#5BukudalamHidupku Memilih Mendengarkan Hati

Layar komputer tablet di depan saya menyilaukan. Selembar halaman putih kosong menatap balik kepada saya. Ia mendelik. Saya memohon, memohon satu kata saja untuk memulai kembali deretan paragraf setelah jeda panjang yang hampir tujuh tahun lamanya. Ada banyak kalimat di kepala saya yang memaksa keluar tetapi jalan lahirnya telah tersumbat terlalu lama. Mereka berdesakan, saya lupa cara menenangkan. Mereka berhamburan, saya lupa cara merapikan. Saya juga lupa cara melonggarkan sesak di dada. Ia memukul-mukul minta keluar. Saya diam, terpaku pada selembar halaman putih di layar tablet. Saya di dalam, meronta-ronta minta dikeluarkan. Lalu jari saya mulai mengetik satu kata: saya. Kemudian tembok itu runtuh, bah menerjang, basah di pipi, kalimat-kalimat menggenang di atas layar putih bersinar.

***

“Bagus sekali. Kenapa kamu tidak buat blog dan post tulisanmu di sana?”

Isi email balasan dari sahabat saya membuat saya tercenung. Tak pernah terpikir sebelumnya untuk membuat blog dan memublikasikan tulisan saya. Terakhir kali tulisan saya dipublikasikan adalah di majalah dinding ketika SMA dulu. Setelahnya saya mari suri selama hampir tujuh tahun. Tidak menulis apa-apa, hanya membaca dan sibuk mencinta yang hasilnya hanya kecewa. Ah, tidak juga. Kecewa itu telah menjadi sebuah tulisan yang menurut sahabat saya cukup bagus dan membuatnya terkesan. Sahabat saya ini memang terlalu baik pada saya.

Mengetahui saya ragu-ragu, ia terus memaksa saya sambil menganjurkan saya mengikuti akun twitter seseorang. Nama akun itu @commaditya. Saya sudah pernah mendengar soal akun itu sebelumnya tapi tak cukup penasaran untuk mengecek isinya. Karena sahabat saya terus memaksa dengan mengatakan bahwa akun ini berisi banyak puisi yang pasti saya sukai, saya pun membuka akun ini. Saya baca linimasanya lalu tanpa ragu menekan tombol follow.

Benar bila orang mengatakan akun @commaditya adalah pemancing curhat colongan. Selain itu, kicauannya seringkali menerbitkan inspirasi menulis untuk saya. Saya juga mengikuti dan menikmati isi blog-nya. Saya jadikan bacaan di saat senggang, di saat saya butuh tersenyum. Saya menyukai caranya menulis, pilihan-pilihan katanya yang sederhana tapi bernyawa. Saya bisa merasakan rasanya mengkhayalkan tokoh-tokoh ceritanya, bisa ikut merasakan kerinduannya pada sang kekasih. Tulisannya membuat saya tersenyum, walaupun kegetiranlah yang ia bawakan, sebab kegetiran itu dibalut dengan indah. Bagaimana kamu tidak bisa tersenyum melihat keindahan di depan mata?

Kemudian @commaditya menerbitkan buku pertamanya, Pilihan Hati. Lagi-lagi sahabat saya ini memberikan kebaikan. Ia memesankan satu eksemplar untuk saya, lengkap dengan tanda tangan @commaditya sebagai hadiah ulang tahun (ah, saya sungguh mencintai sahabat saya ini). Saya membacanya dengan bersemangat, teringat isi blog-nya yang sangat saya sukai. Tapi, ah.. Ternyata saya lebih menikmati isi blog-nya. Terasa seperti ada yang terlepas dari genggamannya saat menuliskan cerita di buku ini. Belakangan saya ketahui ia memang tidak begitu puas dengan hasil karyanya ini dan bertekad untuk memperbaikinya di buku kedua. Terlepas dari itu semua, saya sangat menyukai akhir cerita di buku ini, yaitu ketika Jelaga berani membuat keputusan, berani melepaskan orang yang ia cintai, berani membuka jalan yang baru, meninggalkan yang lama dan nyaman tetapi tak bertujuan. Saya terinspirasi, sangat terinspirasi. Saya teringat mimpi saya tujuh tahun yang lalu yang begitu saja saya lupakan demi mengejar cinta dan mimpi yang lain: saya ingin menulis buku. Saya ingin menulis banyak hal, puisi, prosa, novel. Saya heran juga kenapa saya bisa melewati tujuh tahun itu tanpa menulis satu pun puisi, satu kata pun. Padahal sebelumnya saya tak bisa pergi tanpa buku catatan dan pena, tanpa merangkai-rangkai kata dalam kepala. Saya merasa benar-benar telah mati suri, telah kehilangan sebagian diri, telah lupa mendengarkan hati.

