All I see is you

 

“I dreamed of you.”

“You’re kidding. I’m here all night long.”

“I know. I love you so much, I even have to have you during both my conscious and unconscious time.”

“As if having me here with you is not enough.”

“As if having you here with me is not enough.”

I held her hand and there were five seconds of silence before I asked if she wanted a glass of water.

***

She loved the way I smile.

“It’s like a happy kiddo smiling,” she said if I asked for a reason.

“There’s no way this beard gives me a child look.”

She laughed.

No.

She let stars shone from her eyes, unleashed the sun to rise from her lips and burst colors to her cheeks. She invited angels to sing.

“Shall we dance?”

She gave me that frowning-in-confusion look.

“Shall we dance?” I repeated.

“Ngg… Why?”

“Because it’s a good weather to dance.”

She laughed again. But then she gave me her hand. I gently embraced her beautiful waist. Our feet slowly walked on green grass. Trees hugged us with its shady shadows.

We were dancing in silence for the first two minutes before I started singing Twinkle Twinkle Little Stars. I loved hearing her laugh thereafter. She loved laughing.

***

“You look so happy,” I told her in a decent afternoon at a quiet beach.

“You make me happy.”

“Do I?”

She nodded. Sunset’s light spectrums colored her pale face. All this time, all I care about was drawing smiles on the face.

She laid her head on my shoulder. I heard her catching breath. I held her hand tight.

“Let me see your face,” she said.

She always got what she wanted.

“I’m gonna miss you so much. I guess,” she added.

“You have to.”

She chuckled. I smiled.

“That smile is a little kiddo’s smile.”

“Well, Darling, how could this beard..,” She slowly closed her eyes. Her smile was still there. Like a twilight.

“Well…”

I was catching my breath.

“Well, Darling…”

I was pulling myself altogether.

“How could this beard…”

I was shaking.

“…gives a child look?”

I eventually managed to finish the sentence.

“O, my Darling….”

A massive tide rushed in my chest, streamed down my veins, stormed into my throat. I couldn’t breathe. The salt water fell down through my eyes. I was drowning. I was not even trying to swim. I was drowning in loss and sadness.

Jakarta

March – June 2015

PS. This writing was written from three words — dream, beard, tide — given by a friend.

Sabtu Tidak Biasa

Mai terbangun pukul lima dan tidak dapat kembali tidur pada Sabtu pagi yang tak biasa sebab kaujanjikan sebuah pertemuan di suatu waktu di hari itu. Ia akan mematikan alarm dan jatuh tertidur hingga paling tidak pukul delapan pada sabtu-sabtu yang biasa. Janjimu telah mengurangkan waktu tidurnya dan menambahkan beban kerja pada jantungnya.

Ia berbaring saja di ranjang sambil mengingat-ingat urutan kegiatan yang ia rencanakan sejak semalam demi dapat menemuimu tepat waktu.

Pukul tujuh mencuci baju. Pukul tujuh tiga puluh menyapu dan mengepel lantai. Pukul delapan berbelanja makanan kesukaanmu. Pukul sembilan mandi dan bersiap-siap agar pukul sepuluh siap bertemu denganmu. Begitulah garis waktu dalam kepalanya.

Ia telah gugup sejak malam sebelumnya ketika kau begitu mendadak menyegerakan janji temu yang seharusnya baru malam minggu dan mengubah tempat temu jadi di tempatnya. Mai seketika memandang berkeliling. Ia telah membersihkan lantai pada Kamis malam namun masih merasa tak cukup bersih untuk menyambutmu. Ia menengok mangkuk makanannya dan hanya menemukan kacang asin dan biskuit yang masuk angin. Ia memandang galon air minum dan sadar hanya ada satu gelas di sampingnya. Ia cemas, mengingat-ingat pukul berapa minimarket di depan gang biasanya buka.

Pukul delapan pagi setelah lantainya bersih dan kesat, ia bergegas menuju minimarket, yakin sepagi itu pintu toko telah terbuka untuk bisnis. Ia beruntung. Mai lalu mengisi keranjang belanjanya dengan pelembab wajah yang kebetulan habis, biskuit vanila, sereal gandum rasa cokelat kesukaanmu, termasuk sebotol air mineral sebab gelasnya hanya satu.

Mai kembali dan menata rapi belanjaannya, meletakkan botol air mineral di samping mangkuk tempat sereal cokelatmu duduk dengan manis, kemudian pergi mandi pukul sembilan, menggosok tubuh dan mengeramasi rambut hingga wangi. Ia memilih pakaian terbaik dari lemarinya, mengulaskan pelembab wajah dan bibir, menepuk-nepukkan bedak di pipi dan dahi lalu mewarnai bibir yang telah lembut dengan sedikit gincu. Pukul sepuluh kurang sedikit ia menyemprotkan sedikit parfum di belakang telinga. Kini ia siap kaukunjungi.

Namun, kau belum tiba pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ah, bukankah ia berjanji datang pukul sepuluhan, tak tepat sepuluh?, begitu batinnya. Ia mengambil buku yang belum tuntas dibaca. Sayangnya, sia-sia mencoba membaca ketika pikiran sedang berkeliaran entah ke mana. Mungkin ke tempat di mana kau kira-kira sedang berada.

Kau tak juga mengetuk pintu ketika waktu menjelang pukul sebelas. Mungkin ia terjebak di tengah jalanan yang padat, batinnya separuh menghibur diri. Mai tak ingin mengganggumu dengan mengirimkan pesan menanyakan kau telah tiba di bagian mana perjalanan sebab tak aman menyetir sambil memainkan telepon genggam.

