Buku Catatan

20130823-214254.jpg

Buku catatan model seperti ini biasanya kita sebut dengan nama binder. Binder ini memang hanya semacam map yang kemudian kita isi dengan loose leaf atau kertas yang biasanya dijual terpisah. Saya membeli binder ini karena seorang teman kantor membelinya lebih dahulu. Jadi, ceritanya saya tertarik dengan binder miliknya. Binder tersebut tidak seperti kebanyakan binder yang dijual di toko buku. Sampul binder ini terbuat dari kain dan agak empuk dan tebal. Belum lagi desain gambarnya yang lucu-lucu. Ternyata teman saya itu membeli binder lucu itu di kawan kuliahnya yang menjualnya secara online. Saya pun ditunjukkan model-model dan gambar sampul binder yang tersedia.

Setelah memilih-milih, saya pun menjatuhkan pilihan pada sebuah binder bergambar menara Eiffel itu. Sebenarnya saya sudah memiliki sebuah buku catatan hadiah dari toko kosmetik langganan saya. Tapi, saya merasa buku catatan itu terlalu berat dan tidak praktis dibawa. Jika saya membeli binder yang jumlah kertasnya bisa saya atur, pastilah beban di dalam tas saya dapat sedikit berkurang. Saya berencana menggunakan binder ini untuk mencatat dan menulis puisi, catatan, ide cerita, apa pun itu. Rasanya pasti menyenangkan bila memiliki satu buku penuh berisi draft puisi, cerpen, atau sekedar kalimat-kalimat manis yang terlintas di kepala.

Saat ini binder tersebut baru terisi sedikit karena ternyata saya lebih suka menulis (mengetik) di komputer tablet karena saya bisa langsung menyimpan, mengirimkanya melalui email, bahkan mencantumkannya di blog saya. Hahaha. Agak menyedihkan karena menulis hari-hari ini bukanlah benar-benar menulis. Teknologi membuat mengetik menjadi pilihan yang lebih menyenangkan dan memudahkan daripada menulis dengan pena dan kertas. Tapi, saya yakin menulis tetaplah istimewa dan memiliki kenikmatannya sendiri. Ide dan kerangka cerita lebih enak dituliskan langsung dengan pena dan kertas, bukan dengan sentuhan alfabet di layar tablet. Jadi, saya yakin kelak binder ini akan dipenuhi catatan-catatan dan ide-ide yang lahir dari perkawinan pengalaman dan alam pikiran. 🙂

23 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 23

Advertisements

Pembatas Buku Wayang

Saya sedang cinta-cintanya dengan wayang. Rasa cinta itu diikuti dengan rasa penasaran yang besar karena dangkalnya pengetahuan saya soal wayang. Penasaran yang mengusik itu bisa sedikit ditenangkan setelah saya berkunjung ke Museum Wayang di kawasan Kota Tua Jakarta.

Awalnya saya tidak tahu ada Museum Wayang di kawasan Kota Tua tersebut. Saya saat itu memang berencana mengunjungi museum-museum di Jakarta. Seorang teman lalu memberi tahu saya bahwa ada lima museum di kawasan Kota Tua yang seluruhnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Salah satu di antaranya adalah Museum Wayang. Ah! Saya langsung bersemangat. Saya akan mengunjunginya pertama kali sebelum museum-museum lainnya.

Pukul sepuluh pagi esoknya saya sudah berdiri manis di kawasan Kota Tua, berjalan lurus menyeberangi alun-alun luasnya menuju ke Museum Wayang. Museum ini terletak di sebelah kiri Museum Sejarah Jakarta atau biasanya dikenal dengan nama Museum Fatahillah. Pintu masuknya kecil saja dengan tulisan Museum Wayang berwarna perak di atasnya. Untuk masuk museum ini kita dikenakan biaya lima ribu Rupiah saja. Saya meminta ditemani seorang guide karena ingin mengetahui lebih banyak mengenai museum dan koleksinya. Untuk jasa guide ternyata tidak dikenakan tambahan biaya. Kita tinggal memberikan uang tip untuknya di akhir tur.

Daaaaaannnnn…. Tur tersebut sangat berkesan! Museumnya bersih dan rapi, koleksinya terawat dan diganti secara berkala. Saat saya berkunjung, koleksi yang sedang dipajang adalah koleksi wayang dari cerita Ramayana. Di sana saya mendapat penjelasan dan melihat secara langsung berbagai jenis wayang dari seluruh daerah di Indonesia, negara tetangga kita, hingga negara-negara di belahan barat bumi ini, seperti Amerika, Spanyol, dan Rusia, termasuk wayang favorit saya. Saya sangat menyukai wayang kulit Jawa. Menurut saya wayang kulit Jawa memiliki proporsi yang paling indah, kaku tapi terlihat tegas, dan berkarakter kuat. Belum lagi teknik pewarnaannya yang detail dan menimbulkan decak kagum. Saya jatuh cinta.