Maka, saya kirimkan email kepada sahabat saya yang kebetulan mengenal @commaditya. Saya titipkan rasa terima kasih saya yang paling dalam atas inspirasi dan pengingat mimpi yang ia sampaikan dalam buku dan puisi. Bahwa tulisan-tulisan dan bukunya telah membangunkan seseorang dari tidur panjangnya, telah menepuk bahu dan menyadarkannya dari kenyamanan yang melenakan. Ia telah mengembalikan semangat dan minat terbesar saya yang telah lama terlupakan. Meminjam istilah sahabat saya itu: “he helps you to reinvent your old passion“. Saya bersyukur. Saya berterima kasih.

***

Kini saya sedang belajar menulis seperti seorang anak kelas satu sekolah dasar. Saya kembali mengulang segalanya dari awal. Tujuh tahun telah menghilangkan kepekaan dan keterampilan mengolah rasa dan kata. Tujuh tahun adalah ketertinggalan yang besar dan jauh, saya bahkan tak begitu paham dunia kepenulisan dan tokoh-tokoh di dalamnya. Saya benar-benar mengulang dari awal dari nol yang kosong. Namun, yakinlah saya akan belajar dan berlatih dengan giat. Saya akan memberikan usaha terbaik. Saya akan terjatuh, akan kalah dan dicibir tapi saat ini kritik dan ujianlah yang saya harapkan. Tulisan saya tak pernah teruji untuk waktu yang lama. Saya butuh diuji, saya butuh dikritik, saya butuh melihat karya saya dari mata-mata yang lain. Entah mimpi saya untuk menulis buku akan menjadi kenyataan atau tidak, tetapi yang pasti saya kini telah paham bahwa menulis adalah salah satu keinginan dan minat terbesar saya. Menulis adalah terapi saya untuk menjaga kesehatan jiwa dan pikiran. Menulis bukan sekadar gaya, ialah kebutuhan saya.

Jadi, jika suatu hari nanti kalian menemukan sebuah buku di toko buku dengan nama saya tercetak di atasnya sebagai sang penulis, kalian sudah tahu siapa yang patut diberi selamat.

20131116-225209.jpg

Seharusnya saya yang berterima kasih karena ia telah menginspirasi saya.

16 November 2013
Ditulis untuk #5BukudalamHidupku

Advertisements

#5BukudalamHidupku Perubahan Besar: Sebuah Titik Balik

Setiap manusia memiliki titik baliknya sendiri-sendiri. Titik balik itu bisa merupakan titik terendah bahkan tertinggi dalam hidupnya. Mereka telah mencapai puncaknya hingga tak ada lagi tempat untuk dituju selain berbalik arah, kembali ke dalam diri. Di usia ini saya merasa telah menemukan titik balik saya. Entah kalian akan menyebut saya sok bijaksana, sok berpengalaman, atau apapun itu. Saya tidak peduli. Pengalaman hidup tidak diukur dan ditentukan oleh usia, pun sebuah titik balik yang lahir dari pengalaman hidup itu sendiri.

Saya merasa tidak perlu menceritakan kejadian ini secara rinci. Cukuplah dengan menyebutkan bahwa beberapa waktu yang lalu saya mengalami sebuah peristiwa besar yang menguras emosi dan hampir memakan korban kewarasan dalam kepala. Saya diharuskan untuk membuat sebuah keputusan besar. Memang tidak ada yang mengharuskan dan memaksa saya untuk membuat keputusan besar itu, tetapi saya merasa saat itulah saat yang tepat untuk mengambil keputusan dan menjadi dewasa. Saya akan meninggalkan laki-laki yang (pernah) saya cintai. Mungkin meninggalkan bukan kata yang tepat di sini karena saya sudah lebih dahulu ditinggalkan. Mungkin yang sesuai adalah merelakan, melepaskan, lalu belajar berjalan sendirian. Saya sudah terlalu lama menggantungkan nyawa pada tambang yang telah putus. Sia-sia.

