Setelah

:nn

ingin sekali kukatakan padamu bahwa hitam pun warna
sehingga kau tak perlu merasa bersalah telah pernah tiba
sebagai mendung
sebagai kelabu
sebagai selaput tipis embun di sepasang mataku

kita telah bersepakat bahwa setiap awal berjodoh akhir
hanya, ketika ia tiba, kita ternyata tak pulih bersama
dan itu biasa, sayang

setelah sekian lama, ingin sekali kukatakan padaku bahwa menyerah pun butuh keberanian
sehingga aku tak perlu merasa bersalah telah menyerahkanmu
begitu saja
kembali pada dirimu

jakarta, oktober 2016

Inti

Engkau adalah inti dari kecemasan-kecemasan yang menghalangiku dari tidur.

Mengapa aku harus cemas?
Sebab engkau kini punya andil menentukan apakah aku harus sedih, senang, takut, sakit, pulih.
Dan lakuku mendadak beku, tak sanggup mencegahmu ambil kendali.

Tahukah kau bahwa inti dari setiap pertanyaan adalah sesungguhnya dirimu?
Namun aku begitu cemas untuk mengakui kau mulai jadi isi segala puisi.

September 2016

The Language

Love is a language I can’t speak
I mumble, struggling to find the right words to express myself
I stumble over words, trying to define what these beating heart, rushing blood are
I’m confused of what bravery means, of how wary pronounced
or what I should call this feeling when nights come and you sleep under my eyelids.

Love is a language I can’t comprehend
Is it the language of your sights, of your acts, of your smiles?
Is it what spoken by feelings, by yearnings, by those that falling?

Love is a language I don’t master
I probably misunderstood your sayings
I possibly mixed up things, like yelling I don’t want you when I actually needed you.

We(s)t Jakarta
August 2016

Air

Matamu kolam renang Olimpiade dibangun di atas tanah milik orang papa yang dipaksa pindah ke pinggir kota demi pembangunan:
luas, basah, terkadang air di dalamnya meluap hingga ke tepi, membuat tergelincir bila tak hati-hati.
Orang-orang memuji sepasang matamu sebagai yang megah dan dalam
Aku justru melihat resah di dasarnya, menempel bagai noda lumut di muka putih tegel mahal.

Lenganmu samudera lebih luas dari Hindia, berwarna biru, tenang, dan penuh rahasia
Peragu sepertiku hanya akan mencelup-celupkan kaki di bibirnya sembari menebak-nebak apa dan siapa yang pernah tinggal di dan pulang ke dalamnya.

Dadamu gemuruh Niagara
runtuh lalu luruh jadi anak-anak sungai
debur meniup hidup, meluruh keruh.

Aku sanak orang papa ingin melompat ke dalam matamu, lenganmu, dadamu
namun aku tak bisa berenang dan takut pada kematian.

Agustus 2016

Gulali

Engkau biru muda, lembut, dan membuatku tersenyum,
begitu saja,
padahal demam sedang menyerang.

Engkau berbau seperti gulali,
manis,
dan membuatku tersenyum walau lidah terasa pahit.

Engkau membuatku tersenyum,
berdebar,
berkeringat dingin,
sehingga tak lagi tahu yang jatuh apakah sakit ataukah cinta.

Jakarta, Juni 2016

Yang Engkau Tidak Tahu

Engkau tahu aku selalu menyukuri kemacetan yang mengurung kita dalam kotak beroda dan canda
Atau resto makanan cepat saji asal Amerika yang jam bukanya mengizinkan kita bertemu lebih lama
Atau pesan editor yang membuat kita menulis hal yang sama.

Tapi engkau mungkin belum tahu aku juga kadang membenci kota yang sepi ditinggal penghuni merayakan Idul Fitri
Atau penumpang kereta api yang enggan memberi kursi untuk seorang ibu menggendong bayi
Atau bar di Cikini yang memutar lagu favoritmu
Lebih-lebih, aku sering membenci diri sendiri yang masih melihatmu dalam film, kopi, dan bir.

Juli 2016
Jakarta

Menembus Malam

Engkau berjalan menembus malam dengan lampu taman gedung pemerintah berkedip redup di kanan kiri sepasang lenganmu yang bebas mengayun angin.

Bahumu menopang lebih dari berat tas kulit cokelat muda yang tak bisa kuingat di sisi tubuh sebelah mana ia bergayut manja — sebab degup jantung membuatku gugup — sebab malam nanti kau telah harus memikirkan apa untuk esok pagi.

Engkau berjalan di setapak halaman gedung pemerintah yang mungkin dibangun dari pajak keringat orang tuamu di kampung halaman,
dan aku memilih trotoar rompal yang pecahan ubinnya menusuk-nusuk sol tipis sepatuku, membiarkan pikiran-pikiran tentangmu mengetuk-ngetuk keras kepalaku.

Aku membayangkan sisa tawamu ketika kita saling melambai tangan menguap,
“selamat tinggal”-mu menggantung di udara lalu senyap.
Kau kembali pada pikiranmu dan bayang-bayang apapun yang kadang mengintip dari balik kacamata.

Berjalan saja.

Menembus gulita.

Jakarta, Juni 2016