Ingatkah kau ketika akhirnya mengirimkan pesan ketika waktu telah berjalan di sekitar sebelas lebih tiga puluh?

I suddenly become too busy and can’t come to your place. Sorry.

Mai, perempuan yang pikirannya telah riuh bersiap sejak malam sebelumnya, kerongkongannya bergerak perlahan. Sepasang telapak kakinya berubah dingin, jantungnya seolah membesar menyesaki rongga dada, berdebar menyiksa ruang dada, kepalanya pening dijatuhi harapan yang berderak pecah jadi kecewa. Anehnya, ia lalu hanya tertawa. Mai tahu telah lama ia tak mampu menangis. Di Sabtu tak biasa pukul sebelas lewat empat puluh lima itu ia akhirnya tahu juga bahwa marah pun kini ia tak bisa.

Dengan tangan yang bergetar hebat ia mengetikkan balasan untuk pesanmu.

“Tak apa.”

***

Jakarta, Maret 2015

Leaving

The river flows to the west. The fall wind falls between hair and leaves, leaves loneliness to the molt branches. The grass sing softly, rub people’s feet so warmly. Two suitcases stand in quiet, separated by 1.5 meters long park bench. We have been sitting here for couple of hours, exchanging hellos and polite chit chat, then watching the river, falling wind, and left branches.

My hand is slowly grabbed. The spaces between its fingers are filled with his. I am acting as calm as the flowing river. My mind is jumping like a rolling sea.

“Take a deep breath,” he talks like he has the mind reading ability. I cannot. His white gold ringed finger takes all the breath in me away.

“Do you really want this?”

He stares at me in a long silent moment of truth. When he finally speaks, the yes is not the only thing I get.

Bad liar. I can see pain in your eyes.

*

The river flows to the west. The wind of fall brings leaves to places far away, leaves lonely molt branches, and a man with his suitcase.

***

December 2014

One Fine Afternoon

“I’m glad you’re still here with me.”

That beautiful face smiled to me. Her eyes captured mine, as beautiful as the first time they did it, and I never tried to escape ever since.

“I am the one who’s lucky to be here with you,” she replied. I smiled back to her. Our journeys crafted beautifully on her face, all happy times, all hardships. I could see a stream under her left eye when I unintentionally yelled to her in frustration after the company fired me. The economy was so bad back then. What she did after that was just hugging me in silence. We ended up crying the night together but knew everything would be just fine since we had each other. I also saw
happiness streamed down her right eye when she saw our first born. He
was a lovely baby boy, he left us speechless in awe. And her lips, I remembered when we once talked about the first time I kissed her. That was awkward – the kiss – to be honest. She was so wonderful that night and I was so damn nervous. When I was trying to explain what I felt at the time
(and defense my dignity), she kissed me gently and said she loves my awkwardness. She didn’t need any further explanation.

“I always miss you.”
“Even if I’m always here with you?” she put her hand on my chest.
“Yes.”
She laughed. I could never forget that laugh, a melodious laugh, the most beautiful song I’ve ever heard after her heartbeats.
“You’re funny, J.”
“Nope. I’m just in love.”
She laughed again. And I thanked God for blessing me with this beauty. It looked like the time was not succeeding in its attempts to touch her. It was many years ago, I recalled.

“You look as beautiful as the last night I saw you, Darling.”
“Do I?”
“Yep. Is it okay for this beautiful lady to walk beside this old wrinkly man?”
“Hey.. It’s just the skin. We will leave it behind, anyway. I always love you, Gentleman. Nothing’s changed.”

I looked at her starry eyes. Oh, there would never be enough words in this world to describe how much I love her.

“Is it hurt, Darling?”

She looked back at me and smiled. Her face implied understanding, glowed with peacefulness. She touched my head softly, her fingers played with my grey hair.

“No, J. In fact, it’s relieving.”
I nodded.
“Shall we go now, Baby? It’s the time.”

I sighed. The fact that I will be with her for the rest of my time defeated all fears. I could face anything as long as I am with her.
“And where are we heading to?”
“Into the light, Sweetheart.” She held my hand. Her hand was so soft
and warm. I put my fingers between hers. It fitted fine like the old
time. I kissed the back of her hand. She gave a quick kiss on my
cheek. Our laughs burst.

“So, how’s your life there? Oh, can I call it a life?”

The heart monitor machine beeped in desperation as we approached the
light in completeness.

October 2014

Berlari Sampai Kembali

Aku membasuh tubuh di bawah pancuran air hangat. Salah satu kekonyolan hidup di Jakarta adalah udara di luar begitu panas namun aku selalu mandi air hangat sebab pendingin udara di dalam kamar kuatur pada suhu terendah. Lalu manusia masih meributkan asap knalpot dan pembakaran hutan sebagai penyebab pemanasan global? Mereka lupa menengok kamar mereka sendiri. Aku sendiri tidak peduli pada pemanasan global. Bumi ini, begitu juga setiap hal dalam semesta ini, memang akan menemukan akhirnya. Suatu hari nanti. Bukankah seperti itu aturannya?

Kugosokkan shampoo di rambutku sambil membiarkan air tetap mengguyur kepala hingga kaki. Berada di bawah pancuran selalu membuatku merasa tenang, seperti segala resah dibawa hanyut air ke selokan, seperti hujan. Ah, hari itu juga hujan. Aku tersentak. Kuputar keran pancuran agar air mengalir lebih deras. Aku ingin menghanyutkan ingatan itu, yang hari ini entah kenapa muncul terus-menerus. Ingatan akan hujan yang turun ketika itu, yang dulu membuat dadaku sesak, pun hari ini. Sayangnya sudah lama aku lupa bagaimana cara menangis.