Keputusan untuk merelakan dan meresmikan perpisahan kami adalah keputusan terbesar yang pernah saya buat dalam hidup saya. Sekaligus menjadi titik terendah sepanjang waktu saya di dunia. Saya berada di dasar jurang, di bawah kerikil yang berserakan. Saya akan melukai keluarga, saya akan menyiksa diri saya, saya akan membuat anak saya bertanya-tanya. Saya bimbang. Saya takut. Sangat takut. Tak pernah setakut itu.

Di tengah segala kekalutan dan kebimbangan itu, saya membaca kicauan seorang kawan di Twitter. Ia bercerita tentang serunya menyambut peluncuran serial Supernova: Partikel karya Dee di Surabaya. Ia bercerita para pembeli sudah mengantre sejak pagi dan buku-buku tersebut bahkan sudah menjadi rebutan sebelum sempat ditata di rak display oleh pegawai toko buku. Saya penasaran. Ketika SMP dulu saya pernah membaca Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh yang juga merupakan serial Supernova. Ketika itu saya tidak membacanya hingga selesai. Saya tidak paham kalimat-kalimatnya. Saya tidak suka. Saya tidak pernah lagi membaca pun membeli karya-karya Dee selanjutnya. Namun, melihat antusiasme kawan saya itu, saya penasaran juga. Akhirnya terbelilah Partikel. Dan ternyata saya jatuh cinta padanya sejak halaman pertama. Saya telah memberinya kesempatan kedua dan ternyata kami berhasil melaluinya. Saya tergugah oleh cara Dee bercerita, topik yang ia angkat, spiritualisme, pencarian jati diri, penglihatan ke dalam diri. Saya menangis bersama Zarah, saya marah kepada Ibu, saya rindu dan salut pada Firas. Saya terhanyut dalam alirannya. Segalanya sempurna di mata saya, terlihat begitu nyata hingga saya percaya. Saya percaya alien itu ada. Hahaha.

Kemudian mulailah saya membeli serial Supernova lainnya. Membacanya satu per satu, menyusul ketertinggalan saya. Saya kemudian paham alasan saya tidak menyukai tulisan Dee ketika SMP dulu: kemampuan otak saya belum sampai di sana. Semakin saya membaca, semakin saya hanyut dalam topik spiritualisme yang diangkat Dee. Saya mulai belajar meditasi untuk menyembuhkan sakit dan menenangkan pikiran setelah membaca Petir, saya tertarik memperluas wawasan saya soal agama karena membaca Akar, dan saya bagaikan membaca kisah hidup sendiri dalam Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hanya saja dengan akhir yang berbeda. Pendek cerita, kisah yang Dee tulis telah mempengaruhi saya dengan cara yang positif. Saya kemudian memilih menjadi vegetarian, belajar mengurangi konsumsi obat, lebih memperhatikan kesehatan dan mendengarkan tubuh, belajar lebih sabar, bersyukur, dan menghormati perbedaan. Banyak hal baik yang saya pelajari dan hingga hari ini saya masih belajar.

Perubahan-perubahan itu ternyata memberi kekuatan yang sangat besar bagi saya. Saya mampu melewati masa terberat hidup saya dengan lebih tenang, lebih baik, lebih kuat. Saya tidak merasa terpaksa karena mulai bisa menerima segalanya sebagai jalan hidup yang tak bisa dihindari. Saya belajar menerima lalu dengan sendirinya saya jadi lebih kuat. Saya mulai merelakan, kemudian saya jadi lebih berbahagia. Kami akhirnya memutuskan untuk berpisah jalan, berusaha untuk mengakhiri semuanya dengan baik-baik. Mustahil untuk menghilangkan perih, namun kami bersepakat untuk tidak mengungkit-ungkit. Kami jalani saja jalan yang terbentang di bawah kaki kami masing-masing sambil mempersiapkan diri menghadapi apapun itu di depan sana.

