Hari yang Gugup

Seiring bertambahnya usia, saya semakin merasa ingin menghindari hari ulang tahun saya. Bukan karena saya takut atau tidak mau menjadi tua, tapi karena kecanggungan yang saya rasakan tiap kali orang-orang mencurahkan perhatiannya pada saya, yang biasanya memuncak ketika hari ulang tahun tiba.

Berdiri di bawah lampu sorot membuat saya gugup dan tak nyaman. Tidak berbeda dengan ulang tahun kali ini.

Saya melewati detik pertama hari ulang tahun saya dengan menonton pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 sambil dengan cemas berharap tidak ada kawan atau sanak keluarga yang dengan sengaja begadang untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Saya akan merasa sangat tidak enak. Hahahaha.

Untungnya sampai saya selesai baca-baca berita mengenai pelantikan tersebut sekitar pukul setengah dua pagi, notifikasi di telepon seluler saya sepi!

Baru pada paginya seorang kawan baik yang sedang bertugas di Bali menelepon saya. Dia bilang dia lihat InstaStory saya yang berisi foto-foto pelantikan Trump termasuk screen capture halaman indeks pasar saham dunia dari aplikasi Bloomberg saya ketika kemudian reminder-nya mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya.

“Hari ini lu seneng-seneng, ya. Jangan kerja. JANGAN KERJA,” katanya. Hahahaha.

Setelah itu, aplikasi pesan singkat mulai dipenuhi ucapan selamat dari kawan kuliah dan rekan kerja (terima kasih, Facebook!).

Jujur ya, teman-teman, saya sengaja tidak segera membuka pesan-pesan itu karena merasa perlu mempersiapkan diri untuk menerima segala curahan perhatian kalian yang begitu baik. Terdengar berlebihan tapi begitulah adanya.

Ketika kawan-kawan dekat saya menelepon dari Bali dan Yogyakarta setelahnya pun, saya berusaha mengalihkan pembicaraan ke urusan pekerjaan atau menanyakan bagaimana situasi liburannya. Ketika rekan-rekan kerja memberi kado, saya menunda-nunda untuk membukanya.

Saya sungguh payah memang.

Tapi pada akhirnya, malam ini, saya membaca, mengingat-ingat kembali pesan-pesan yang kalian kirim dan sampaikan secara langsung dan mulai menghitung kalian sebagai juga anugerah-anugerah yang sampai dalam hidup saya.

Sungguh bagi saya yang pelupa, menemukan fakta bahwa banyak orang mengingat saya adalah suatu hal yang sangat besar, yang mungkin saya sendiri tidak mampu mencernanya. Hati saya mungkin masih kurang lapang, hati saya mungkin terlalu keras.

Sepertinya hanya itu penjelasan yang masuk akal untuk kecanggungan dan gugup yang saya rasakan tiap kali hari ulang tahun tiba. Tetapi, sungguh, saya sangat mensyukuri kehadiran dan perhatian kalian: keluarga, kawan, rekan kerja.

Saya percaya bahwa setiap perbuatan dan harapan akan kembali pada diri sendiri. Karenanya, semoga segala harapan dan perhatian baik kalian segera menemukan jalan kembali ke diri kalian sendiri.

Terima kasih.

Jakarta, 21 Januari 2017


Prissa, teman saya, mengirimkan ini pagi-pagi dan, voilĂ , there was my first cry of the day.


Malam ini saya menemukan IBG Wiraga (Hege) mengirimkan gambar ini lewat Facebook. Terharu lagi. :’) Terima kasih. 

Advertisements

Antara Slipi dan Fatmawati

:nn

Di ruas Jalan Sudirman
Di pundak jalan melayang
Sepasang Slipi dan Fatmawati bergandengan.

Itu rumah kita, kataku
Dan kau meledak dalam tawa,
bunga api yang sama yang meletup dalam dada ketika kau menyelipkan jemarimu di antara jemariku, atau ketika menemukanmu tersenyum menanti di halaman kantor selepas jam kerja.