Puas mengguyur diri dengan air, kututup keran perlahan. Sisa-sisa air berjatuhan seperti air mata. Ujung-ujung rambutku meneteskan air, bergulir pelan di pipi. Segala yang artifisial memang tak pernah bisa memuaskan, pun tangisan. Kuhela napas dengan keras lalu segera mengambil handuk dan mengeringkan tubuh. Dengan handuk bergelung di pinggang, aku keluar kamar mandi. Kudapati perempuan itu masih duduk di tepi tempat tidur. Kali ini pandangannya teralihkan dari jendela. Ia tersenyum padaku.

“Hmm.. Ternyata aroma musk itu dari sabun mandimu.”

Aku ikut duduk di tepi ranjang, mencoba melihat apa yang sedari tadi ia perhatikan. “Ya. Pemberian Lea. Apa yang kamu lihat?”

Walaupun tak langsung menatapnya, aku tahu sikapnya berubah karena mendengar nama Lea. Ia bergeser sedikit, mendekatiku.

“Lihat lampu-lampu di gedung tinggi,” jawabnya. Ia diam sejenak. Aku menantikan kelanjutan kalimatnya dengan sabar.

“Reza, Lea tidak akan cemburu?”

Aku spontan tertawa mendengar pertanyaannya. Itu konyol. Ia seharusnya menanyakan hal itu kepada dirinya sendiri. Mereka sama-sama perempuan. Aku yakin jawabannya akan mirip-mirip dengan jawaban Lea. Namun, aku masih cukup sopan untuk tidak mengutarakan hal itu padanya.

“Dia tidak akan cemburu bila tidak tahu,” jawabku singkat. Kulihat sepasang mata cantiknya melahap habis mataku. Perempuan ini tergila-gila pada lelaki yang salah. Aku merasa kasihan. Tetapi tidak terlalu kasihan juga. Setelah beberapa kali bertemu dengan perempuan seperti ini, rasa kasihan itu akan sirna perlahan. Percayalah. Mereka juga gemar bermain-main dan mempermainkan.

“Yah, aku hanya merasa bersalah.”
“Banyak?”
“Tidak terlalu banyak.”
“Ya sudah. Kita nikmati saja kalau begitu. Toh, besok kamu sudah tidak ada di sini.”

Ia menatapku dalam-dalam. Aku sudah lama tidak mengartikan tatapan seseorang. Terlebih lagi malam ini. Aku tidak mau repot-repot menebak isi kepala perempuan yang baru pertama kali kutemui.

“Ya, kamu benar. Dua bulan lagi aku baru kembali dari penelitian di Kupang. Tapi setelah ini kita tetap saling kontak, kan?” tanyanya. Perempuan yang kukencani selalu berharap bisa mempertahankan kontak mereka denganku. Sementara aku hanya ingin melanjutkan hubungan dengan sedikit di antaranya. Sebagai kawan.

“Tentu saja. Kamu orang yang menyenangkan, Keina. Kita bisa berkawan lama.”

Keina tersenyum. Aku tersentak. Sejak awal melihat senyum dalam foto yang ia kirimkan lewat Blackberry Messenger, aku sudah merasakan hal yang aneh. Senyumnya mengingatkanku pada sesuatu dari masa lalu. Entah apa itu. Dan malam ini ketika kami akhirnya bertemu (Keina adalah kenalan Lea yang tinggal dan bekerja sebagai peneliti di Belanda, kali ini pulang ke Jakarta sebelum berangkat meneliti ke Kupang), senyum itu memenuhi kepalaku. Aku merasa ada yang menggigit-gigit jantungku. Perih. Perasaan macam apa ini? Asing dan menyelinap begitu saja.

“Aku suka senyummu.”

Keina tersentak lalu tersipu. “Terima kasih,” katanya. Ia tersenyum lagi. Jantungku berdebar lagi. Kencang dan kuat. Lalu, sesuatu seperti memenuhi dadaku. Pada saat yang sama aku merasa sangat kehilangan.

“Kamu jangan sampai jatuh cinta padaku.”

“Tidak. Tentu saja tidak. Kamu juga jangan sampai jatuh cinta padaku,” balasku. Ia tertawa lepas. Mau tak mau aku ikut tertawa. Ia perempuan yang menyenangkan, sayangnya. Aku melingkarkan lenganku ke bahunya, menyandarkan kepalanya di dadaku, meminta maaf dalam diam padanya. Ia balas memelukku. Tentu saja untuk alasan yang berbeda denganku.

“Mau kuantar pulang sekarang?” tanyaku. Ia melirik sebentar ke arah jam dinding di atas televisi, pukul dua dini hari, lalu menghela napas. “Boleh.”
“Ya sudah. Ganti baju sana.”

Ia mengangguk kemudian memunguti pakaiannya di ujung ranjang dan menuju kamar mandi. Tak lama terdengar air pancuran mengucur. Seperti gerimis. Seketika aku tahu apa yang mengganggu dadaku.

Rindu.

***

“Aku akan resign, Lea. Aku ingin pulang ke Surabaya.”

Ucapanku mengejutkannya. Ia baru saja duduk dan bahkan belum sempat melihat buku menu. Matanya membelalak. Bibirnya membentuk bulatan kecil yang cantik. Di hadapan cangkir kopiku yang setengah kosong, bibir merah jambu itu seperti sepotong gulali rasa stroberi. Legit menggoda. Belum lagi bila kau melihat tubuh langsing dan pinggangnya yang begitu pas di lenganku. Bibir dan pinggang itu adalah kesukaanku, selain matanya yang bulat cokelat dan rambut hitam sebahu. Di mataku Namlea sungguh seorang perempuan yang memesona.