Saya selalu percaya semesta ini bekerja dengan cara yang luar biasa. Ia selalu punya kejutan-kejutan yang layak dinanti, entah itu perih atau bahagia yang gilang-gemilang. Seperti Partikel ini yang datang begitu saja saat saya butuh bantuan, yang kemudian membantu saya melalui titik balik, menarik saya dari bawah kerikil, untuk berdiri lagi menghadapi hari. Saya ingin mengutip satu kalimat yang sayangnya saya lupa diucapkan oleh siapa dan disebutkan di mana: if you have hit your rock bottom, your only way is up.

Selamat melalui titik balikmu, Kawan.

20131115-230305.jpg

15 November 2013
Ditulis untuk #5BukudalamHidupku Hari ke-4

#5BukudalamHidupku Peraturan yang Membuka Jalan

Sebagai seorang sarjana hukum yang juga sedang menekuni profesi di bidang hukum, agak janggal rasanya apabila tidak ada buku-buku bertema hukum yang mempengaruhi hidup saya. Saya memikirkannya sejak semalam ketika kesulitan mengingat buku apa lagi yang memiliki makna dalam di hidup saya. Saya mencoba mengingat-ingat dan merunut setiap kejadian dalam hidup saya, yang berkesan, yang meninggalkan bekas dalam. Tetapi rupanya ingatan saya tak sepenuhnya bisa diandalkan. Lalu sepulang kerja tadi saya memandangi isi rak buku sambil menggali-gali memori dengan susah payah. Mata saya bertemu dengan sebuah buku di deretan peraturan perundang-undangan di bagian rak paling atas. Undang-Undang nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Lalu ingatan itu tiba-tiba nyata di kepala.

Saat itu menjelang pertengahan 2008. Kampus saya, Fakultas Hukum Universitas Udayana, mendapat kiriman surat dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya. Surat itu berisi undangan dan informasi mengenai lomba peradilan semu niaga tingkat nasional yang akan mereka selenggarakan pada bulan Agustus. Peradilan semu adalah istilah yang dipergunakan untuk mata kuliah yang berisi pelatihan dan simulasi sidang. Dalam mata kuliah ini mahasiswa diajarkan cara membuat dokumen-dokumen persidangan, seperti gugatan, dakwaan, tuntutan, pembelaan, hingga putusan pengadilan. Selain itu kami juga diajarkan tata cara beracara di pengadilan, termasuk praktek simulasi sidang yang bak drama, mengharuskan mahasiswa untuk berakting. Peradilan semu kemudian banyak dilombakan antarfakultas hukum di Indonesia, bahkan di dunia. Perlombaan peradilan semu biasanya diikuti secara berkelompok. Satu kelompok berisi sekitar 16-18 orang mahasiswa. Anggota kelompok akan diberi tugas dan peran masing-masing sesuai dengan kasus yang diberikan. Ada yang berperan sebagai hakim, pengacara, jaksa (apabila kasus pidana), terdakwa atau tergugat, saksi-saksi, hingga panitera pengadilan. Tidak hanya berakting, peserta juga harus menyiapkan dokumen-dokumen persidangan yang dibutuhkan layaknya kasus hukum yang sebenarnya.

Lomba peradilan semu yang diadakan Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut adalah peradilan semu niaga. Kasus yang dilombakan adalah kasus kepailitan untuk babak penyisihan dan kasus sengketa merek untuk babak final. Pihak panitia mengirimkan kasus posisi yang menjadi materi simulasi persidangan nantinya. Kami harus mempelajari kasus tersebut, mempelajari kekuatan dan kelemahan kedua belah pihak dalam kasus tersebut, menyiapkan dokumen-dokumen persidangan, kemudian menyusun skenario persidangan. Yang paling seru adalah pada saat kami berlatih simulasi sidang. Kami menyusun skenario layaknya sinetron dan film di televisi. Menambahkan sedikit drama agar sidang tidak terasa membosankan. Saat itu saya mendapat peran sebagai pengacara dan pengacara yang menjadi lawan saya diceritakan adalah pengacara yang sombong dan penuh drama. Peran tersebut dibawakan dengan apik oleh adik kelas saya.

Keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Surabaya bukanlah jalan yang mulus dan mudah. Ketika itu tim kami baru saja kalah telak di lomba peradilan semu pidana di Universitas Indonesia Jakarta. Kawan-kawan di kampus memandang kami sebelah mata, pun beberapa dosen. Beruntung kami memiliki dosen pembimbing yang luar biasa. Pak Santos namanya. Pak Santos sangat tekun dan membimbing kami dengan kedisiplinan tinggi. Karena masih muda, beliau dengan mudah berbaur dengan kami. Beliaulah yang banyak memberi masukan (dan unsur drama!) ke dalam simulasi sidang kami. Berkat kerja keras seluruh tim dan bantuan dana dari donatur dan dekanat, kami akhirnya berangkat ke Surabaya dengan jantung berdebar dan beban di pundak.

Di luar dugaan untuk pertama kalinya tim kami lolos dari babak penyisihan dan berhak masuk ke babak final. Kami menyambutnya dengan sorak-sorai bahagia seolah-olah telah menjadi juara. Keberhasilan tersebut layak disebut prestasi mengingat kekalahan telak yang kami derita di lomba sebelumnya. Ditambah lagi dengan rekor belum pernah lolos ke final. Satu posisi di babak final di Surabaya itu mengangkat beban berat dari pundak kami semua.

Masalah kemudian muncul karena selama itu kami belum pernah berlatih simulasi untuk sidang final. Hahaha. Selama masa latihan dan persiapan, kami hanya fokus pada sidang penyisihan, habis-habisan. Bahkan rangkuman dokumen persidangan dan fotokopinya baru kami siapkan semalam sebelum babak final. Kebahagiaan hanya sebentar, selanjutnya kepanikan dan ketegangan melanda. Kami berlatih hingga dini hari, menghapalkan urut-urutan persidangan dan drama-drama kecil yang ikut diselipkan. Kami tetap berusaha tenang dan santai karena masuk babak final berarti posisi juara tiga sudah di tangan.

Simulasi sidang final kami berjalan lancar. Namun pada akhirnya kami hanya berhasil meraih juara dua. Juara pertama direbut tim dari Universitas Diponegoro Semarang. Sedih? Iya. Tapi bahagia juga. Posisi juara kedua itu adalah prestasi tertinggi yang kami raih sepanjang sejarah keikutsertaan kampus kami di lomba-lomba peradilan semu. Posisi tersebut juga membuat kampus kami lebih dikenal dan bersuara di ajang nasional. Selama ini ternyata banyak yang tidak tahu kalau di Bali juga terdapat sebuah universitas negeri, yaitu Universitas Udayana. Sejak saat itu berbagai undangan perlombaan berdatangan ke kampus kami termasuk ajakan untuk membuka local chapter organisasi mahasiswa hukum se-ASEAN.

Lalu bagaimana dengan tim lomba yang meraih posisi kedua di Surabaya tersebut? Sebagian besar dari kami mengundurkan diri karena sudah harus fokus dengan skripsi. Posisi kami digantikan adik-adik tingkat yang jauh lebih pandai dan cemerlang. Kami yang sudah “pensiun” mendapatkan pengalaman berharga, prestasi, teman-teman baru selama di Surabaya, dan inspirasi profesi. Salah satunya saya. Karena mendapatkan peran sebagai pengacara di dua lomba peradilan semu yang berbeda, saya kemudian bercita-cita ingin menjadi pengacara. Dan di sinilah saya hari ini, seorang (calon) pengacara. Saya memilih bidang hukum bisnis alih-alih pidana karena dari dua lomba yang saya ikuti, saya tahu bahwa hukum bisnis jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada hukum pidana. Hahaha. Dan satu lagi yang menarik. Saya mendapat penugasan dari kantor untuk membantu mengurusi perkara kepailitan seorang klien di Surabaya. Dejavu.

20131114-222456.jpg

14 November 2013
Ditulis untuk #5BukudalamHidupku Hari ke-3

#5BukuDalamHidupku Peran Besar Bung Kecil: Sutan Sjahrir

Tidak banyak pengetahuan yang saya dapatkan mengenai Sutan Sjahrir di bangku sekolah dulu. Padahal, sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia seharusnya ada lebih banyak kisah hidup maupun pemikirannya yang diperkenalkan kepada generasi muda. Peran Sjahrir pada masa sebelum maupun sesudah kemerdekaan tidak bisa dianggap sepele. Ialah yang mengusahakan kemerdekaan Indonesia melalui jalur-jalur diplomasi. Sjahrir tidak menyukai kekerasan dan pertumpahan darah sehingga ia seringkali dianggap lembek terhadap penjajah. Bahkan, ia dan pendukungnya diejek sebagai “anjing-anjing Belanda” oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka. Saya pernah membaca entah di mana sebuah kutipan entah dari siapa yang mengumpamakan Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka sebagai gas sedangkan Sjahrir adalah remnya.

