Cita-cita

Cita-citaku tak lebih tinggi dari pohon, hanya hidup bahagia berteman senyummu di hari senja.
Juga tak pernah lebih teduh dari rimbun dedaunannya, sebab dadaku kadang didih diseduh cemburu.

Cita-citaku hanya sejauh batang pohon yang merelakan dirinya jadi lembaran kertas tempatku menuliskanmu tiap kali diserang rindu.
Cita-citaku seperti pohon: Untuk diam-diam tak berpindah dan tak pernah lupa mengingatmu.

Ditulis pada November 2014, ditemukan kembali bulan Mei 2017.

hidup kembali

aku merasakan sebagian dari diriku hidup kembali
pada pagi hari itu
di depan wajahmu dan di genggam tanganmu

aku merasakan jantung berdetak kembali
pulang dari kedalaman kesunyian di gelap rongga dada
darah perlahan terpompa
ke mataku, ke tanganku, ke pipiku

dan aku tersenyum
mudah tertawa dan ingin tidur lekas dan bangun lebih cepat
aku ingin segera melihatmu bicara
aku ingin memastikan apa kau nyata

aku merasakan sebagian diriku terjaga lagi
untuk mengingat-ingat rupa lenganmu, suara langkah-langkahmu, cara matamu menemukanku di tengah lautan manusia

aku seperti terlahir kembali
pada pagi hari itu
bersama matahari dan riuh-rendah pengunjung bandara
sambil terus bertanya kenapa bisa

jakarta, maret 2017

silver hair

you silver hair
i can help you counting them
reminiscing time you’ve gone through,
all the sweets and bitters, years and tears

your black and silver hair
a harmonious crown of a king
an old soul’s wisdom
the heart beats igniting sunbeams after a long winter

they’re dancing with the wind,
your silver hair on a Sunday morning,
not hiding, not hidden
painting you a humble look, effortlessly,
amid those golds and glitters

i wonder how much the time loves you
since your silver hair is the best thing age can do
you grow older but livelier
kinder and happier
fulfilled and content

your silver hair
i can’t help myself from thinking
that growing old is a gift
knowing you make it matters

January 2017

Antara Slipi dan Fatmawati

:nn

Di ruas Jalan Sudirman
Di pundak jalan melayang
Sepasang Slipi dan Fatmawati bergandengan.

Itu rumah kita, kataku
Dan kau meledak dalam tawa,
bunga api yang sama yang meletup dalam dada ketika kau menyelipkan jemarimu di antara jemariku, atau ketika menemukanmu tersenyum menanti di halaman kantor selepas jam kerja.

Tapi itu pula penanda kita akan segera berpisah jalan.
Aku harus berbelok ke kiri, kau lurus ke Fatmawati.

Kau memandangku — aku teringat mata Ibu yang tabah dan penuh pemahaman — lalu memilihkan jalan memutar untuk mengantarku pulang.

Aku masih menyimpan jernih matamu, walau selebihnya telah menguap seperti mimpi bertemu pagi.
Di hari-hari ini, kota telah jadi makam teramat luas tempat kenangan ditanam, luka dirawat, dan ziarah dijalankan di jalan-jalan utama, kadang tanpa sengaja, seperti setiap kali aku melintas di bawah Slipi dan Fatmawati.

Jakarta, Oktober 2016

Setelah

:nn

ingin sekali kukatakan padamu bahwa hitam pun warna
sehingga kau tak perlu merasa bersalah telah pernah tiba
sebagai mendung
sebagai kelabu
sebagai selaput tipis embun di sepasang mataku

kita telah bersepakat bahwa setiap awal berjodoh akhir
hanya, ketika ia tiba, kita ternyata tak pulih bersama
dan itu biasa, sayang

setelah sekian lama, ingin sekali kukatakan padaku bahwa menyerah pun butuh keberanian
sehingga aku tak perlu merasa bersalah telah menyerahkanmu
begitu saja
kembali pada dirimu

jakarta, oktober 2016

Inti

Engkau adalah inti dari kecemasan-kecemasan yang menghalangiku dari tidur.

Mengapa aku harus cemas?
Sebab engkau kini punya andil menentukan apakah aku harus sedih, senang, takut, sakit, pulih.
Dan lakuku mendadak beku, tak sanggup mencegahmu ambil kendali.

Tahukah kau bahwa inti dari setiap pertanyaan adalah sesungguhnya dirimu?
Namun aku begitu cemas untuk mengakui kau mulai jadi isi segala puisi.

September 2016

The Language

Love is a language I can’t speak
I mumble, struggling to find the right words to express myself
I stumble over words, trying to define what these beating heart, rushing blood are
I’m confused of what bravery means, of how wary pronounced
or what I should call this feeling when nights come and you sleep under my eyelids.

Love is a language I can’t comprehend
Is it the language of your sights, of your acts, of your smiles?
Is it what spoken by feelings, by yearnings, by those that falling?

Love is a language I don’t master
I probably misunderstood your sayings
I possibly mixed up things, like yelling I don’t want you when I actually needed you.

We(s)t Jakarta
August 2016