I have my father behind me

On this International Women’s Day, I wanna thank one person for making me who I am now: my father.

I hear and read words, comments, social media posts about how women should behave, should act, about devilish and scary career-women or useless stay-at-home ones.

But what my father has been teaching me all this time is how to be a badass woman and how a great man should act.

I always remember what he said when I was still very young, that because I am a woman, I will usually have a weaker body compared to a man so that I have no other option than to be smart.

He always put my education first. I was not allowed to skip classes as far as I could. Although he was busy working, he managed to help me with my homework (he was pretty cool at social science!) when my mother could not, turned the television off when my study time came. He even took a leave and accompanied me during my first day at college, telling me to never be intimidated by and get scared of my seniors because they were actually not always that cool and smart. Hahahaha.

Coming from a farmer family in a small village in East Bali, it is a big pride for my father to be able to finish college and work as a law enforcer. Given the background, he once told me that if he could get his bachelor degree, then I should get at least a master or I should be ashamed of myself.

He encourages me to pursue higher education, so how could strangers tell me the otherwise?

My father told me that a woman had to be independent despite her marital status. A woman must empower herself, building her career if she works and continuing to enrich her knowledge while taking the best care of her family if she stays at home.

A woman should not be powerless so why should I buy the otherwise?

My father is also a kind of man who happily does domestic works.

When I was in school, I often found my father and mother, who is a stay-at-home mom, washed our clothes together at five in the morning. He sets a rule at home that everyone must wash their own dishes after using them and he never leaves his dirty dishes at the kitchen sink.

He also cooks. Sometimes he does not allow my mother to help, partly because he thinks he cooks some food better than her. Hahaha. But he does! And my mother is happy too because she can take some time to relax or do other things.

My father shows me that men and women can share duties. So, why do I let strangers tell me the otherwise?

My father listens to what I say, encourages me to speak my mind up, to be logical, to be critical, to be brave and aiming high. Why should I do the otherwise?

I know my father is my privilege, especially in this situation when several men see women as nothing but complementary objects. Yes, I use the word “object” because I lose count of how many times we are compared to candies, fruits or any other goods for no good.

My father has set the bar high and I have no plan to lower it.

So, happy International Women’s Day! May we all be braver, stronger, tougher and happier in everything we do. Everything.

Jakarta
March 8, 2017.

a late post adressed to you

it’s painful seeing “It’s (your name) birthday today!” on my Facebook notification in the morning of my birthday so i decided to unfriend you.

although I didn’t see such a notification again this year, still my mind came across to you, to how our just-fine relation turned sour — a thing i can’t tell why until now.

some people around me sometimes still talk about you, waking up a dead man from his grave called memory. and i’ll just take some peanuts and munch them or sip my wine, swallowing all the pain.

your presence fades away as the time goes by but i never have the gut to say that i’ve moved on because i don’t always have peanuts or a glass of wine near me to help me digesting all the shakes in my muscles and groans in my tummy every time a thought of you visits me or is brought to me by friends, tv shows or (your) colleagues.

the memories of you are kept at the corner of my brain. they’re dusty, seldom revisited as days and deadlines successfully make me busy. but i can’t say i’ve forgotten you because that particular bus stop i sometimes pass by has the view of your office tower and before i can stop it, my mind has already started guessing what are you doing now.

details about you evaporate layer by layer but i find out that they’re still hanging in the air when my ojek passes by a roasted chicken food-stall where we once had lunch and i watched you patiently slice your steak into pieces before eating it. i just found out, years after the day, how far the place is from the airport, the destination where you would drive me to that afternoon.

thoughts of you sometimes pop up in my mind when i see a signboard of a securities firm, whose name bears yours, near a place where i usually have events to cover. but sometimes i was just running late so i didn’t have a chance to land even a glance to the signboard and your ghost didn’t visit me at the time.

beside the time, living in the city might also heals the wounds as special things and places become common things and places if i see them on a regular basis.

and now, as we’re close to the end of january, i will have no reason to think about you anymore (and i should be thankful about that) for the rest of the year. we’re walking our different paths, so close yet so far away, keeping them out of crossing each other so lives can go on.

finally, allow me to wish you happiness, peacefulness.

and happy birthday.

jakarta, january 2017

Hari yang Gugup

Seiring bertambahnya usia, saya semakin merasa ingin menghindari hari ulang tahun saya. Bukan karena saya takut atau tidak mau menjadi tua, tapi karena kecanggungan yang saya rasakan tiap kali orang-orang mencurahkan perhatiannya pada saya, yang biasanya memuncak ketika hari ulang tahun tiba.