Seingat saya nama Sutan Sjahrir hanya disebut dua kali dalam pelajaran sejarah, yaitu sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia dan orang pertama yang mendengar kabar kekalahan Jepang dari Sekutu. Semua serba pertama. Setelahnya perannya tak banyak dibahas. Bahkan saya merasa pembahasan mengenai Sjahrir dikurangi sebisa mungkin karena ia dianggap berpaham “kiri”. Saat saya masih bersekolah dulu, pemerintah memang masih trauma terhadap segala sesuatu yang “kekiri-kirian” walaupun sesuatu itu sebenarnya bukanlah “kiri” sebagaimana yang dimaksud, bahwa yang dianggap “kiri” itu ternyata memiliki peran besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Maka, berbahagialah saya ketika Tempo menerbitkan Seri Buku Bapak Bangsa. Seri ini terdiri dari empat buku tentang empat tokoh yang dianggap berperan besar dalam kelahiran bangsa Indonesia. Keempat tokoh tersebut adalah Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Pilihan yang menarik bukan? Seri buku ini sangat sulit saya temukan di Bali. Pada saat itu hanya satu toko buku yang menjualnya dan kebetulan sekali toko buku itulah yang terakhir saya datangi setelah sebelumnya berkeliling ke mana-mana menanyakan buku ini. Saya luar biasa girang saat menemukannya. Saya ingat saya terperangah lalu tertawa-tawa sendiri saat akhirnya melihat seri buku ini di rak display. Bahagia sekali rasanya.

Awalnya saya tertarik membaca buku tentang Hatta. Iya, saya memulai membaca dari Hatta kemudian Soekarno, Sjahrir, terakhir Tan Malaka. Di luar dugaan dari keempat tokoh besar tersebut saya jatuh cinta pada Sjahrir. Saya mengagumi pemikirannya, intelektualitasnya, kisah asmaranya yang rumit, terutama kecintaannya pada Banda Neira. Kecintaan Sjahrir pada gugusan pulau di Maluku tempat ia dibuang dari Boven Digul bersama Hatta inilah yang juga membuat saya jatuh cinta. Sjahrir dan Hatta dibuang dari Boven Digul di Papua ke Banda Neira dari tahun 1936 hingga 1942.

Diceritakan dalam buku ini Sjahrir menemukan semangatnya di Banda Neira. Sjahrir sesungguhnya tidak begitu tertarik pada politik. Ia terjun ke dunia politik semata-mata karena merasa memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar saat itu. Ia memiliki minat yang besar pada anak-anak dan kegiatan mengajar. Di Banda Neira ia menemukan semangat dan kecintaannya. Sjahrir dan anak-anak angkatnya yang merupakan anak-anak asli Banda Neira kerap bermain di pantai, berperahu ke tengah laut, dan mendaki gunung. Ia juga mengajari anak-anak di pulau itu menulis dan membaca, berhitung, sejarah, hingga tata cara makan. Sjahrir bahkan menjahitkan baju untuk anak-anak angkatnya. Sementara Hatta lebih suka mengunci diri di kamar sambil membaca buku-buku koleksinya yang berjumlah hingga enam belas kotak, Sjahrir memilih mendengarkan musik klasik dan membaca bersama anak-anak angkatnya. Sjahrir sepertinya sangat menikmati masa-masa pembuangannya di Banda Neira. Dikutip dari buku ini, pada awal Juni 1936 Sjahrir pernah menulis “di sini benar-benar sebuah firdaus” untuk mengungkapkan keindahan Banda Neira.