Tur berakhir di depan sebuah stand oleh-oleh milik museum ini. Di sana dijual banyak cenderamata yang berbau wayang. Ada miniatur wayang, hiasan dinding, kaos, hingga pembatas buku. Nah, pembatas buku ini yang saya sukai. Saya membeli beberapa buah sebagai oleh-oleh dan juga untuk digunakan sendiri. Ada beberapa buku koleksi saya yang tidak berbonus pembatas buku sehingga saya kadang menggunakan tisu bersih, potongan kertas, hingga bungkus bekas permen sebagai penanda halamannya. Pembatas-pembatas buku wayang ini sangat cantik dengan warna-warna yang memanjakan mata. Desain dan potongannya juga unik dan manis. Jika ada kesempatan, saya ingin mengunjungi museum ini sekali lagi, menikmati koleksi-koleksinya yang lain sekaligus menambah koleksi pembatas buku wayang yang manis ini.

20130821-221739.jpg

21 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 21

Supernova Spesial

Saya termasuk orang baru yang menyukai tulisan-tulisan Dee Lestari. Dulu ketika Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh pertama kali rilis, saya termasuk yang penasaran. Saya mencoba membaca buku tersebut dan ternyata saya tidak paham. Iya, tidak paham. Mungkin karena saat itu kemampuan otak saya belum sampai hahaha. Jadilah ketika Supernova: Partikel terbit, saya baru mulai membaca lagi setiap buku karya Dee Lestari.

Buku ini spesial untuk saya. Kenapa? Ada dua sebab. Yang pertama karena buku ini adalah pemberian seorang teman kantor yang pindah kerja. Bukan teman, tapi atasan saya yang cukup dekat dengan saya layaknya seorang teman. Menjelang mengundurkan diri, ia bertanya kepada teman-teman dekatnya di kantor (termasuk saya) mengenai kenang-kenangan seperti apa yang kami inginkan dari dia. Saya lalu menyebutkan buku Supernova ini. Ia menyanggupinya. Saya juga menyampaikan permintaan khusus agar ia menuliskan beberapa kata di buku tersebut untuk memberikan kesan personal. Permintaan ini pun disanggupinya.

Alasan yang kedua adalah karena buku ini kemudian ditandatangani langsung oleh Dee Lestari di hadapan saya. Sekitar sebulan setelah menerima buku itu, saya mendengar akan ada book signing oleh Dee di Denpasar. Segeralah saya membawa buku-buku Dee koleksi saya untuk ditandatangani. Ketika sampai giliran buku ini untuk ditandatangani, saya sekilas memerhatikan Dee melirik kata-kata yang dituliskan teman saya itu. Tak disangka ia lalu tertawa kecil sambil membubuhkan tanda tangannya. Karena gugup bertemu idola, saya hanya bisa ikut tertawa canggung tanpa berani menanyakan sebab ia tertawa. Saya menduga-duga ini pasti karena kalimat bernada gerutuan yang dituliskan teman saya itu. Hahahaha.

20130820-233525.jpg

20 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 20

Tiket Konser

Saya punya kebiasaan buruk suka menyimpan barang-barang yang sesungguhnya sudah tak terpakai. Biasanya barang-barang itu berbentuk kertas. Nota laundry, struk ATM, struk belanja, tiket pesawat, hingga tiket konser.

Kali ini saya menemukan tiket konser Java Jazz tahun lalu. Saya jadi ingat inilah salah satu perjalanan saya yang paling nekat. Ceritanya begini. Salah satu jenis musik yang saya sukai adalah jazz. Sebagai penyuka musik jazz, event Java Jazz adalah salah satu yang ditunggu-tunggu. Lebih-lebih salah satu artis yang tampil pada Java Jazz 2012 saat itu adalah idola saya: Al Jarreau! Dia legenda dan saya pasti bodoh sekali bila melewatkan kesempatan untuk menikmati penampilannya.

Berbekal kebulatan tekad untuk menonton penampilan Al Jarreau, saya mulai menanyai teman-teman, siapakah yang kira-kira mau menonton konsernya bersama saya. Malangnya, tidak ada yang bisa, suka, ataupun mau. Jadilah saya sendiri yang berangkat, dari Denpasar ke Jakarta, tinggal hanya semalaam demi Al Jarreau. Kenapa saya senekat itu? Selain karena saya sungguh-sungguh mencintai karya-karyanya, pun karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Saya khawatir tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk melihat penampilan live-nya, di Indonesia.

