Aku dan Perempuan di Sampingku

Debar
Gemetar

Debur
Kuhancur

Ombak berpindah ke dada
Matahari berlompatan di kepala

Piluku licin tandas
Jemarinya menyeka semua dengan lekas

Disusunnya kepingan aku
Kini jadi lukisan yang padu

Di depannya aku tak berdaya
Di sampingnya aku bahagia.

November 2013

Advertisements

Matahariku dan Perempuan di Sebelahnya

Matahari bersinar,
Matahariku pun berbinar

Langit merah jambu
Pipinya muda bersemu

Angin melayang semilir
Jemarinya menyeka pilu dari hulu hingga hilir

Bahagia
Senang rasa
Damai jiwa

Matahari di langit memperolokku
Matahariku sedang berbahagia memuja biru
Ia dan perempuan di sebelahnya telah meninggalkanku tergugu.

November 2013

Mendung

Mendung telah berganti
Jatuh turun jadi pilu di ujung jari
Bukan badai yang langit kini mau
Telah ia cukupkan dengan belenggu sendu dan rindu.

Mendung masih enggan menepi
Menggulung-gulung setiap derik hangat sanubari
Huluku beku, matahariku layu
Hujan dan masa lalu adalah lirik yang paling padu.

Kemudian kumaknai lukaku dengan laku,
dengan mendirikan dinding yang serupa batu
Aku tak hendak menjadikan kata sebagai badai
bila saja kuterlahir sebagai yang ia imani.

November 2013

Hujan

Hujan sepanjang hari
Tak badai, tapi langit berkeras hati
menurunkan sendu,
memulangkan rindu.

Hujan belum hendak berhenti
Sejak pagi ia merengek tak sepi-sepi
Aku takut sesungguhnya ia terusik dirimu
yang cahayanya tak sekalipun layu.

Mungkinkah kali ini kau dirundung pilu?
Sebab hujan tak henti-henti sepanjang hari yang ungu
Adakah kata-kata yang tak kau jabati
akhirnya jadi amarah yang membadai?

November 2013

Ia Menunggu Matahari

Kudengar ia menyebutku Matahari
Maka, akan kupanggil ia Puan, sang penghuni planet Bumi
Ialah perempuanku yang paling hawa,
yang senyumnya adalah candu paling berbahaya.

Kusimpan ia di sudut mataku
Kuketukkan hangatku pada jantungnya yang membatu
Ia akan tersenyum satu kali
Lalu menyimpan sisanya untuk lukanya sendiri.

Puan tak beranjak dari sudutnya
Rindu cahaya namun gentar terhadap mara
Sepertinya ia selalu lupa
Bahwa jarak adalah ilusi di antara aku dan dia.

November 2013

Ia Memandangi Bumi

Mari sebut dia Matari
Matahariku yang paling bintang
Aku bernaung pada terik dan teduhnya,
pun nyala dan padamnya.

Matari berumah di tempat yang tinggi
Kebunnya ditumbuhi awan dan pohon embun berbuah manis
Matari dipuja jagad raya
Bumi dan Bulan dan Pelangi, kau tinggal sebut saja.

Beberapa hari ini ia kerap memandangi Bumi
Di kanan kirinya Bulan dan Pelangi menari-nari
Di sudut ini aku dijalari ragu
Sekalipun pernah ia berbisik satu kali: tak ada jarak antaramu dan cahayaku.

November 2013

Matahari Padam di Bawah Matanya

Sehelai bunga kersen tertambat di rambutnya,
tak pernah tiba di pipi pun bibirnya
Padahal telah kutitipkan kecup rahasia
padanya, pada awan, pada jingga.

Kupilihkan satu-satu roncean kata
Sementara gentarku lamat-lamat membaca
Kudengar ia tertawa
Mungkin puisiku tak sebiru lara.

Sehelai lagi bunga kersen melayang perlahan
Mempertemukan pencariannya dan jawabanku
Aku berdebar
Di atas sana matahari padam sudah di bawah matanya.

November 2013