“A.. Aku ga ngerti, Za. Kenapa?” tanyanya terbata. Sangat jelas bahwa ucapanku tadi menghentak jantungnya dengan keras. Ada sedikit penyesalan menitik di dada. Seharusnya kubiarkan ia memesan minum dulu atau sekadar berbasa-basi menanyakan kabar. Ah, hubungan kekasih macam apa yang menurutkan basa-basi dalam perbincangannya?

“Entahlah, Lea. Aku lelah. Jakarta sepertinya mengisap kewarasanku.”

“Aku pikir Jakarta adalah impianmu.”

“Tadinya. Tapi belakangan ini aku merasa seperti tersesat. Seperti mencari sesuatu di tempat yang salah.”

“Memangnya apa yang kamu cari, Za?”

Aku mengedikkan bahu, “Entahlah.”

Lea menghela napas. Selama ini ia selalu sabar menghadapiku. Aku bukanlah seorang lelaki yang baik, jauh dari standar ukuran lelaki teladan. Di kepalaku hanya ada kerja dan hal-hal lain di luar kerja yang bisa membuatku bahagia.

“Mungkin kamu hanya butuh piknik. Yuk, kita jalan-jalan ke Bali.”

Aku menggeleng. “Aku rasa masalahnya lebih besar daripada sekadar butuh piknik. Aku merasa… merasa… ada di tempat yang salah. Kau tahu, perasaan seolah sedang tersesat.”

Lea meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Katakan apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik.”

Aku menggeleng. “Tidak. Sayangnya tidak ada, Lea. Aku ingin pergi dari Jakarta ini. Aku lelah. Itu saja.”

Lea terlihat terpukul. Tetapi ia begitu pandai mengatur perasaannya. Aku sering heran pada wanita. Mereka sangat pandai berpura-pura. Mereka lihai tertawa sekalipun hujan badai berderu dalam kepala. Mereka bisa pergi berpesta beberapa jam setelah kekasihnya memutuskan cinta, berdansa seolah tak terjadi apa-apa. Seringkali aku berpikir bahwa sesungguhnya wanitalah yang lebih tak berperasaan daripada kami, kaum lelaki. Dan Lea adalah salah satu yang paling lihai menyembunyikan warna hatinya. Seperti hari ini. Ia perlahan menyapukan warna biru pada hatinya yang kelabu.

“Ya sudah. Pulanglah ke Surabaya. Jakarta – Surabaya tidak terlalu jauh. Kita masih bisa bertelepon, kan?”

“Tidak, Lea. Aku ingin hubungan kita juga berakhir.”

Dari perubahan ekspresi di wajahnya aku bisa tahu saat ini ia melihatku sebagai Zeus yang tengah melemparkan petir ke langit pusat perbelanjaan ini. Petir itu menyambar dan menjadikannya abu. Kulihat ia sulit bernapas. Aku jadi tak tega.

“Ma… maksud kamu… ki… kita putus?”

Aku mengangguk. Ia mendengus sambil tertawa kecil. Pahit.

“A… Aku ga ngerti, Za. Kenapa? Kenapa kita harus putus?”

“Karena ternyata aku tidak mencintaimu.” Petir sekali lagi menyambar Lea. Wajahnya seketika pias. Ia seperti akan jatuh pingsan. Aku mulai menyesali keputusanku berbicara dengan frontal pada Lea. Tapi kupikir lebih baik bila kukatakan semuanya secara langsung daripada menyiksanya perlahan sembari memberi sedikit harapan yang sebenarnya tak lagi kumiliki.

Lea menutup wajah dengan kedua tangannya. Kulihat seluruh tubuhnya gemetar. Aku tahu ia sedang mati-matian mengendalikan histeria. “Aku pikir tidak ada masalah di antara kita,” suaranya tipis dan bergetar, “semuanya baik-baik saja, Reza.”

“Tidak, Lea. Kamu salah. Kita tidak baik-baik saja. Aku laki-laki brengsek, Lea. Aku tidur dengan banyak perempuan tanpa sepengetahuanmu.”

Tubuh Lea menegak. Ada kesedihan mendalam yang tiba-tiba muncul di matanya saat ia menatapku. “Aku tahu itu, Reza.”

Kini giliranku yang tersambar petir. Bagaimana Lea bisa tahu? Dan yang lebih penting, bagaimana ia tahu tetapi tetap mengunci mulut dan perasaannya rapat-rapat dariku?

“Maksud kamu?”

“Aku tahu sejak awal Reza. Semuanya. Semua perempuan yang kamu kencani dan tiduri. Mungkin lain kali kamu harus mencari perempuan yang tidak bersinggungan dengan lingkaran pertemanan kita.”

Ah, ia benar. Aku bodoh. Tidak peduli, tepatnya. “Tapi kenapa kamu diam saja? Empat tahun, Lea, empat tahun. Dan kamu tidak marah padaku? Kamu tidak cemburu?”

“Tentu saja aku cemburu. Tentu saja aku marah.”

“Lalu, kenapa kamu diam saja?”

“Karena aku mencintaimu, Reza. Akan kulakukan apa saja demi melihatmu bahagia.” Perempuan manis berbibir merah jambu di hadapanku mulai terisak. Bahunya bergetar minta kutenangkan. Bibirnya gemetar minta kuhangatkan. Tetapi matanya yang penuh kaca tetap menatap mataku dengan mantap. Aku terpana. Entah terbuat dari apa hati seorang Namlea.

