta hari kedua

Januari 2015

Popping Candy

20140301-101736.jpg

I cannot say that my life is a flat one, but it is a comfortable one for sure. Too comfortable until you keep asking me to leave that comfort zone. You are so tired seeing me eating at the same restaurant, having coffee at the same shop, or traveling to that only city. Every time you conveyed your protest I could only answer it with a short “yep yep” and the next day having my coffee at that coffee shop again.

You are definitely a kind of powder candy that pops in our mouth. Have you ever tasted that candy in your childhood? That was my favorite candy ever. It felt like a magic feeling the pops in your mouth and hearing the pops vine through your jaws to your ears. And so you are. You are a magic popping in front of me. You are not sweet for sure – a fact that you already knew and admitted and so are the candies! – but who need sweetness when they are having such a beautiful magic in front of them? You bring excitement in my life, you silently encourage me to leave my comfortable box by running around Beachwalk that day with my son. Yeah, since that day I try to be more flexible and playable to my son. Sometimes we run to his classroom or jump around whenever we feel happy and excited. You know what? It cheers up my day too! I don’t care if people see us with a strange sight as long as we are happy and enjoying the moment, the only thing we have in this world.

At this very good moment I would like to thank you for your presence. I learn so many things from you. Please, please, don’t give up on me. I am stubborn, maybe the most stubborn human creature in this world – sometimes I wonder if my brain is actually made of rock – but I still can hear you. Don’t hesitate to slap me on the face – literally and figuratively – if I do something very very bad. That’s what a great friend do, isn’t it?

Thank you, Prissa, for being so expressive and wise at the same time. Trust me, I’m doing something better than leaving my comfort zone: I am breaking the zone.

Oh, okay. That is just another excuse. Pardon me. 😀

1 March 2014
Dedicated to my one and only Miss Prissa
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-29

Untuk Aquarius yang Lain

20140225-180234.jpg

Hai, Iit.

Bagaimana kabar Malang hari ini? Ah, alih-alih menanyakan kabarmu, aku justru menanyakan kabar kota tempatmu berada saat ini, demi menghindari pertanyaan basa-basi. Sesungguhnya ada satu prinsip yang kupegang hingga hari ini: selama kau masih mampu berkicau, aku asumsikan kau baik-baik saja.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bertemu beberapa hari lalu. Berbincang denganmu berarti keistimewaan untuk menengok ke belakang panggung. Ada wajah yang lelah, keluh yang nyata, pula sebuket bunga, dan kaca penuh cahaya. Kau seniman yang lihai menempatkan tirai di antara pertunjukan dan kehidupan. Kau adalah kicauan dengan jangkauan nada terjauh. Aku menyukai rendah suaramu di tepi taman ketika itu, beserta segala cerita soal kepulanganmu, rumah, dan damai yang seketika riuh disapu hujan yang ribut. Bagaimana sepatumu? Semoga lekat pekat lumpur berhasil habis kaulebur.

Terima kasih telah mengijinkanku melihat ke dalam hatimu. Kau tahu, menjadi tempat menaruh percaya adalah sekaligus restu dan pastu? Tetapi aku memeluknya dengan mafhum, tahu sesungguhnya menjelaskan lebih berat dari mendengarkan. Maka, di situlah aku, duduk mendengarkanmu sambil sesekali menjauhkan kotak rokok darimu.

Terima kasih untuk kesediaanmu membagi isi kepala. Senang rasanya bisa mengintip ke dalam sana, tak cuma lewat halaman-halaman karya yang telah sesak oleh puja-pujian. Aku memahami kekaguman mereka, aku pun punya sepasang yang memancar setiap kali aku menyimakmu bercerita. Aku tak punya banyak untuk ditukarkan dengan milikmu, pun tak pernah berjalan begitu jauh hingga kisahnya bisa kubagi denganmu. Karenanya, aku selalu duduk di situ, mendengarkanmu, hingga tiba nanti waktu aku punya cukup banyak cerita untukmu. Mungkin di persuaan kita yang berikutnya.

Ah, Iit, mungkin sebaiknya aku menemukan lelaki yang seperbintangan dengan kita. Hahaha.

25 Februari 2014
Untuk Iit Sibarani
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-25

Telur Mata Sapi

Segala yang berawal dari tanganmu adalah keajaiban.

Apa yang istimewa dari sepiring kecil berisi sebutir telur goreng yang mengepul hangat? Hanya piring dan telur itu. Hanya garam dan wajan yang keluh kusam di bak cucian. Menggoreng telur tak butuh bakat. Hanya wajan, minyak, dan telur yang sukarela meluncur turun dari cangkangnya. Tak kusangka, aku salah.