Tapi itu pula penanda kita akan segera berpisah jalan.
Aku harus berbelok ke kiri, kau lurus ke Fatmawati.

Kau memandangku — aku teringat mata Ibu yang tabah dan penuh pemahaman — lalu memilihkan jalan memutar untuk mengantarku pulang.

Aku masih menyimpan jernih matamu, walau selebihnya telah menguap seperti mimpi bertemu pagi.
Di hari-hari ini, kota telah jadi makam teramat luas tempat kenangan ditanam, luka dirawat, dan ziarah dijalankan di jalan-jalan utama, kadang tanpa sengaja, seperti setiap kali aku melintas di bawah Slipi dan Fatmawati.

Jakarta, Oktober 2016

Setelah

:nn

ingin sekali kukatakan padamu bahwa hitam pun warna
sehingga kau tak perlu merasa bersalah telah pernah tiba
sebagai mendung
sebagai kelabu
sebagai selaput tipis embun di sepasang mataku

kita telah bersepakat bahwa setiap awal berjodoh akhir
hanya, ketika ia tiba, kita ternyata tak pulih bersama
dan itu biasa, sayang

setelah sekian lama, ingin sekali kukatakan padaku bahwa menyerah pun butuh keberanian
sehingga aku tak perlu merasa bersalah telah menyerahkanmu
begitu saja
kembali pada dirimu

jakarta, oktober 2016

Inti

Engkau adalah inti dari kecemasan-kecemasan yang menghalangiku dari tidur.

Mengapa aku harus cemas?
Sebab engkau kini punya andil menentukan apakah aku harus sedih, senang, takut, sakit, pulih.
Dan lakuku mendadak beku, tak sanggup mencegahmu ambil kendali.

Tahukah kau bahwa inti dari setiap pertanyaan adalah sesungguhnya dirimu?
Namun aku begitu cemas untuk mengakui kau mulai jadi isi segala puisi.

September 2016

The Language

Love is a language I can’t speak
I mumble, struggling to find the right words to express myself
I stumble over words, trying to define what these beating heart, rushing blood are
I’m confused of what bravery means, of how wary pronounced
or what I should call this feeling when nights come and you sleep under my eyelids.

Love is a language I can’t comprehend
Is it the language of your sights, of your acts, of your smiles?
Is it what spoken by feelings, by yearnings, by those that falling?

Love is a language I don’t master
I probably misunderstood your sayings
I possibly mixed up things, like yelling I don’t want you when I actually needed you.

We(s)t Jakarta
August 2016

Air

Matamu kolam renang Olimpiade dibangun di atas tanah milik orang papa yang dipaksa pindah ke pinggir kota demi pembangunan:
luas, basah, terkadang air di dalamnya meluap hingga ke tepi, membuat tergelincir bila tak hati-hati.
Orang-orang memuji sepasang matamu sebagai yang megah dan dalam
Aku justru melihat resah di dasarnya, menempel bagai noda lumut di muka putih tegel mahal.

Lenganmu samudera lebih luas dari Hindia, berwarna biru, tenang, dan penuh rahasia
Peragu sepertiku hanya akan mencelup-celupkan kaki di bibirnya sembari menebak-nebak apa dan siapa yang pernah tinggal di dan pulang ke dalamnya.

Dadamu gemuruh Niagara
runtuh lalu luruh jadi anak-anak sungai
debur meniup hidup, meluruh keruh.

Aku sanak orang papa ingin melompat ke dalam matamu, lenganmu, dadamu
namun aku tak bisa berenang dan takut pada kematian.

Agustus 2016

Gulali

Engkau biru muda, lembut, dan membuatku tersenyum,
begitu saja,
padahal demam sedang menyerang.

Engkau berbau seperti gulali,
manis,
dan membuatku tersenyum walau lidah terasa pahit.

Engkau membuatku tersenyum,
berdebar,
berkeringat dingin,
sehingga tak lagi tahu yang jatuh apakah sakit ataukah cinta.

Jakarta, Juni 2016