“Kamu bisa pergi ke mana saja, tinggal di mana saja, bercinta dengan siapa saja, tapi, tolong, jangan sisihkan aku dari sampingmu. Apa kamu ga tahu seberapa besar aku mencintaimu? Aku ga bisa membayangkan harus melanjutkan hidup tanpa kamu, Za. Ga bisa.”

“Lea, maafkan aku…”

“Tidak, Reza. Kamu ga salah. Aku yang salah. Aku terlalu sibuk dengan urusanku dan meninggalkanmu sendirian…”

“Tidak, Lea. Ini salahku. Aku…”

“Tidak, Za. Salahku. Mulai sekarang aku berjanji akan lebih memperhatikanmu. Aku akan membebaskanmu. Lakukanlah apa yang kamu suka. Pergilah ke mana pun kamu mau. Aku tidak a…”

“Lea!” bentakku sambil mengguncangkan bahunya, “Lihat aku! Berhentilah berkhayal bahwa ini salahmu. Ini salahku, Lea. Salahku! Aku yang brengsek, bajingan! Aku tidak mencintaimu. Aku bahkan mengkhianatimu. Aku tidak layak untuk kamu.”

Lea terbelalak melihat reaksiku. Air matanya perlahan jatuh, kekuatannya runtuh sedikit demi sedikit. “Tapi, Reza, kamu bilang kamu mencintaiku…”

“Lea, maafkan aku. Ternyata aku salah.”

“Ini semua pasti hanya bagian dari rencanamu agar aku merelakan kaupulang ke Surabaya. Aku rela, Reza. Sungguh. Aku tidak akan melarangmu.”

“Lea, coba dengarkan aku. Lelaki di hadapanmu ini bukanlah lelaki yang baik untukmu. Dia hanya akan menyakitimu.”

“Tidak, Za…” Lea setengah merengek padaku.

“Coba kamu pikirkan, kalau aku benar-benar mencintaimu, menurutmu kenapa aku tidur dengan wanita-wanita itu? Kenapa aku berulang-ulang mengkhianatimu? Ini memang pahit, Lea, tapi kenyataannya perasaan kita memang tidak sebanding.”

Lea menggeleng keras, seperti berusaha mengusir kalimat-kalimatku dari telinganya. Aku sungguh kasihan padanya. Hati yang ia titipkan padaku hanya kujadikan mainan yang kini pecah berhamburan di lantai.

“Lea, maafkan aku,” ucapku selembut mungkin, “Maafkan aku karena tidak mencintaimu sebesar kamu mencintai aku. Mungkin saat ini bukan cinta yang aku cari. Kamu perempuan yang luar biasa, seharusnya mendapatkan kekasih yang juga luar biasa. Aku tidak sehebat itu. Aku tidak layak kamu cintai sebesar itu.”

Tangis Lea pecah. Kudekatkan kepalanya ke dadaku. Ia membenamkan tangis di sana, menyirami luka dan rasa bersalahku yang subur berbiak. Mataku ikut berkaca-kaca mendengar ratapannya. Anehnya, aku merasakan kelegaan berbunga dari sana.

***

Pagi masih baru dan muda ketika taksi yang kutumpangi berhenti di sebuah gerbang bertembok putih. Dari jendela aku melihatnya dengan sedikit gentar. Jantungku berdebar kencang. Kakiku tiba-tiba lemas. Kubayar biaya taksiku dan menambahkan dua puluh ribu Rupiah untuk supirnya. Bapak tua itu mengucapkan banyak terima kasih. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kuraih ranselku dan perlahan keluar dari taksi. Di depan gerbang itu aku terpaku. Tenggorokanku kering, perutku mual bergejolak. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku tidak membawa hantaran apa-apa. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Di ujung jalan sebelah kiri sebuah kios bunga telah buka. Aku bergegas ke sana dan membeli seikat krisan putih. Bunga itu selalu jadi favoritnya. Ia tak pernah suka mawar. Mawar terlalu populer dan mewah, katanya, krisan putih sebaliknya. Kembang itu begitu sederhana dan rendah hati namun tak kalah indah dari mawar. Ah, ia bahkan bisa membaca hati sekuntum bunga yang tak pernah kutahu di mana letaknya.

Perlahan kudorong pintu besi itu. Tak terkunci. Aku bersyukur dalam hati. Tak biasanya pintu gerbang telah dibuka sepagi ini. Ah, mungkin aku saja yang telah lama tak berkunjung kemari. Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Terakhir kali kakiku menjejak jalan ini adalah enam tahun lalu, tahun ketika ia pergi dariku. Ketika itu kususuri jalan ini dengan amarah bergolak. Aku merasa dicurangi, aku merasa tak dicintai, aku merasa ditinggalkan begitu saja tanpa peringatan. Aku marah dan setelahnya tak pernah lagi berkunjung ke tempat ini. Aku memutuskan merantau ke Jakarta, ikut pergi seperti dirinya, dan setelahnya menenggelamkan diriku dalam-dalam di dalam kerja dan senang-senang. Kini aku datang dengan perasaan yang baru dan hati yang lama. Dadaku berguncang. Ada gugup, bahagia, rindu, dan sedih berlompatan di sana. Semakin jauh berlari ternyata tak pernah mampu menjauhkan aku darinya. Jarak memang persoalan perasaan, bukan angka dan satuan-satuan.

Aku berhenti di hadapannya, memandanginya penuh rindu. Jantungku membuncah, air mataku berderai. Aku merasa tubuhku merekah dan segala beban dan kepalsuan lepas dan lesap. Aku pulang.

“Aku pulang, Jingga. Aku pulang.”