Apa yang istimewa dari sepiring telur mata sapi di piring kecilku? Hanya telur dan piring itu. Hanya garam dan lekat lemak minyak di wajan. Tak ada yang istimewa. Aku tak paham. Rasa-rasanya setiap langkah dan bahan telah patuh kujalankan, tetapi telur mata sapiku tak punya apapun hingga pantas disebut istimewa. Padahal, menggoreng telur tak kenal bakat, mungkin benar, ia perlu sedikit keterampilan.

Lalu, apa yang membuat telur mata sapi hangat buatanmu begitu istimewa, Ibu, renyah dan gurih di pinggirnya dengan kuning yang pekat setengah tanak? Bukankah itu hanya telur dengan percikan garam di permukaan? Hanya minyak dan wajan antilengket yang mulai lekat karena usia? Lalu, kenapa ia istimewa dan punyaku hanya biasa? Apa karena sihir atau cuma bumbu rahasia?

Mungkin cinta, Ibu, dugaanku mungkin karena cinta. Ia bergulir turun dari matamu yang kantuk lalu jatuh di tepian wajan. Mereka – telur dan cinta dan minyak – menari ria dipandu dentingan sutil, dipanaskan api yang kandil. Cinta dan dansa dan bahagia. Bagaimana mungkin ia tak jadi istimewa?

Kini aku paham, Ibu. Semua yang berasal dari kedua belah tanganmu adalah keajaiban. Hatimu adalah gudang mantra bernama cinta, tak berdinding, tak berpintu, tak bertepi. Aku tak percaya bila kasihmu tak lebih luas dari jagat raya. Aku hanya akan percaya bahwa jemarimu adalah awal dari alam semesta, dan karenanya kau selalu hidangkan seluruh kebaikan dunia bahkan dalam sepiring telur mata sapi yang sederhana.

Ibu, sesulit apapun aku, aku selalu mencintaimu, walaupun tak seberapa bila dibandingkan dengan milikmu.

22 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-22

Selamat Tinggal

Perpisahan adalah perihal menatap selekat-lekatnya kemudian melepaskan selekas-lekasnya.

Tanpa sadar aku memperhatikanmu. Aku tahu ada helai rambut yang jatuh lebih dulu dibanding yang lain, aku melihat bagaimana senyummu perlahan mengembang dari tak ada hingga kembali lagi ke tiada. Kau begitu hangat di mata. Kau meninggalkan jejak panas di dada.

Aku selalu memperhatikanmu. Dan kini kau tengah berjalan lurus menuju samuderamu. Kau tinggalkan kepingan-kepingan aksara di antara jejak sepatu di belakang. Berharapkah kau mereka kupungut? Karena aku telah memeluk dua patah di antaranya, sembari menatap punggung dan laut berganti-ganti.

Perhatianku adalah sungai gelap yang diam. Samudera di depanmu adalah lautan bergemuruh dengan ombak yang tak jeri memeluk pasir dan jemari kaki. Kau sudah berjalan ke arahnya. Ia sudah menanti dengan bintang-bintang bercermin di tubuhnya. Karenanya, ijinkan aku mengucapkan selamat tinggal. Bukan, bukan untuk berpisah darimu, melainkan dengan sebagian diriku yang mulai menginginkanmu.

20 Februari 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-20

When Will I See You Again?

Dear the city and my beloved citizen,

My suitcase followed my footsteps. The sound of its wheels moving on the floor somehow reminded me of all good memories. The memories of home.

I visited the city quite often, either for business or leisure. This was the only city where I felt okay for not having stars at night. Why did I need the stars if I had plenty of it in your eyes? I laughed to myself every time the little voice in my head said that phrase. Silly. I am.

People around me said I was crazy for always going back to the city. It was cruel, peevish shouts everywhere, hot and humid, traffic jam, not to mention the high criminal rate. It was miserable. But what could I say if my heart fell for it again and again? You did not need any reason to be falling in love. You just fell. But people around me insisted to find a reason for my strange amorousness. Then, they started naming you.

I felt the urgency to remind you that we were meeting each other long after my first visit to the city (defensive?). The later fact that you then lived there was another matter. Did not you think this universe was funny, a professional comic, for placing you there so I could keep coming for more (chance to meet you or not meet you)? I was suspicious that all those business and leisure were merely the universe’s scenario to keep me away from a-peaceful-whole-new-world-without-you. Oh, I heard the universe shouted no. But, it was not funny at all, actually. It was satire, if you would like to know my opinion.

And, yeah, you already heard the sound of my suitcase’s wheels. You knew I was coming again, either for business or leisure. And I found out the same question was still pounding in my heart: when will I see you again?

Sincerely,
The keep-coming-home-traveler

13 February 2014
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-13