Berdiri di bawah lampu sorot membuat saya gugup dan tak nyaman. Tidak berbeda dengan ulang tahun kali ini.

Saya melewati detik pertama hari ulang tahun saya dengan menonton pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 sambil dengan cemas berharap tidak ada kawan atau sanak keluarga yang dengan sengaja begadang untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Saya akan merasa sangat tidak enak. Hahahaha.

Untungnya sampai saya selesai baca-baca berita mengenai pelantikan tersebut sekitar pukul setengah dua pagi, notifikasi di telepon seluler saya sepi!

Baru pada paginya seorang kawan baik yang sedang bertugas di Bali menelepon saya. Dia bilang dia lihat InstaStory saya yang berisi foto-foto pelantikan Trump termasuk screen capture halaman indeks pasar saham dunia dari aplikasi Bloomberg saya ketika kemudian reminder-nya mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya.

“Hari ini lu seneng-seneng, ya. Jangan kerja. JANGAN KERJA,” katanya. Hahahaha.

Setelah itu, aplikasi pesan singkat mulai dipenuhi ucapan selamat dari kawan kuliah dan rekan kerja (terima kasih, Facebook!).

Jujur ya, teman-teman, saya sengaja tidak segera membuka pesan-pesan itu karena merasa perlu mempersiapkan diri untuk menerima segala curahan perhatian kalian yang begitu baik. Terdengar berlebihan tapi begitulah adanya.

Ketika kawan-kawan dekat saya menelepon dari Bali dan Yogyakarta setelahnya pun, saya berusaha mengalihkan pembicaraan ke urusan pekerjaan atau menanyakan bagaimana situasi liburannya. Ketika rekan-rekan kerja memberi kado, saya menunda-nunda untuk membukanya.

Saya sungguh payah memang.

Tapi pada akhirnya, malam ini, saya membaca, mengingat-ingat kembali pesan-pesan yang kalian kirim dan sampaikan secara langsung dan mulai menghitung kalian sebagai juga anugerah-anugerah yang sampai dalam hidup saya.

Sungguh bagi saya yang pelupa, menemukan fakta bahwa banyak orang mengingat saya adalah suatu hal yang sangat besar, yang mungkin saya sendiri tidak mampu mencernanya. Hati saya mungkin masih kurang lapang, hati saya mungkin terlalu keras.

Sepertinya hanya itu penjelasan yang masuk akal untuk kecanggungan dan gugup yang saya rasakan tiap kali hari ulang tahun tiba. Tetapi, sungguh, saya sangat mensyukuri kehadiran dan perhatian kalian: keluarga, kawan, rekan kerja.

Saya percaya bahwa setiap perbuatan dan harapan akan kembali pada diri sendiri. Karenanya, semoga segala harapan dan perhatian baik kalian segera menemukan jalan kembali ke diri kalian sendiri.

Terima kasih.

Jakarta, 21 Januari 2017


Prissa, teman saya, mengirimkan ini pagi-pagi dan, voilà, there was my first cry of the day.


Malam ini saya menemukan IBG Wiraga (Hege) mengirimkan gambar ini lewat Facebook. Terharu lagi. :’) Terima kasih. 

Janda dan LGBT

Menurut saya status janda punya posisi yang sama dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual) di masyarakat: sebuah aib. Ya, kan?

Di suatu Kamis malam saya tiba-tiba menyadari betapa keputusan saya untuk bercerai dulu bisa jadi serupa dengan keputusan come out kawan-kawan LGBT saya. Well, mungkin pergulatan dan beban batin saya tidak seberat rekan-rekan tersebut tapi saya pikir kurang lebih sama.