Seikat krisan putih yang kubeli tadi kuletakkan di pangkuannya. Aku berusaha menyentuh wajahnya. Dingin marmer di telapakku masih sama seperti enam tahun yang lalu. Ketika itu hujan turun mengiringi kepergian kekasihku.

Kami saling berpandangan, mataku dan nisannya, dalam diam paling nyaman yang pernah kurasakan.

“Aku rindu padamu, Jingga. Maukah kau memaafkanku?”

Tiba-tiba hujan turun. Deras.

Juli 2014
Ditulis untuk menjawab tantangan menulis #WhatIfLove dari @aMrazing

[Menimpali Aan Mansyur] Merenungi Tengah Pekan

Aku benci berada di antara orang-orang yang patah. Mereka masih memiliki hati namun mengaku tak percaya nurani. Mereka tertawa sambil memupuk benih air mata. Siapa yang hendak mereka tipu? Wajah-wajah di hadapannya telah lebih dulu mengenal pastu.

Aku senang berada di antara orang-orang yang bahagia, yang memandang luka sebagai alasan untuk tertawa. Mereka banyak tersenyum, erat memeluk, dan jauh lebih berbahaya. Mereka tahu milik mereka telah dicuri, namun masih ingin memberi apa yang kaucari.

Mei 2014

Sahutan untuk puisi Aan Mansyur yang berjudul Menikmati Akhir Pekan.

20140522-005618-3378235.jpg

Raya

Dadaku sakit. Benda kecil seukuran kepalan tangan berdentang-dentang di dalam sana, begitu kerasnya hingga tubuhku gemetar. Tembok tempatku bersandar seolah bergelenyar. Raya mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Matanya berbisa, akan membunuhku dalam sekejap. Namun, sekalipun aku tahu mati adalah risikonya, aku tetap tak dapat memalingkan pandangan dari matanya. Aku mencandu bisa dan kematian di belakang mata itu. Pun bibirnya yang perlahan menenggelamkanku dalam ciuman yang dalam. Dadaku berdebar. Duniaku perlahan jadi gulita. Aku menyelam dalam-dalam di dalam ciuman, menghayati empuk bibirnya serta jemarinya yang menyibak helai rambutku, kemudian menyelipkannya di belakang kupingku. Aku gemetar. Benda kecil sekepalan tangan di dalam dada semakin keras berdentang. Kuremas lengannya sembari mengeratkan ciuman. Kumohon, Jantung, berkhianatlah kali ini. 

***

Raya menyeruput kopinya dengan ribut. Sudah jadi kebiasaannya. Seruput kopi yang ribut menandakan kenikmatan dan penghargaan, katanya suatu ketika. Aku mengangguk saja sebab tak paham apa nikmatnya cairan hitam nan pahit itu. Secangkir tehku akan menemani kopinya sementara aku menemani waktu mengasonya. 

“Kau tak keberatan aku merokok?” 

“Tidak.”

“Terima kasih.”

Ia selipkan sebatang di bibirnya lalu memantik api. Asap putih segera membumbung tinggi. Hisapan pertama selalu ia nikmati dengan takzim, di dunianya sendiri. Setelah hisapan pertama itu dihembuskan, ia cepat-cepat kembali ke dunia ini. Aku tahu rokok tak baik, tetapi pemandangan di depanku sungguhlah yang terbaik.

“Masih banyak pekerjaanmu?” tanyaku yang sebenarnya tak penting. Wajah lelahnya seharusnya sudah bisa mewakili jawaban.

“Cukup banyak. Aku masih harus menyiapkan replik  untuk persidangan tiga hari lagi. Kasus besar. Dan kau pasti sudah tahu apa yang mengikuti kasus besar.”

“Publisitas dan klien yang menuntut.” Kami mengucapkannya bersamaan sambil tertawa. 

“Yah, seperti inilah bila bekerja di firma hukum. Kau perlu membangun reputasi, ia akan jadi media publikasi yang terbaik, lalu klien-klien baru akan berdatangan. Kau tak bisa diam saja sebab hukum di luar sana bergerak demikian cepatnya.”

“Dan klienmu kali ini adalah seorang penuntut?”

“Tentu saja. Tidak ada klien yang tidak menuntut. Apalagi bila legal fee yang ia bayarkan cukup besar.” Raya terkekeh. Manis.

“Hmm.. Berat juga pekerjaanmu.”

Raya menghirup rokoknya sebentar lalu menghembuskan asapnya menjauhiku. “Kamu sendiri, bagaimana pekerjaanmu?”

“Baik. Ada beberapa naskah baru yang sedang kukerjakan.”

“Novel?”

“Ya.”

“Menurutmu mereka akan keluar dengan luka-luka kecil atau babak belur terlebih dahulu di tanganmu?”

“Hahaha. Kau membuatku terdengar seperti seorang gladiator.”

“Kamu memang seorang gladiator, when it comes to editing.”

“Kamu sedang memuji atau mencelaku?”

“Memuji tentu saja. Mana berani aku mencelamu?” 

Aku tergelak. “Terima kasih kalau begitu. Ya, ada salah satu naskah yang menurutku memiliki ide cerita yang sangat menarik. Penulisnya pun sepertinya seorang yang pandai. Hanya saja moodku langsung jungkir balik ketika melihat ia mengetikkan ‘di sana’ dengan menggabungnya.”

Giliran Raya yang tergelak. “Kau memang penderita OCD , Liya, terutama soal tata bahasa dan penulisan.”