Saya yang buta Jakarta ini sendirian berkeliaran di sana. Saat itu saya menginap di sebuah wisma di daerah Gambir atas rekomendasi seorang teman. Saya berangkat menuju tempat konser pukul 5 sore dan sudah menyusun rencana untuk menonton Depapepe, Andien, Endah and Rhesa, dan tentu saja Al Jarreau. Tapi ternyata jadwal pentas yang tidak tepat waktu membuat saya hanya bisa menyaksikan Maliq and D’Essentials, Depapepe, Trisum, dan Al Jarreau. Untunglah venue konser sangat “beradab”. Ada banyak relawan dan penunjuk lokasi yang memudahkan saya untuk mejelajahi keseluruhan venue tersebut tanpa tersesat walaupun sendirian.

Al Jarreau memulai konsernya menjelang tengah malam. Malam itu ia bermain diiringi George Duke Trio dan saya menontonnya dengan dikelilingi bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Hahaha. Saya kesulitan menemukan penonton yang seusia saya. Tapi tetap saja kami menikmati konser tersebut bersama-sama, bersenandung bersama. Walaupun dengan tertatih, Al Jarreau memberikan penampilan yang luar biasa. Suaranya begitu merdu dan kuat, improvisasinya luar biasa, ditambah lagi penampilan George Duke Trio yang tidak hanya sekedar mengiringi tapi juga melengkapi konser malam itu. Saya merasa beruntung, sangat beruntung bisa menonton penampilan legenda-legenda hidup musik jazz tersebut. Kenekatan dan kegilaan saya terbayar langsung dan tunai.

20130817-232322.jpg

PS. George Duke telah meninggal pada tanggal 5 Agustus 2013 yang lalu pada usia 67 tahun karena leukemia. Saya merasa sangat beruntung sempat menyaksikan penampilannya yang luar biasa. Semoga ia beristirahat dengan tenang. Karya-karya indahnya akan selalu dikenang.

20130817-232430.jpg

17 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 17

Gitar

20130814-213833.jpg

Entah kenapa tiba-tiba hari ini saya rindu bermain gitar. Saya tidak ingat kapan terakhir kali memainkan instrumen ini. Sudah lama sekali pokoknya sampai-sampai jemari ini kaku dan kepala ini tidak ingat satu konfigurasi chord pun.

Gitar ini adalah pemberian seorang paman saya. Gitar ini adalah miliknya yang kemudian diberikan ke saya ketika saya masih SMA rasanya. Pada masa itu saya memang sedang giat-giatnya belajar bermain gitar dan jadwal manggung dengan band saya sedang padat-padatnya. Hahaha. Ketika SMP hingga SMA dulu saya dan 3 orang teman perempuan lainnya bergabung dalam sebuah band. Kami sering tampil di beberapa acara dan ikut beberapa perlombaan band. Tenang saja. Kami tidak pernah menang, kok. Hahaha. Kami memang bukan band yang terbaik, yang punya skill tinggi, yang bisa memainkan lagu-lagu milik Dream Theater atau Metallica, tapi kami selalu bisa mencuri atensi penonton. Mungkin karena kami satu-satunya band yang seluruh anggotanya perempuan saat itu. Permainan kami tidak hebat tapi cukup bagus dan harmonis. Kami biasanya memainkan lagu-lagu top forty yang kadang diaransemen ulang dengan menambahkan permainan instrumen secara solo. Itu saja. Tidak pernah kami membawakan lagu-lagu dengan skill tinggi dan teknik-teknik rumit. Satu lagu yang mungkin cukup rumit hanyalah Livin’ on a Prayer milik Bon Jovi. Hahaha. Kami santai saja, yang penting menikmatinya.

Gitar akustik pemberian paman saya inilah yang sering menemani saya latihan. Saya punya satu gitar elektrik juga yang saya pakai saat tampil bersama band saya itu. Gitar akustik memang paling pas dimainkan saat latihan, mengulik lagu baru, maupun saat santai dan melamun saja di rumah. Kalau sudah pegang gitar akustik ini, biasanya ide-ide untuk menulis lagu bermunculan. Gitar ini pernah membantu saya menulis beberapa lagu yang catatannya sekarang hilang entah ke mana. Sungguh musisi yang amatir.