Menjadi seorang janda beranak satu di usia muda sudah jelas adalah bahan gunjingan dan mungkin celaan bagi orang-orang di lingkungan sekitar saya. Bagaimana tidak? Kolom status perkawinan yg berbunyi “Janda” di sebuah dokumen resmi pemerintah bernama Kartu Tanda Penduduk saja sudah berganti jadi “Cerai hidup”. Mungkin untuk memperhalus diksi.

Lalu, apa kabar gunjingan informal di kala tidak ada kegiatan?

Selain itu, pernah suatu kali seorang kawan memandang saya dengan tak enak ketika seorang teman lainnya secara tak sengaja menyebutkan judul lagu yang ada kata “janda”-nya. Woles, guys.

Fase-fase denial saya sudah lewat, sih. Terima kasih kepada orang tua saya yang tidak pernah membuang saya, seburuk apapun kondisi saya. Khususnya untuk Ibu yang suatu malam berkata, “Ibu akan selalu ada membelamu dari orang-orang yang merendahkanmu”.

Juga mantan chief editor di media cetak tempat saya bekerja. Beliau selalu bilang “Oh, kamu yang anak satu suami nol, kan?” ke saya di masa-masa probation dulu.

Sebagian kawan berjengit mendengar saya mengutip ucapan chief editor itu. Saya juga sempat terpana awalnya ketika Beliau mengucapkan itu di kelas yang dipenuhi rekan-rekan cub reporter. Namun kemudian saya merasa biasa saja karena toh yang dia bicarakan adalah kebenaran juga.

Saya lalu menggunakan status janda tersebut sebagai benteng perlindungan dari lelaki-lelaki yang hendak berniat tak baik. Saya selalu bilang di muka kalau “saya adalah seorang single mother“.

Buat saya dengan berterus terang seperti itu, lelaki yang sungguh ingin berteman dengan saya akan tetap maju jalan. Tetapi, mereka yang memelihara udang di balik batu tentu akan mundur teratur. Sejauh ini trik tersebut berhasil, sih.

Mungkin hal seperti itu juga dialami kawan-kawan LGBT saya. Tentu sangat berat berterus terang di tengah-tengah komunitas yang belum bisa menerima mereka apa adanya, yang merasa lebih suci karena mereka seragam dengan yang lebih banyak, yang merasa dia yang berbeda harus berubah jadi sama dengan mereka bagaimanapun caranya, sebesar apapun pengorbanannya.

Tetapi, teman-teman, jangan sedih. Dengan menjadi dirimu sendiri, kamu akan bisa dengan lebih mudah mengetahui mana orang-orang yang sungguh menyayangimu dan mana yang hanya ingin jadi lebih tinggi daripada yang lain.

Sampai saat itu tiba, silakan ingat ada perempuan yang lebih senang ber-KTP janda daripada cerai hidup kapan saja ketika kamu merasa tidak berdaya. Siapa tahu kamu bisa sedikit tertawa.

Dih. Pede amat, Prim.

Jakarta, Februari 2016

What’s luck?

  

Linda’s house, where I spent three days and two nights during my stay at the Ciliwung riverbanks on Feb. 


I counted myself lucky to be placed at a comfortable house in Bukit Duri Tanjakan 1, a kampong in South Jakarta which is located along the banks of Ciliwung River, during The Jakarta Post’s Cub Reporters Live In program. 

 

However, The Post’s Senior Managing Editor Kornelius Purba chided me saying that I should have felt unfortunate as I missed the hardship in my first confrontation with poverty while a couple of my fellow cubs had to sleep in open air under a flyover with a community of trash-pickers.

 

I stayed with a widow and her three daughters in a shabby three-by-three meter two-story house. Linda, the mother, has been living in the house for decades with her family. Her husband had passed away last year. The first-story of the house is utilized as living room, dining room, business premises (Linda sells potato and sweet potato chips, fried sausages and nuggets) by day, and a space to sleep with a bedcover spread out on the floor by night, although there is a bedroom upstairs with a thick spring-bed. 

 

“You can sleep upstairs with Susan, my oldest daughter,” Linda told me, ticking one of my main concerns off every time I stay overnight in a new place. I wondered if there is a toilet in the house and what it will be looked like so that I asked if I can use their toilet.