“Terima kasih, Ray. Sekali lagi aku terima itu sebagai pujian.” Kami tergelak. Tak peduli pada suasana kafe yang sedang ramai atau orkestra sumbang permainan klakson mobil-mobil yang mengular terjebak kemacetan jam pulang kerja. Waktu berlalu dengan anggun, senja perlahan turun, malam sedang gugup naik ke panggung. Cangkir-cangkir kami telah menyusut isinya.

“Kau pulanglah. Istirahat.”

“Ya. Kau akan kembali ke kantor?” 

Raya melirik jam tangannya dengan malas. “Ya. Aku harus menyelesaikan replik itu malam ini. Tak ada waktu lagi.”

“Baiklah. Selamat bekerja. Terima kasih untuk tehnya. Kau selalu berhasil membuat waktuku jadi menyenangkan.”

“Hmm.. Aku mencium api. Kau sedang merayuku?” 

Aku tercekat. Sial. Mana berani aku? “Satu-satunya api di tempat ini sekarang adalah itu,” aku menunjuk batang rokok di sela jemarinya, “dan, tidak, aku tidak sedang merayumu.”

“Kau yakin?” 

Sialan. Jangan paksa aku untuk berterus terang padamu, aku mengumpat dalam hati. Kurasakan darah panas pelan-pelan naik ke pipi. Aku mulai meragukan diriku sendiri. Mungkin aku memang sedang menyimpan api yang tak kuketahui.

“Tentu saja, Raya. Aku tak sembarangan merayu orang yang baru beberapa minggu kukenal.” Semoga ini terdengar biasa-biasa saja di telinganya. Raya menatapku dalam-dalam. Matanya beracun, kau tahu. Sejenis racun yang akan membuatmu mabuk terlebih dahulu lalu membunuhmu pelan-pelan tanpa kau sadari. 

“Anggun akan pulang besok malam.” 

Baru saja ia menuduhku merayunya, sekarang ia bilang kekasihnya akan pulang? Aku ini sebenarnya sedang apa? Minum teh atau naik wahana roller coaster?

“Oh. Baguslah.”

“Aku ingin mengenalkannya padamu.”

“Menarik. Bagaimana kau akan mengenalkanku? Maksudku, mengingat kita sendiri baru beberapa minggu berkenalan.”

“Hmm.. sebentar. Biar kupikirkan dulu.” Raya berpura-pura sedang berpikir. Matanya melepaskan genggamannya dari mataku. Namun, mataku justru dengan bengal membuntutinya. Mata itu kembali lagi, kali ini dengan lirikan nakal penuh kejahilan.

“Tentu saja aku akan mengenalkanmu sebagai kawanku! Kawan yang begitu menyenangkan diajak bicara. Hahaha. Dengar, Liya. Tak peduli baru berapa lama aku mengenalmu, kau kini sudah jadi temanku.” 

Teman. Tentu saja teman! Memangnya apa  yang kau harapkan, Liya?

Baiklah. Dengan kekuatan pemahaman akan posisiku sebagai teman ditambah tawa hambar yang dipaksakan, kutanggapi pernyataannya dengan sebiasa mungkin.

“Hahaha. Iya. Tentu saja.”

“Ya.”

Ada hening panjang yang canggung membelit aku dan Raya. Mendadak aku jadi peduli betul pada ramai suasana kafe dan ribut klakson mobil-mobil di jalanan.

“Baiklah, Ray. Aku pulang dulu. Selamat bekerja,” kataku akhirnya sembari meraih tas dan cardiganku. Raya mengikuti gerakku dengan mata beracunnya. Aku sungguh tak keberatan menjemput kematian di bawah mata itu. Sayangnya, aku tak boleh berpayung teduh sambil menenggak racun di sana. Pilihan terbaik memang mengikuti saran akal sehatku untuk segera melarikan diri dari kafe sebelum lelaki itu mencium gelagat janggalku.

“Ya. Hati-hati, Li. Akan kutelepon kau malam ini.”

“Sebaiknya malam ini tak usah, Ray. Aku.. Aku agak lelah hari ini,” dustaku padanya. Ia memandangiku dengan tatapan yang tak dapat kupahami maksudnya. Namun, sepertinya ia memahami maksudku karena ia kemudian mengangguk pelan. Aku balas mengangguk lalu segera keluar dari kafe itu, ikut berbaur dengan orkestra sumbang di jalanan.

***

Jantung, berkhianatlah kali ini. Katakan apa yang sesungguhnya kubenamkan dalam pembuluh darahmu. Teriaklah yang keras.

Aku mendengar napas Raya yang memburu. Napasku mengejarnya dengan terburu-buru. Aku mengulum bibirnya yang lembut, ia sesekali menggigitnya. Jantungku menggedor dengan barbar. Sesuatu tiba-tiba melintas dalam kepalaku. Tidak. Ini tidak benar. Perlahan kujauhkan bibirku. Kini ia dan milik Raya berjarak tak lebih dari dua senti. Aku bisa merasakan embusan napasnya di bibirku. Aku mendengar diriku terengah-engah. Dengan keras berusaha kutepis kabut tipis dalam pikiranku. Kabut itu menghalangi pandangan dan penilaianku. 

Aku melihat Raya menggerakkan kepalanya lalu meraih bibirku sekali lagi. Jemarinya bertamasya dari rambut di belakang kupingku menuju tengkukku. Tangannya yang masih bebas merangkul pinggangku dengan erat. Aku mangsa yang tak berkutik di hadapan pemangsa. Dan aku mangsa yang menyongsong kematiannya dengan tangan terbuka. Kubalas ciumannya. Sekali lagi. Dua kali lagi. Tubuhku bisa merasakan detak jantungnya. Pastilah ia juga bisa mendengarkan derap jantungku. Setengah mati aku berharap jantungku mulai bicara tentang pilihannya menjatuhkan diri pada Raya. Pilihan yang ditolak mentah-mentah untuk diucapkan oleh lidah yang bersekongkol dengan otakku. Raya sudah berpasangan dan aku hanyalah satu yang mengganjilkan yang sudah genap. Ah!