Cerita Sjahrir mengenai Banda Neira dalam buku ini mempengaruhi saya. Setelah membaca kisah indah Sjahrir di Banda Neira tersebut, saya menjadi agak terobsesi dengan pulau ini. Saya sangat ingin mengunjungi pulau ini, berlayar di lautnya, dan menengok rumah yang menjadi tempat pembuangan Sjahrir dan Hatta. Saya ingin menelusuri tiap sudut pulau ini, menikmati keindahan alamnya, berinteraksi dengan masyarakat sekitar, sambil berusaha memahami dan menghayati alasan kecintaan Sjahrir pada pulau ini. Saking terobsesinya, saya bahkan bercita-cita ingin menamai anak perempuan saya kelak dengan nama Banda Neira. Hahaha. Bukankah itu nama yang indah sekaligus menyimpan begitu banyak nilai sejarah? Saya yakin anak saya itu akan bangga menyandang nama Banda Neira. Tapi jika ternyata saya tidak punya anak perempuan, saya berpikir untuk menggunakan Banda Neira sebagai nama pena saya saja.

20131113-221602.jpg

Inilah wajah salah satu buku favorit saya itu.

13 November 2013
Ditulis untuk #5BukuDalamHidupku Hari ke-2

#5BukuDalamHidupku Kisah Klasik: Mahabharata

Saya tidak ingat kapan saya mulai bisa membaca. Saya juga tidak ingat buku apa yang pertama kali saya baca sendiri tanpa pendampingan Ibu. Yang saya ingat adalah majalah Bobo menjadi bacaan favorit saya di awal-awal kebebasan saya dari kebutaan huruf. Saya mencandu majalah itu. Iya. Mencandu adalah istilah yang tepat untuk saya saat itu. Apabila majalah Bobo datang terlambat, saya bisa demam dan demam itu langsung sembuh ketika Ibu memberikan majalah yang saya tunggu-tunggu itu. Sebenarnya saya ingin menulis tentang majalah Bobo karena majalah ini salah satu agen pengubah hidup saya. Tetapi majalah bukanlah buku. Jadi, ijinkan saya menyimpan cerita soal majalah ini untuk saya bagi di kesempatan lainnya. Hehehe.

Kecanduan saya pada majalah Bobo menemukan ujian berat pertamanya saat suatu hari seorang paman di kampung meminjami saya sebuah buku. Tebal. Tua. Apak. Dengan kertas yang menguning. Itulah buku tebal saya yang pertama. Di depan buku luar biasa itu tertulis Mahabharata Sebuah Perang Dahsyat di Medan Kurukshetra. Judul yang luar biasa. Mungkin terlalu luar biasa untuk anak seumuran saya yang ketika itu (sepertinya) masih duduk di bangku sekolah dasar (ah, tolong maafkan ingatan saya yang begitu terbatas). Beliau meyakinkan saya dengan mata berbinar bahwa buku itu sangat bagus, ceritanya menarik, dan saya pasti akan tertarik. Terus terang saya merasa sedikit gentar melihat ketebalan buku itu. Seumur hidup saya (saat itu) saya belum pernah membaca buku setebal itu. Tapi saya terima saja dengan alasan buku itu memiliki huruf yang jauh lebih banyak daripada majalah Bobo sehingga lebih lama selesainya dan saya tidak perlu bingung mencari bacaan untuk waktu yang cukup lama. Iya. Alasan yang aneh, alasan yang muncul karena pada saat itu saya bisa menyelesaikan membaca majalah Bobo dalam waktu beberapa jam saja. Selebihnya saya harus mengulang-ulang membaca hingga terbit edisi selanjutnya. Tak jarang saya harus memilah rubrik-rubrik mana yang saya baca hari ini, yang mana untuk besok, lusa, dan seterusnya. Dengan adanya buku tebal nan luar biasa itu, kebutuhan sehari-hari saya akan rangkaian huruf akan sangat terpuaskan.

Dan ternyata benar kata paman saya. Buku itu telah menarik hati saya dan berhasil membuatnya terjatuh. Saya sungguh jatuh hati pada isi buku Mahabharata itu. Nyoman S. Pendit, sang penulis yang namanya masih saya ingat hingga hari ini, sungguh mahir menguraikan epos negeri India di mana Bhagavad Gita menjadi salah satu bagian kisahnya. Tidak ada bahasa yang sulit dipahami, ceritanya mengalir begitu saja, menarik kita dalam arusnya yang tenang. Tidak ada penonjolan yang berlebihan yang terkait dengan agama. Sungguh, penulisan kisah di buku itu bagaikan novel biasa tetapi dengan kisah yang jauh lebih besar, kolosal, dan penuh makna.