 

What I found was a pleasing fact. 

 

The bathroom is located adjacent to the house, no more than one meter from the river, and there is a hand pump like the one I had when I was living in East Nusa Tenggara. The interesting thing was that the lighted 1.5 square meters room with one squat toilet and two plastic buckets for water was clean in look and fresh in smell compared with wet floor and foul odor in most toilets of some Jakarta’s malls. 

 

I could do some kind of contemplation near the bathroom in the morning by looking at the stream of Ciliwung River while waiting for my turn to use the toilet. I found this as a luxury as living in a hectic part of Jakarta gives me no place and time to contemplate.

 

Isn’t it a dirty river? You may be right but different with Ancol beach in North Jakarta where luxurious apartments and houses were built, the river was not smelly! All I could feel was just breezy and cool air.

  


Most of Jakarta’s kids should also envy kids in Bukit Duri Tanjakan 1 kampong for having space to play and socialize.

 

The kampong is divided by a 3 meters alley where kids and teenagers play and chat in the afternoon after the schools finished. 

  


Imam, a toddler, rode his tricycle back and forth with smiles on his face. Novi, the youngest daughter of Linda, gathered with other girls from the area and talked about their schools, sometimes about soap operas on television while mothers drew arisan (a lottery arranged by some people for a certain period of time). A group of young men was seen playing soccer at a corner of the alley with their neighbors watched them while munching meatballs soup.

  

 

Kinship in the area is still strong. The neighborhood chief Mulyadi said that his people have been living together side by side for decades so they know each other very well.

 

“If someone passes away, the neighbors will help the deceased’s family preparing everything needed, such as building tents, cleaning the house, preparing food, and so on,” said the 42-year old man who has been serving the chief tenure for 11 years.

 

This is something you can hardly find in a neighborhood where wealthy people live independently and get busy with their own works and businesses, like maybe some of us. We seldom talk with our neighbors and even do not know them. Living in a poor situation where people have almost nothing in possession makes them rely on each other and grow the strong kinship among themselves.

 

So, back to the question; what is luck?

 

A mentor of mine said that luck is a matter of hard work. Linda, whose two of her daughters already have good jobs to support the family, has worked hard to be at her current modest economic condition where she is able to have clean house and bathroom.

 

To me, perhaps luck is also a matter of point of view. As Purba said, sleeping on a spring-bed with blanket and fan is an unfortunate in a living-in-poverty program while I see that as a fortunate compared with situation faced by my fellows who slept under the open sky with dozens of cats and rats. 

 

Further, Purba told the cubs that those so-called unfortunate people are actually the lucky ones for they have fewer choices to be considered in their lives. To me, as long as you have a proper bathroom, you are lucky!

  

February 2015

Kepada Kekasihku Kelak

Semoga kau tidak mendengar kata pemuda-pemuda tanggung yang merasa memahami dunia setelah menaklukkan puluhan wanita padahal dunia jauh lebih besar dari sekadar urusan percintaan dua manusia apalagi isi celana.

Aku membayangkan kau akan gemar membaca atau paling tidak berpikiran terbuka, mendengar, dan tak ragu belajar. Setiap dari kita akan sekali waktu jatuh dalam kesalahan; semoga kita punya nyali untuk meminta maaf dan tak mengulangi, tak bersembunyi di balik punggung mereka yang bisa jadi tak tahu siapa kita.

Semoga kau juga gemar menertawai kecerobohan dan kebodohan yang kau perbuat sendiri, tak memaki-maki apa yang tidak kau ketahui, dan mencoba mengerti yang tak kaupahami. Dunia ini sungguh teramat luas untuk pikiran-pikiran sempit.

Aku berdoa agar kau tetap memelihara kanak-kanak dalam dirimu. Kita akan berlarian di trotoar jalan utama, menari kegirangan di bawah gerimis, menyanyi dan tertawa setelah pertunjukan; tak peduli pada sekitar yang ganti menunjuk-nunjuk kita.