Sekarang gitar ini berdebu, berdiam saja di sudut kamar, senarnya putus satu dan beberapa yang lainnya sudah fals, minta diganti. Dan di saat seperti ini saya justru rindu memainkannya. Ah, mungkin sebaiknya besok saya membelikan senar baru untuknya dan juga sebuah buku kumpulan chord lagu-lagu populer terbaru. Supaya playlist-nya tidak ketinggalan jaman. :p

14 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 14

Koper Rusak

20130812-232548.jpg

Kenapa ada koper rusak di dalam kamar saya? Karena itu adalah koper kesayangan saya. Koper itu adalah koper pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Harganya tidak terlalu mahal memang tapi tetap saja saya merasa bangga bisa membeli koper ini dengan uang sendiri. Koper ini menjadi kesayangan saya juga sebab warnanya yang tidak biasa, yaitu ungu muda. Norak? Iya. Saya sengaja memilih warna norak ini. Selain terkesan cantik dan feminim, warna yang mencolok seperti ini akan membuat saya lebih mudah mengenalinya saat mengambil bagasi.

Namun koper ini tidak bernasib baik, bahkan saat ia pertama kali saya gunakan. Waktu itu saya menggunakannya dalam perjalanan ke Jakarta. Ketika ia keluar dari bagasi pesawat, saya mendapati bagian pinggirnya penyok dan sedikit robek. Aah.. Saya patah hati. Koper kesayangan saya langsung cacat pada kesempatan pertamanya bepergian. Saya kesal tapi cuma bisa mengelus-elus bagian cacatnya. Saya tidak melaporkan kerusakan tersebut kepada pihak maskapai karena menganggap cacatnya terlalu kecil, luka hati saya yang sebenarnya lebih besar.

Koper ini sempat menemani saya bepergian beberapa kali ke beberapa tempat. Terakhir saya bawa saat mengunjungi Bandung bulan Maret lalu. Semuanya berjalan baik-baik saja. Saat mengemasi barang-barang menjelang pulang, saya ingat waktu itu saya cukup sibuk mengurusi banyak hal dan tidak memerhatikan kondisi koper saya saat itu. Sebagaimana koper-koper yang ada saat ini, koper saya menggunakan kunci pengaman dengan tiga digit kode. Kode saat mengunci haruslah sama dengan kode untuk membuka yang telah kita tentukan sebelumnya dan hapalkan. Saat itu saya tidak menyadari bahwa kode angka yang terpasang bukanlah kode membuka yang saya hapalkan. Saya pasang begitu saja kuncinya tanpa mengecek terlebih dahulu. Fatal? Tentu saja.

Sesampainya di rumah, saya mencoba membuka koper tersebut. Gagal tentu saja! Saya masukkan ulang kode untuk membuka sebagaimana yang saya tentukan, ingat, dan hapalkan. Saya masukkan berulang kali dan berulang kali pula kunci itu tidak mau membuka. Saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya lakukan di Bandung dan teringat saya tidak mengecek kodenya saat mengunci koper tersebut. Saya yakin saat itu deretan angka yang terpasang pasti salah. Sial. Dengan tiga digit angka, ada ratusan konfigurasi angka yang harus saya coba sebelum berhasil membuka kuncinya (tolong koreksi saya bila salah) dan saya tidak punya waktu (dan kesabaran) untuk itu. Akhirnya jalan pintas yang saya ambil. Jalan pintas itu berwujud sebilah gunting yang menyobek kain di sekeliling koper saya, tepat di atas ritsleting. Habislah sudah. Tamatlah riwayatnya. Koper saya sudah lebih dari cacat, ia rusak. Semua karena kecerobohan saya.

Hingga hari ini saya masih menyimpan koper rusak kesayangan itu di kamar, berharap akan menemukan tukang reparasi koper yang canggih yang bisa memperbaikinya. Sungguh berat dan sayang rasanya jika harus membuang koper tersebut. Jadi, jika teman-teman tahu tukang reparasi koper yang jago, tolong kabari saya, ya. Terima kasih. :’)

12 Agustus 2013
#CeritaDariKamar Hari 12

Foto dan Surat Inspirasi

Seorang adik kelas saya sewaktu kuliah dulu terpilih menjadi Pengajar Muda angkatan keempat tahun lalu. Pengajar Muda adalah sebutan bagi pemuda-pemudi yang terpilih melalui program Indonesia Mengajar untuk mengajar di sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Program ini digagas oleh Bapak Anies Baswedan dan hingga saat ini jumlah peminatnya sangatlah banyak. Padahal, mereka ini nantinya akan ditugaskan di daerah yang sulit dijangkau alat transportasi, telekomunisasi, bahkan ada sebagian yang belum teraliri listrik. Hal tersebut sama sekali tidak mengecilkan niat baik mereka untuk ikut berperan aktif menyelesaikan permasalahan bangsa ini terutama masalah di bidang pendidikan. Setiap Pengajar Muda akan bertugas selama satu tahun, begitu pula dengan adik kelas saya ini.