Kisah Mahabharata menguraikan kehidupan keluarga Pandawa dan Kurawa yang dimulai dari sejarah wangsa Bharata, nenek moyang mereka, masa kecil kedua keluarga, pertikaian dan permusuhan yang akhirnya berujung pada perang besar di Padang Kurukshetra. Tidak sampai di situ saja, buku ini juga menceritakan hidup keluarga Pandawa setelah perang besar, kematian mereka, dan perjalanan mereka menuju swargaloka untuk mencapai moksa (kedamaian yang abadi). Kisah yang sangat lengkap dan memuaskan, penuh dengan filsafat hidup dan pelajaran tentang kebaikan, keburukan, dan nilai-nilai ksatria.

Bagian yang paling saya ingat adalah ketika Pandawa dan Kurawa bermain judi. Ah, saya yakin sebagian besar dari mereka yang pernah membaca kisah ini pasti menyukai juga babak yang mendebarkan ini. Pada bagian ini diceritakan bahwa tokoh Sakuni/ Sengkuni, penasihat keluarga Kurawa, bermain curang dalam permainan dadu yang menyebabkan kekalahan keluarga Pandawa. Yudistira dan saudara-saudaranya telah mempertaruhkan seluruh harta benda mereka, termasuk tanah dan kerajaan yang mereka punya. Akhirnya mereka mempertaruhkan Drupadi, istri mereka sendiri (konon diceritakan Drupadi menikahi kelima saudara Pandawa), dan mereka kalah lagi. Drupadi pun harus menerima hinaan dan pelecehan dari Kurawa. Duryodhana bahkan memangkunya dan berusaha menelanjanginya dengan cara melepaskan kain sari yang dikenakan Drupadi. Saat kain sari itu ditarik, Drupadi yang putus asa terus-menerus berdoa dan menyebut nama Dewa Krishna. Krishna mendengarnya. Lalu keajaiban terjadi. Kain di tubuh Drupadi tak habis-habis. Sampai-sampai Duryodhana kelelahan dan menghentikan usaha biadabnya itu. Drupadi yang terluka harga dirinya bersumpah akan terus menggerai rambutnya hingga ia berhasil keramas menggunakan darah Duryodhana. Kelak diceritakan bahwa Bima berhasil mematahkan paha Duryodhana yang pernah digunakannya untuk memangku Drupadi kemudian membunuhnya hingga Drupadi bisa menggunakan darahnya untuk mencuci rambutnya, memenuhi sumpahnya.

Kisah yang cukup mengerikan dan memilukan. Padahal kedua keluarga ini berasal dari wangsa dan moyang yang sama. Namun, keserakahan dan kesombongan menjadikan mereka berperang dan membunuh satu sama lain. Kisah ini menitipkan banyak pesan moral, di antaranya adalah tidak ada yang baik dari peperangan. Peperangan hanya akan menghadirkan kehilangan, menjatuhkan kesedihan, menanamkan penderitaan. Selain itu, sumpah dan janji bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Sekali ia terucap, tak ada pilihan lain yang tersedia selain memenuhinya. Luar biasa bukan?

Oleh karena itu, tidak salah bila saya sebutkan buku ini sebagai salah satu buku yang mengubah hidup saya. Betapa tidak. Berkat buku ini, saya bisa lepas dari kecanduan majalah Bobo. Hahahaha. Pesan-pesan moral di dalamnya juga masih tertanam di pikiran saya hingga hari ini. Ialah buku tebal dan serius pertama yang saya baca. Setelah mengulang-ulang membaca buku ini hingga tiba waktunya untuk dikembalikan, saya mulai mencari buku-buku tebal dan menarik lainnya untuk memuaskan keinginan membaca saya. Saya jadi terbiasa menghadapi deretan huruf-huruf kecil nan rapat dan penuh.

Hingga saat ini saya masih mencari cetakan ulang buku ini. Minggu lalu saat berjalan-jalan ke sebuah toko buku, saya menemukan cetakan barunya. Ingin beli tetapi mahal. Bulan depan sajalah. Hahaha.

20131112-230912.jpg

Ini sampul lamanya. Sampul yang sama dengan buku yang dipinjamkan paman kepada saya.

20131112-231124.jpg

Ini sampul barunya. Saya dengan senang hati menerima kiriman buku ini dari kawan-kawan. Hehehe.

12 November 2013
Ditulis untuk #5BukuDalamHidupku Hari ke-1.