“Tidak, Ray.” Kali ini kedua tanganku pun mendorong tubuhnya perlahan. Napasku masih terengah, susah payah menghadapi terjangan serotonin. Ia masih memelukku dan memandangiku dengan syahdu.

“Li, kena..”

“A.. Aku perlu ke kamar mandi sebentar,” potongku. Raya melepaskan belitan lengannya dengan enggan. Terhuyung aku menuju kamar mandi tamu, terlalu jauh untuk menuju kamar mandi di dalam kamarku. Aku terlalu terguncang. Di dalam, kupandangi bayanganku di cermin. Aku terlihat sangat berantakan, secara fisik maupun emosi. Aku mengutuki diriku atas apa yang baru saja terjadi. Aku mengutuki Raya yang datang tiba-tiba ke kontrakanku lalu tanpa permisi menciumku. Aku bahkan belum sempat mengunci pintu (pentingkah hal ini untuk kusebutkan?). Entah apa yang bertamu ke dalam kepalanya. Entah permainan macam apa lagi yang sedang dimainkannya. Aku tak punya tamu, tak punya permainan apapun. Yang di dadaku hanyalah kekaguman yang tumbuh keliru arah. 

Kuputar kenop pintu kamar mandi setelah berhasil mengatur napas dan mengusir kabut tipis dalam pikiran. Raya sedang duduk di sofa, memandangi televisiku yang diam. Aku duduk di sampingnya, meletakkan tanganku di punggung tangannya. Ia menoleh. Aku tersenyum.

“Liya, maaf.”

“Ya.”

“Aku sudah menempatkanmu dalam posisi yang sulit.”

“Tak apa.” Oh, Ray, sebenarnya aku sedang rontok sel demi sel.

“Liya.”

“Hmm?” 

Ia berhenti sejenak, menimbang sesuatu. “Kau.. Kau mencintaiku?” 

Aku terkesiap. Aku tahu Raya adalah lelaki yang sangat berterus-terang. Tetapi, keterus-terangan seperti ini tak pernah kuperkirakan sebelumnya. Ia dengan brilian telah menyudutkanku, menodongkan senapannya ke arahku padahal tak ada yang akan ia dapat dari kematianku. Aku berdehem pelan, membersihkan tenggorokan sekaligus memanfaatkan jarak waktu yang tipis itu untuk cepat-cepat berpikir. Harus kujawab dengan apa, Ray?

“Tentu saja. Kau tak tahu?” 

Kini gilirannya terperanjat. Jantungku bersorak gilang-gemilang. Persekongkolan otak dan lidah tak berhasil membendungnya. 

“Aku telah jatuh hati padamu, Ray. Cinta ternyata tak melulu soal waktu. Segalanya terasa tepat dan dekat seolah telah bertahun-tahun aku mengenalmu. Bodohnya aku. Tapi, sudahlah. Cinta juga tak selalu soal bersatu, bukan?” Aku tersenyum, berusaha meredam kekalutannya dan, yang lebih penting, kesedihanku. Kupeluk ia.

“Sekarang jemputlah Anggun. Tak baik membiarkannya menunggu,” bisikku di telinganya. Lidahku terasa getir ketika mengucapkan nama wanita itu. Mungkin bagian hatiku yang patah telah melubangi kantung empedu di sebelahnya, melepaskan cairan hijau kekuningan itu ke seluruh organ dalamku yang kemudian merembes hingga ke balik lidah.

Raya balas memelukku. “Ya. Terima kasih, Liya.”

Aku memeluknya seerat mungkin, menghapalkan aroma tubuhnya, hangat lengannya. Mungkin tak akan ada lagi saat seperti ini. Setelahnya, kurelakan tubuhnya menjauh. Raya memandangku, menyibak helai poniku dengan ragu, seolah ada yang hendak ia katakan namun akhirnya ia urungkan. Ia bergegas bangkit dari sofa dan kuantarkan hingga ke pintu depan. Ia meraih kenop pintu lalu terdiam. Dengan cepat tubuhnya berbalik ke arahku. Ia mengecup bibirku. Lama. Dalam. Diam. Mataku panas.

“Aku juga mencintaimu, Liya.” Gemuruh halilintar menyambar entah dari mana. Mendung menyergapku.

Lalu kudengar sayup selamat tinggal dan pintu yang ditutup pelan. Kupegangi dadaku, menjaga yang di dalam sana agar tak berhamburan keluar. Kukunci cepat pintu depan. Kukunci rapat pintu di dalam dada. Yang kulihat kemudian hanyalah ubin yang berkabut dengan air mataku terserak di atasnya. Hujan turun membadai. Hanya di mataku.

 

*****

April 2014

 

Catatan di luar cerita:

Replik: jawaban gugatan

OCD: singkatan dari Obsessive Compulsive Disorder, suatu gangguan kecemasan yang menyebabkan penderitanya memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan suatu perilaku secara berulang demi menghilangkan kecemasan tersebut. Beberapa gejala gangguan ini antara lain takut kotor karena takut terkontaminasi kuman, tergila-gila pada kerapian atau ketepatan, dan sebagainya.

 “Kekaguman keliru arah”, diambil dari lirik lagu berjudul Bumerang yang dipopulerkan oleh Tulus.