Suatu hari adik kelas saya ini menghubungi melalui twitter. Sebelumnya ia telah beberapa kali bercerita mengenai sekolah dan murid-muridnya. Kali ini ia meminta saya untuk mengirim surat inspirasi yang ditujukan kepada murid-muridnya. Ia meminta saya untuk menceritakan pekerjaan saya, apa saja yang saya lakukan, bagaimana hingga bisa mencapai posisi saya saat ini, dan lain sebagainya. Ia juga meminta saya untuk mengirimkan foto untuk mereka. Tujuannya agar anak-anak ini terinspirasi dan memiliki pandangan yang lebih luas tentang apa yang bisa mereka cita-citakan, bahwa kalau saya bisa, mereka juga pasti bisa. Tak peduli di mana mereka tinggal atau fasilitas apa yang tidak mereka miliki. Saya sungguh senang mendapat tawaran ini karena saya pernah sangat ingin menjadi seorang Pengajar Muda tapi… Ah, sudahlah.

Namun, dikarenakan kesibukan di kantor, saya tidak langsung menulis dan mengirimkan surat. Ketika urusan kantor sudah tidak terlalu padat, saya akhirnya menuliskan surat tersebut. Saya ceritakan tentang pekerjaan saya, suka dukanya, juga tentang suasana di kantor saya. Saya juga mengirimkan foto-foto saya bersama rekan-rekan kerja. Dan sebagai permintaan maaf karena terlambat mengirimkan surat inspirasi tersebut, saya mengirimkan juga beberapa buku bacaan untuk mereka. Buku adalah satu-satunya hadiah yang terpikirkan. Saya mencintai buku dan karenanya buku adalah cara untuk menyampaikan rasa cinta saya untuk mereka, anak-anak yang cerdas dan luar biasa ini.

Tak lama kemudian datanglah surat balasan mereka. Saya luar biasa senang dan terkejut. Saya tidak menyangka anak-anak ini akan membalas surat saya. Mereka juga mengirimi saya gambar-gambar yang mereka warnai dengan sangat bagusnya dan beberapa foto mereka. Ketika membaca surat balasan tersebut, saya tersadar merekalah yang sesungguhnya sedang menginspirasi saya. Anak-anak itu masih belajar di kelas 4 sebuah sekolah dasar yang terletak di daerah yang hanya bisa dijangkau dengan 2 jam berperahu dari kecamatan terdekat namun surat-surat mereka sangat jernih. Mereka sangat pandai menulis dan menceritakan isi kepalanya. Ada seorang anak yang bercita-cita menjadi wartawan yang suratnya sangat mengalir dan ditulis dengan sangat baik. Ia pandai bercerita dan merangkai kata. Saya katakan padanya dengan kemampuan menulis seperti itu, ia pasti akan jadi wartawan yang hebat di kemudian hari. Ada juga yang setelah membaca surat saya, langsung bercita-cita ingin menjadi pengacara seperti saya. Hahaha.

Anak-anak ini mengingatkan betapa beruntungnya saya. Selama bersekolah dulu saya selalu memiliki semua fasilitas yang saya butuhkan, tidak pernah bersusah-payah, dan hidup dengan cukup dan menyenangkan. Dengan semua keistimewaan itu, saya kadang jadi malas berusaha, malas belajar, malas bersusah-susah. Saya jadi malu dengan anak-anak kelas 4 SD itu. Mereka tinggal di daerah yang susah dijangkau, dengan keluarga yang sederhana, namun semangat mereka tidak redup, cita-cita mereka tidak ada yang sederhana. Mereka sangat senang belajar, senang bermain tebak-tebakan, senang menyanyikan lagu nasional, senang bermain bola. Keceriaan mereka tidak kalah dengan mereka yang tinggal di kota besar dan berkecukupan. Saya hanya berharap semoga kepercayaan diri mereka terus bertumbuh sehingga ketika mereka menghadapi dunia luar, mereka tahu mereka juga sama baiknya dengan anak-anak lain di luar sana. Mereka luar biasa. Terima kasih. 🙂

20130808-233418.jpg

Surat dari Imam yang keren. Hahaha.

20130808-233551.jpg

Inilah anak-anak yang mengagumkan itu.

8 Agusus 2013
#CeritaDariKamar Hari 8