Semoga kaudatang padaku ketika kau sedang menjalani pekerjaan yang menjadi kecintaanmu sehingga kita bisa saling berbagi cerita tentang cinta; cintaku pada kertas-kertas dan pena, cintamu pada apapun yang sedang kaulakukan sepenuh jiwa. Aku membayangkan matamu akan berbinar, semangatmu akan menular, setiap kali kauceritakan hari-hari kerjamu.

Bila kau lelah bekerja, semoga kau punya kesenangan yang mengalihkan penat atau menyembuhkannya, yang bisa kaukenalkan bila kebetulan ia asing bagiku, atau yang bisa kita lakukan bersama karena ia sama-sama hobi kita. Kau akan punya waktumu sebagai manusia, aku akan punya waktuku sebagai manusia. Kita akan baik-baik saja walau tak setiap waktu berdua.

Semoga kau melihat setiap dari kita sedang berpindah dan membawa miliknya masing-masing. Semoga kita akan bisa berbagi beban, menyeret koper-koper kita seolah sedang pergi liburan.

Semoga kita bisa berbagi musim semi di Leiden atau musim gugur di Melbourne, sekadar membaca diktat atau mengerjakan tugas-tugas kuliah agar tak kehilangan beasiswa; atau bisa saja kau membagi ceritamu padaku soal nikmatnya bagel di New York atau mahalnya roti lapis di London yang menguras isi dompetmu yang hanya diisi kiriman dari pemerintah; sebab aku yakin, Sayang, kau cukup pandai untuk tiba jua di sana.

Kepada kekasihku kelak,

Semoga kau tidak mendengar kata pemuda-pemuda tanggung nan dikenal namun sesungguhnya tak percaya pada dirinya itu, pemuda-pemuda harapan bangsa yang menguasai relasi hanya ketika dipelihara layaknya bonsai. Mereka hanya akan menitikkan air di mata ibu mereka dan menurunkan hujan di dada ayah dari perempuannya.

Jakarta, Maret 2015

Surat untuk Bli Adit

Gianyar, 20 Desember 2014

Dear Bli Adit,

Masih ingat kejadian di Kopi Kultur Kerobokan? Ketika untuk kali pertama aku bertemu dengan Bli yang sebelumnya kukuntit saja di Twitter? Aku masih ingat betapa konyolnya kelakuanku waktu itu: minta foto bareng (Sebentar. Ketawa dulu). Proses minta fotonya pun “maju mundur” karena malu. Edharu dan Yuna waktu itu yang mendorongku supaya berani. Dan terjadilah gambar ini. Hahaha.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/6c9/36661288/files/2014/12/img_3440-2.png

Aku masih ingat ketika aku mengenalkan diri, Bli langsung ingat akun Twitterku. Terus terang aku tersanjung tapi pura-pura jaga sikap padahal jantung melompat-lompat.

Aku agak yakin Bli sudah bosan mendengar ceritaku tentang sajak-sajakmu yang membuatku menulis lagi. Perlu kamu ketahui, Bli, semua cerita itu adalah benar adanya. :p Mungkin kamu kadang menyebalkan, suka tiba-tiba murung, suka ubah-ubah lagu orang seenaknya, tapi kamu juga adalah pintu yang membuka untukku. Terima kasih telah menunjukkan hal yang menjadi kecintaanku, terima kasih telah menarikku ke dalam lingkaranmu, mempertemukanku dengan orang-orang hebat, membukakan pintu yang sebentar lagi akan kulewati. Ya, menulis kini akan jadi bagian besar dalam hidupku, akan jadi penghidupanku walaupun setelah ini jalan di depan mungkin akan berbatu, terik, dan melelahkan. Tetapi, Bli, bukankah mencintai itu kadang terasa sakit karena ia nyata? Begitu pun mimpi. Bila hidup mulai terasa perih, mungkin itu mimpi yang sedang berupaya menjadi.

Karena itu, Bli, jika suatu saat kamu merasa sendiri dan tak diingat, ingatlah bahwa ada seseorang yang selalu ingat padamu. Setidaknya setiap kali ia mendengar Teman Hidup-nya Tulus. =))

Salam untuk Sydney! ^^v
Prima Wirayani